Nasib Warga Palestina Jika Gadi Eisenkot Terpilih di Pemilu Israel 2026
- REUTERS/Amir Cohen
Tel Aviv, tvOnenews.com — Beragam pertanyaan datang terkait nasib warga Palestina jika satu dari dua kandidat dalam Pemilu Israel 2026 yakni Benjamin Netanyahu atau Gadi Eisenkot terpilih.
Menurut hasil hitung cepat yang dilakukan sejumlah stasiun televisi di Israel, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot unggul tipis atas petahana, Benjamin Netanyahu.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa blok Gadi Eisenkot unggul dengan 52 kursi berbanding 50 untuk untuk koalisi yang dipimpin Netanyahu.
Mengutip dari Reuters, hasil hitung cepat tersebut menjadi kemunduran bagi pihak Benjamin Netanyahu yang telah memerintah selama hampir dua dekade di Israel.
Dengan unggulnya pihak oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, maka timbul pertanyaan terkait nasib warga Palestina jika sang mantan jenderal tersebut menang Pemilu Israel 2026.
Berikut ulasannya.
Dampak Positif untuk Warga Palestina
- Istimewa
• Pemberantasan Kekerasan Pemukim Yahudi di Tepi Barat
Berbeda dengan pemerintahan Benjamin Netanyahu yang cenderung membiarkan kelompok sayap kanan jauh, Gadi Eisenkot berjanji akan menggunakan militer dan aparat hukum untuk menertibkan pemukim ekstremis.
• Penolakan terhadap Aneksasi Total dan Emigrasi Paksa
Kampanye Eisenkot menolak rencana ekstrem dari menteri-menteri sayap kanan Israel yang ingin mengusir warga Palestina dari Gaza serta aneksasi total Tepi Barat
• Pendekatan Gaza yang Lebih Terbuka pada Diplomasi Internasional
Gadi Eisenkot lebih terbuka untuk menyetujui proposal gencatan senjata global. Ia juga bersedia membuka jalan bagi keterlibatan Otoritas Palestina (PA), teknokrat, dan pasukan perdamaian internasional untuk mengelola serta membangun kembali Gaza secara parsial.
• Potensi Kembalinya Pengungsi Internal
Sebagian warga Gaza berharap oposisi yang dipimpin Eisenkot akan lebih fleksibel dalam mengizinkan warga yang mengungsi kembali ke daerah asal mereka di dalam Gaza atau melewati pos-pos keamanan.
Dampak Negatif terhadap Warga Palestina
- REUTERS/Amir Cohen
• Tetap Menolak Solusi Dua Negara (Two-State Solution)
Pensiunan militer itu secara tegas menyatakan bahwa prinsip dua negara untuk dua bangsa adalah sebuah "kesalahan". Ia menolak berdirinya negara Palestina yang berdaulat penuh.
• Kontrol Keamanan Militer Penuh atas Wilayah Palestina
Konsep wilayah Palestina yang ditawarkan Eisenkot paling maksimal hanyalah sebuah "otonomi atau negara-minus" (state-minus), di mana kendali keamanan tertinggi atas wilayah udara, perbatasan, dan lembah Yordan tetap berada di tangan militer Israel.
• Komitmen Hancurkan Hamas
Eisenkot berikrar akan tetap melanjutkan operasi militer untuk mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza dalam waktu 18 bulan. Baginya, perang tidak akan selesai sampai Hamas dilucuti, yang berarti operasi militer berkekuatan tinggi di Gaza tetap berpotensi berlanjut.
• Pencipta Doktrin Militer yang Merusak (Dahiya Doctrine)
Sebagai mantan Panglima Militer (IDF), Eisenkot adalah perumus Dahiya Doctrine. Doktrin keamanan ini melegalkan penggunaan kekuatan militer yang tidak proporsional dan penghancuran infrastruktur sipil secara masif untuk menekan kelompok perlawanan. Rekam jejak keras ini membuat warga Palestina skeptis bahwa ia akan memedulikan aspek kemanusiaan di Gaza.
• Dukungan terhadap Blok Pemukiman Utama
Meskipun menolak perluasan pemukiman ilegal baru secara liar, Eisenkot tetap mendukung keberadaan blok-blok pemukiman besar Yahudi yang sudah ada di Tepi Barat, yang secara hukum internasional tetap dianggap ilegal dan mencaplok tanah Palestina.
Load more