News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Dari Ajudan Setia hingga Cawapres Pilihan Soeharto: Kisah Kedekatan Try Sutrisno yang Sempat Tolak Jadi Wakil Presiden

Kedekatan Try Sutrisno dengan Soeharto mengantarkannya ke kursi wapres. Menariknya, Try sempat menolak jabatan itu dan ingin pensiun.
Senin, 2 Maret 2026 - 11:39 WIB
Momen Jenderal TNI AH Nasution saat bersama Jenderal TNI Try Sutrisno, Presiden RI ke-2 Soeharto
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, tvOnenews.com - Wafatnya Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno pada Senin pagi, 2 Maret 2026, membuka kembali lembaran panjang sejarah hubungan personal dan politiknya dengan Presiden ke-2 RI Soeharto.

Di balik karier militernya yang moncer, Try Sutrisno dikenal sebagai figur yang memiliki kedekatan khusus dengan Soeharto—bahkan sempat menolak jabatan Wakil Presiden yang kelak mengantarkannya ke puncak kekuasaan sipil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ajudan Presiden yang Terlalu “Dipertahankan”

Kedekatan Try Sutrisno dengan Soeharto bermula pada 1974, saat ia masih berpangkat Kolonel dan dipercaya menjadi ajudan presiden. Posisi ini bukan jabatan biasa. Ajudan presiden berada di lingkar paling dekat kekuasaan, mendampingi kepala negara hampir setiap waktu, dan menjadi figur yang sangat dipercaya.

Try Sutrisno tercatat cukup lama menduduki posisi tersebut. Bahkan, ketika karier militernya seharusnya sudah naik kelas, Soeharto justru berkali-kali menahan kepindahannya. Hal ini diungkap Panglima ABRI saat itu, Jenderal M. Jusuf, yang menilai Try sudah layak dipromosikan menjadi perwira tinggi.

“Belum Waktunya,” Kata Soeharto

Pada 1978, Jenderal M. Jusuf berniat mempersiapkan Try Sutrisno sebagai Kepala Staf Kodam (Kasdam) XV/Udayana di Bali. Jabatan ini sangat strategis karena membawahi wilayah Timor Timur yang kala itu masih bergejolak. Penugasan tersebut diyakini akan memperkaya pengalaman Try dan menjadi batu loncatan menuju jabatan Pangdam.

Namun rencana itu tidak berjalan mulus. Soeharto menolak melepas Try dari posisi ajudan.

“Belum waktunya sekarang ini,” ujar Soeharto, seperti dikisahkan dalam buku Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit karya Atmadji Sumakidjo.

Penolakan ini terjadi bukan sekali. Baru setelah didesak berkali-kali, Soeharto akhirnya memberi izin, disertai pesan khusus agar Try “diarahkan dengan baik”. Sikap ini menunjukkan betapa Soeharto memercayai Try, bukan hanya sebagai perwira, tetapi juga sebagai figur yang dianggap matang secara karakter.

Karier Militer Melejit Bak Meteor

Begitu dilepas dari jabatan ajudan, karier Try Sutrisno langsung melesat. Ia diangkat menjadi Kasdam XV/Udayana, lalu Pangdam IV/Sriwijaya di Palembang, kemudian Pangdam V/Jaya di Jakarta. Dari sana, Try menapaki jabatan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1986.

Tak sampai dua tahun menjabat KSAD, Try kembali naik pangkat menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pangab) pada 1988, menggantikan Jenderal Benny Moerdani. Jabatan tertinggi militer ini dipegangnya selama lima tahun, memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh sentral ABRI di era Orde Baru.

Tidak Pernah Bercita-cita Jadi Wakil Presiden

Menariknya, di puncak karier militernya, Try Sutrisno justru tidak memiliki ambisi politik. Setelah pensiun sebagai Pangab pada 1993, ia mengaku ingin menikmati masa tua bersama keluarga.

“Saya tidak punya niat jadi wapres. Saya sudah pensiun. Tidak ada cita-cita jadi wapres, apalagi presiden. Saya ingin mengasuh cucu saya,” ujar Try, dikutip dari catatan sejarah politik era Pemilu 1992.

Pernyataan ini menegaskan bahwa jabatan Wakil Presiden bukanlah target pribadi Try Sutrisno, melainkan hasil dinamika politik internal negara.

Dipanggil Kembali oleh Sejarah

Situasi berubah cepat. Menjelang Sidang Umum MPR 1993, nama Try Sutrisno mencuat sebagai calon kuat Wakil Presiden. Proses penjaringan dilakukan oleh “Tim Sebelas”, tim khusus bentukan Soeharto untuk mencari pendamping presiden.

Nama Try akhirnya diajukan kepada Soeharto. Faktor kedekatan personal dan rekam jejak panjang sebagai ajudan presiden menjadi pertimbangan utama. Try mengaku tidak melakukan kampanye, tidak melobi, dan tidak mengeluarkan biaya politik apa pun.

“Ditanya, bersediakah dikasih wapres ini? Kalau presidennya setuju, jadi. Kalau tidak, cari lagi,” tutur Try mengenang proses tersebut.

Soeharto menerima usulan itu. Pada Maret 1993, Sidang Umum MPR resmi menetapkan Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden RI ke-6, mendampingi Soeharto hingga 1998.

Kedekatan yang Menentukan Sejarah

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kisah Try Sutrisno menunjukkan bagaimana kedekatan personal dengan pusat kekuasaan dapat membentuk perjalanan sejarah nasional. Dari ajudan yang “terlalu dipertahankan”, panglima militer, hingga wakil presiden yang semula enggan menerima jabatan, semuanya berkelindan dalam satu benang merah: kepercayaan Soeharto.

