Belum Lama Soroti Ketua BEM UGM, Natalius Pigai Kini Terima Tantangan Guru Besar UGM Debat Terbuka soal HAM
- Antara
"Anda tetap saja korupsi. Memahami bukan berarti Anda pasti benar. Benarnya Anda akan diukur dengan kerja-kerja penegakan HAM," tegas Uceng.
Pakar Hukum Tata Negara dan Ahli itu berharap Pigai yang menghubungi pihak televisi. Tujuannya sebagai ruang perantara perdebatan keduanya dapat dilihat oleh khalayak.
"Saya nggak punya kekuasaan Pak. Semoga ada TV Nasional yang bisa memfasilitasi. Kalau bapak yang colek mereka, mungkin lebih berarti. Terima kasih YouTube-nya. Saya hanya pernah tiga tahun peneliti di Pusat Studi HAM UII Yogyakarta dan kuliah S2 Hukum HAM di Amerika. Saya pasti senang belajar," jelas Uceng.
Ia meminta tolong ke pengguna media sosial melihat tantangan terbuka mengenai HAM. Ia kini memastikan jadwal perdebatan agar tidak berakhir gagal.
Awal Mula Natalius Pigai Terima Tantangan Uceng
Melalui X pribadinya @NataliusPigai2, Rabu (25/2/2026), Pigai mengetahui dirinya mendapat kritikan. Sorotan tersebut berasal dari guru besar UGM, Uceng.
Pigai membuat pernyataan yang pernah viral di media sosial. Menteri HAM itu mengaku telah mengenali tentang HAM sejak berusia lima tahun.
Ia meyakini tidak akan mungkin salah menyerap makna prinsip tentang HAM. Publik menanggapi secara beragam termasuk Uceng lewat media sosialnya.
Uceng mengutip pandangan dari Imam Al Ghazali terkait empat jenis manusia. Pertama, orang yang mengetahui dan sadar saat dirinya mengetahui dianggap layak sebagai panutan.
Kedua, tipe orang yang mengetahui tetapi tidak sadar kalau dirinya mengetahui harus disadarkan. Ketiga, orang yang tidak mengetahui dan coba tahu sebenarnya tidak mengetahui dianggap sebagai orang awam yang perlu belajar lagi.
"Keempat, orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang jenis ini sesat dan menyesatkan, perlu dihindari," tulis Uceng.
Pigai mengisahkan latar belakang hidupnya di Papua. Sejak kecil, ia telah melihat secara langsung konflik yang begitu mencekam.
"Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppresso liber). Dari seorang korban HAM hingga menjadi orang nomor satu di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah, dan menentukan sejarah HAM di Republik ini," ucap Pigai.
Load more