Lewati Selat Hormuz Kini Berbayar, Iran Disebut Tarik Hingga Rp33 Miliar per Kapal
- ANTARA
Harga Minyak Melonjak Tajam
Kondisi ini turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga di atas US$100 per barel, naik sekitar 40 persen dibandingkan sebelum konflik pecah.
Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan inflasi global hingga potensi resesi, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Negara-negara di Asia menjadi yang paling terdampak, karena sebagian besar impor minyak dan gas mereka bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Tekanan Global ke Iran
Sejumlah negara kini mulai melobi Iran agar membuka kembali akses Selat Hormuz tanpa hambatan besar, mengingat jalur ini merupakan satu-satunya akses utama ekspor energi dari kawasan tersebut.
Namun, Iran justru menjadikan kontrol atas Selat Hormuz sebagai bagian dari tuntutan strategisnya dalam konflik yang sedang berlangsung, termasuk meminta pengakuan internasional atas otoritasnya di wilayah tersebut.
Dampak ke Indonesia dan Kawasan
Situasi ini juga berdampak tidak langsung terhadap Indonesia, terutama dalam hal pasokan energi dan biaya impor. Jalur distribusi minyak yang terganggu berpotensi meningkatkan harga BBM dan biaya logistik nasional.
Selain itu, kapal tanker dari berbagai negara, termasuk milik Pertamina, juga terdampak oleh situasi ini, meski pemerintah memastikan pasokan energi domestik masih dalam kondisi aman.
Selat Strategis yang Jadi Titik Panas Dunia
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Letaknya yang strategis membuatnya menjadi penghubung utama distribusi minyak dari negara-negara Teluk ke pasar global.
Namun, dalam situasi konflik, jalur ini berubah menjadi titik rawan yang tidak hanya berisiko secara keamanan, tetapi juga kini membawa konsekuensi biaya yang sangat tinggi bagi pelaku industri pelayaran.
Dengan kebijakan biaya hingga puluhan miliar rupiah per kapal, Selat Hormuz kini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga menjadi beban ekonomi baru bagi perdagangan energi dunia. (nsp)
Load more