Kini, Try Sutrisno telah berpulang di RSPAD Gatot Soebroto, meninggalkan warisan sejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan Orde Baru. Ia bukan hanya saksi, tetapi juga bagian penting dari lingkar inti kekuasaan pada masanya—seorang prajurit yang naik ke puncak bukan karena ambisi politik, melainkan karena kepercayaan dan waktu. (nsp)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Hari Lahir Pancasila Jadi Refleksi, KPN DKI Jakarta Soroti Kualitas Dialog Demokrasi Indonesia

Hari Lahir Pancasila Jadi Refleksi, KPN DKI Jakarta Soroti Kualitas Dialog Demokrasi Indonesia

Merefleksi Hari Lahir Pancasila, KPN DKI Jakarta menegaskan bahwa Pancasila tetap menjadi landasan penting untuk menjembatani berbagai perbedaan dan persoalan bangsa.
Tips Memecah Daging Beku dengan Cepat Tanpa Merusak Kualitasnya

Tips Memecah Daging Beku dengan Cepat Tanpa Merusak Kualitasnya

Berikut tips memecah daging beku dengan cepat tanpa merusak kualitasnya.
Minuman yang buat Tubuh Berenergi Seharian meski Lagi Puasa ala dr Zaidul Akbar

Minuman yang buat Tubuh Berenergi Seharian meski Lagi Puasa ala dr Zaidul Akbar

Berikut ini salah satu bahan herbal yang umum dijadikan resep sehat secara alami selama berpuasa ataupun aktif ala dr Zaidul Akbar
DPR Minta Target dan KPI PT DSI Dijelaskan ke Publik: Berapa Kebocoran Devisa yang Mau Ditutup?

DPR Minta Target dan KPI PT DSI Dijelaskan ke Publik: Berapa Kebocoran Devisa yang Mau Ditutup?

Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam menilai masyarakat perlu tahu apa target dan KPI dari PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang dibentuk untuk mencegah kebocoran ekspor.
Bareskrim Polri Buru Awie Pemilik Kelab Malam New Zone Medan: Karena Bandar Narkoba

Bareskrim Polri Buru Awie Pemilik Kelab Malam New Zone Medan: Karena Bandar Narkoba

Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menyebutkan saat ini pihaknya sedang buru Eddy alias Awie, pemilik kelab malam New Zone Medan, Sumut, karena
Main Bola Bersama Bocah Papua, KDM Jadi Penjaga Gawang: Kalau Masuk Aku Kasih Rp200 Ribu

Main Bola Bersama Bocah Papua, KDM Jadi Penjaga Gawang: Kalau Masuk Aku Kasih Rp200 Ribu

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi main bola bersama bocah Papua, KDM jadi penjaga gawang dan tantang anak-anak untuk menendang, yang masuk diberi Rp200 ribu.

Trending

Yasinta Moiwend Buka Suara Soal Tudingan Naik Private Jet ke Jakarta

Yasinta Moiwend Buka Suara Soal Tudingan Naik Private Jet ke Jakarta

Tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moiwend, tengah menjadi sorotan publik setelah munculnya tudingan menggunakan private jet untuk terbang ke Jakarta....
Nasib Memilukan Seorang ART di Bogor, Karena Charger Nyawanya Melayang

Nasib Memilukan Seorang ART di Bogor, Karena Charger Nyawanya Melayang

Nasib memilukan seorang asisten rumah tangga (ART) berinsial RR (26) di Bogor. Pasalnya, nyawanya meyalang karena sebuah charger dan nyawanya disikat rekannya
AKBP Syarif Beberkan Penyebab Utama Jokowi Tak Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila

AKBP Syarif Beberkan Penyebab Utama Jokowi Tak Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila

Ajudan mantan Presiden Jokowi, AKBP Syarif Muhammad Fitriansya beberkan penyebab utama Jokowi tidak hadiri upacara Hari Lahir Pancasila yang digelar hari ini
Miris, Anak-anak Korban Penyalahgunaan Lem di Bawah Jembatan Ampera Dibina Dinsos

Miris, Anak-anak Korban Penyalahgunaan Lem di Bawah Jembatan Ampera Dibina Dinsos

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palembang, Sumatera Selatan, melakukan pembinaan terhadap anak-anak korban penyalahgunaan lem di kawasan Jembatan Ampera yang viral di media sosial sejak akhir pekan Mei 2026.
Mengotori Tangan, Merawat Masa Depan: Edukasi Lingkungan di Desa Gongsol

Mengotori Tangan, Merawat Masa Depan: Edukasi Lingkungan di Desa Gongsol

Semangat itu hadir di Desa Gongsol, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, melalui kegiatan TANDU OSOJI yang diinisiasi HMJ IKO FISIP UMSU bersama Tangan Edukasi Indonesia. Desa yang terbagi ke dalam empat dusun ini memiliki kehidupan yang khas. Di siang hari, suasana desa dipenuhi riuh anak-anak karena sebagian besar orang tua bekerja di ladang sebagai petani.
Pesan KDM untuk Warga Jabar, Khususnya Ibu-ibu Diminta Cerdas bermain Medsos

Pesan KDM untuk Warga Jabar, Khususnya Ibu-ibu Diminta Cerdas bermain Medsos

Belum lama ini Kang Dedi Mulyadi menyampaikan pesan penting agar warganya bisa lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Fokus di Timnas Indonesia Senior, Nova Arianto Tak Khawatir Mathew Baker Telat Gabung Garuda Muda di Piala AFF U-19 2026

Fokus di Timnas Indonesia Senior, Nova Arianto Tak Khawatir Mathew Baker Telat Gabung Garuda Muda di Piala AFF U-19 2026

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Nova Arianto, tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatan Mathew Baker gabung skuad Garuda Muda. Ia yakin chemistry tim terjaga.
Selengkapnya

Viral