MBG Disorot White House hingga Rockefeller, Kepala BGN: Kita Dipantau Karena Program Ini Pertama Kali di Dunia
- Ari Bowo-Antara
Jakarta, tvOnenews.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto menarik perhatian dunia internasional.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan perwakilan White House dan Rockefeller Foundation secara langsung mempelajari implementasi MBG karena dinilai sebagai terobosan baru yang belum pernah dilakukan negara lain.
Dadan mengatakan ketertarikan lembaga internasional itu muncul setelah melihat skala dan kecepatan pelaksanaan MBG yang melibatkan banyak mitra dalam waktu singkat.
“Ya sebetulnya ketika dari Rockefeller Foundation itu datang kan saya diminta Pak Presiden untuk menemani makan malam dan yang bersangkutan berbincang langsung juga dengan Pak Presiden di depan kami dan memang mereka menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Indonesia termasuk dengan metode yang baru pertama kali dilakukan di dunia ya,” ujar Dadan di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jawa Barat, dikutip Selasa (3/2/2026).
“Di mana pelaksanaan MBG bisa melibatkan demikian banyak mitra dan bisa berjalan demikian cepat dan saya kira itu menjadi kajian yang cukup menarik bagi mereka,” lanjut dia.
Menurut Dadan, perhatian internasional tersebut tidak berhenti pada aspek gizi semata.
MBG juga dipantau karena dampaknya yang signifikan terhadap pergerakan ekonomi di tingkat akar rumput.
“Yang jelas memang kita sekarang dipantau terutama dengan program ini kan terlihat ya bahwa selain kita melakukan intervensi pemenuhan gizi tapi juga ekonomi di masyarakat bergerak kencang karena uang yang kita turunkan langsung ke bawah,” ungkapnya.
Dadan membeberkan, hingga Januari 2026 saja, BGN telah menyalurkan anggaran sebesar Rp19,5 triliun untuk pelaksanaan MBG.
Dana tersebut, kata dia, langsung menggerakkan roda ekonomi lokal mulai dari sektor pangan hingga usaha penunjang.
“Dan sampai saat ini saja Badan Gizi sudah mengeluarkan Rp19,5 triliun untuk bulan Januari. Dan itu menggerakkan roda ekonomi. Tidak hanya kebutuhan bahan baku meningkat, tapi juga faktor ikutannya,” katanya.
Ia mencontohkan kebutuhan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara tidak langsung melahirkan wirausaha baru termasuk di sektor non-pangan.
“Sebagai contohnya ya ternyata entrepreneur atau wirausaha yang bergerak di bidang sabun ini banyak sekali sekarang. Karena kebutuhan SPPG banyak satu SPPG satu hari itu membutuhkan kurang lebih 25 liter sabun,” jelas Dadan.
“Jadi banyak sekali para usahawan baru di Indonesia yang bergerak untuk memproduksi sabun sekarang diuntungkan dengan program ini,” imbuhnya.
Di sisi lain, BGN juga mulai mengantisipasi dampak MBG terhadap stabilitas harga pangan nasional, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.
Koordinasi lintas kementerian pun dilakukan untuk menjaga pasokan dan harga tetap terkendali.
“Dan tadi saya koordinasi juga dengan Pak Menteri Pertanian agar kita bisa mulai mengatur bahan apa yang harus kita anjurkan untuk dikonsumsi, bahan apa yang harus kita tahan dulu terutama menjelang Ramadan dan Lebaran ya. Jadi bahan-bahan apa yang harus kita alihkan dulu untuk digantikan dengan penggantinya agar harga tetap stabil,” terangnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa para ahli dari White House tengah mempelajari program MBG Indonesia.
Ia juga menyebut Rockefeller Institute menilai MBG sebagai investasi terbaik bagi sebuah negara dengan dampak pengganda ekonomi yang besar dalam jangka panjang. (agr/nsi)
Load more