Kadin: Pasar Domestik Kuat hingga Energi, Indonesia Punya Daya Tarik Investasi Global
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, memaparkan sejumlah faktor yang membuat Indonesia semakin menarik bagi investor global.
Mulai dari besarnya pasar domestik, akses pasar internasional yang luas, hingga ketahanan energi dan pangan yang semakin kuat.
“Kita bicara bahwa Indonesia itu menarik kenapa? Karena satu tentu mempunyai pasar domestik yang kuat. Jadi, kalau tidak salah 55 persen daripada ekonomi domestik,” ujar Anindya di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).
Ia merinci kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 25 persen, disusul investasi sebesar 20 persen. Kombinasi tersebut dianggap menjadikan Indonesia sebagai pasar besar sekaligus destinasi investasi.
“Pertumbuhan konsumsi 25 persen, 20 persen investasi. Jadi, pasar yang besar dan destinasi investasi,” katanya.
Selain kekuatan domestik, Indonesia juga dinilai unggul dalam kolaborasi internasional. Menurut Anindya, kerja sama dengan berbagai negara membuka akses pasar produk Indonesia ke tingkat global.
“Yang kedua, mempunyai akses pasar yang besar di luar negeri. Jadi, maksudnya Indonesia adalah juaranya berkolaborasi internasional. Seperti contohnya dengan Eropa, Kanada, Eurasia. Dan mudah-mudahan dengan Amerika, bertemu titik yang sangat baik buat kita,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang telah menjadi primadona di pasar global.
“Sehingga produk-produk kita yang sudah menjadi primadona bisa diteruskan. Entah namanya palm oil, alas kaki, garmen, elektronik, furniture dan lain-lain,” ungkapnya.
Anindya juga menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat energi di kawasan, sejalan dengan kebutuhan energi global yang terus meningkat, termasuk untuk digitalisasi dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Dan juga disampaikan bahwa Indonesia ini akan menuju kepada ketahanan energi yang kuat. Supaya bisa menjadi pusat karena apapun juga butuh energi,” katanya.
Ia mencontohkan kebutuhan energi AI yang sangat besar.
“Data center bicara mengenai digital. Yang paling penting dari data center adalah contohnya. Adalah energinya. Kayak kalau tidak salah, AI sendiri di Amerika aja butuh 250 gigawatt,” ujarnya. “Saya yakin Indonesia juga tidak kalah dari jumlahnya,” tambahnya.
Load more