Pemilu Israel Digelar, Pengamat Timur Tengah: Siapa Pun Pemenangnya, Nasib Palestina Tak Berubah
- Tangkapan layar tvOne - REUTERS/Amir Cohen
tvOnenews.com, Jakarta – Warga Israel mulai mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk memberikan suara dalam pemilihan umum (Pemilu) nasional yang digelar pada Selasa (27/10/2026).
Pemilu kali ini menjadi momen krusial sekaligus ajang penentuan nasib politik bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Diselenggarakan untuk pertama kalinya sejak eskalasi besar pasca-serangan 7 Oktober 2023, pesta demokrasi ini secara luas dipandang publik internasional sebagai referendum atas kepemimpinan Netanyahu.
Lantas, bagaimana efektivitas dan dampak hasil Pemilu Israel ini terhadap nasib rakyat Palestina?
- Reuters/Clodagh Kilcoyne
Menurut Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf, siapapun figur atau koalisi partai yang keluar sebagai pemenang di Israel, hal tersebut dipastikan tidak akan pernah mengubah penderitaan nasib rakyat Palestina.
"Siapapun pemenang pemilihan umum di Israel tidak akan mengubah nasib Palestina, karena sejak negara Zionis itu dibentuk pada 14 Mei 1948, tidak pernah ada satu pemerintahan pun, pemerintahan Israel pun yang mendukung terbentuknya negara Palestina, dan juga tidak ada satupun partai politik di Israel yang mendukung pembentukan negara Palestina," ungkap Faisal, kepada tvOnenews.com, Selasa (27/10/2026).
Faisal memperingatkan bahwa apabila Benjamin Netanyahu berhasil mempertahankan tampuk kekuasaannya melalui pemilu ini, eskalasi krisis kemanusiaan di Jalur Gaza diprediksi bakal semakin memburuk.
"Kalau misalkan Netanyahu menang lagi, maka Gaza akan makin menyedihkan, Palestina akan makin mengerikan," tegasnya.
- Anadolu
Ia merujuk pada tesis yang pernah ditulisnya pada tahun 2008 silam, di mana penyelesaian konflik kerap menemui jalan buntu akibat absennya dukungan serius dari peta kekuatan global serta minimnya terobosan konkret dari dunia Islam.
Lebih lanjut, Faisal menyoroti bahwa perjuangan kemerdekaan Palestina tidak akan menemui titik terang selama para pemimpin negara-negara muslim gagal menyatukan visi, kejujuran, serta keberanian politik untuk membela kepentingan bangsa Palestina secara nyata di kancah internasional.
"Sesuai tesis yang saya tulis pada 2008, Palestina itu cuma negara khayalan, karena memang tidak ada yang serius mendukung Palestina dan juga tidak ada terobosan yang dilakukan, terutama para pemimpin negara muslim punya satu visi yang sama, kejujuran dan keberanian untuk membela Palestina," pungkas Faisal Assegaf.
Load more