Siswa SD di NTT Bunuh Diri Usai Tak Sanggup Beli Buku, Selly Gantina: Potret Nyata Kemiskinan Struktural
- Tangkapan layar
Jakarta, tvOnenews.com - Tragedi kemanusiaan mengguncang tanah air berupa aksi bunuh diri seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBR (10) akibat tak mampu membeli buku dan pena.
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDIP, Selly Andriany Gantina turut prihatin atas peristiwa kemanusiaan yang terjadi.
Selly Gantina mengungkap bahwa peristiwa siswa SD yang memilih mengakhiri hidupnya itu merupakan potret nyata kemiskinan struktural di tanah air.

- Istimewa
Menurutnya hal ini terjadi akibat adanya kegagapan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan kehidupan yang layak.
Terlebih kasus tersebut didasari oleh sang siswa yang tak memiliki buku pelajaran dalam pendidikan hingga permasalahan kemiskinan struktural menjadi momok bagi bangsa ini.
"Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak," kata Selly kepada awak media, Jakarta, Rabu (3/2/2026).
Kasus tersebut semakin menyobek hari mengingat sang siswa merupakan anak yatim dengan ekonomi keluarga yang hanya ditopang sang ibu.
Selly mengungkap temuan dari banyaknya keluarga miskin dengan beban ekonomi yang dipikul oleh sang ibu.
Alhasil, anak-anak menjadi pihak paling rentan yang menanggung dampak secara psikologis dan sosial.
Ia pun menegaskan negara tidak boleh dia dan seakan menutup mata terhadap realita kehidupan rakyatnya terlebih pemenuhan hak pendidikan anak serta fasilitas penopangnya.
Selly menegaskan konstitusi dengan jelas menempatkan pendidikan sebagai hak dasar setiap warga negara.
"Tragedi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan belum sepenuhnya berpihak pada kelompok paling rentan," ungkapnya.
Selly mengaku dalam Rakernas I PDIP Tahun 2026, partainya secara tegas menegaskan garis ideologis keberpihakan kepada wong cilik, perempuan, dan anak.
Ia mengaku partai berlambang kepala banteng bermoncong putih itu dengan tegas mendorong negara untuk memerangi kemiskinan ekstrem, memperkuat perlindungan sosial yang menyentuh akar persoalan, serta memastikan pemenuhan hak dasar rakyat secara nyata, bukan sebatas administratif.
Sebabnya, kata Selly, pendidikan harus dipastikan benar-benar inklusif, bermartabat, dan bebas dari beban yang menyingkirkan anak-anak miskin dari harapan hidupnya.
"PDI Perjuangan menegaskan posisinya sebagai partai penyeimbang yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan secara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi serius bagi negara, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan masa depan, bahkan nyawa akibat kemiskinan dan kelalaian system," tegas Selly.
Di sisi lain, Selly turut menyinggung peran dari Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), serta lembaga terkait lainnya yang semestinya menjadi garda depan dalam mencegah tragedi kemanusiaan semacam ini.
Ia mendesak adanya penguatan dan integrasi program perlindungan sosial, mulai dari bantuan sosial adaptif, jaminan pemenuhan kebutuhan dasar anak, hingga pendampingan psikososial bagi keluarga rentan, harus dijalankan secara proaktif dan berbasis data lapangan, bukan sekadar menunggu laporan atau kejadian ekstrem.
“Negara tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, tetapi harus memperkuat kapasitas keluarga miskin, terutama yang memiliki anak usia sekolah, melalui penguatan ekonomi, akses pendidikan yang utuh, dan pendampingan sosial berbasis kebutuhan nyata di lapangan, agar kemiskinan tidak terus diwariskan lintas generasi,” pungkasnya.(raa)
Load more