Menohok, Pengamat Soroti Posisi Indonesia di Board Of Peace: Cuma Alat Legitimasi Politik Trump
- Tim Humas Prabowo
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Hubungan Internasional dari Central Normal University, Tiongkok, Syaifuddin Zuhri menyoroti posisi Indonesia yang berada dalam Board of Peace (BoP) alias Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump.
Menurutnya, posisi Indonesia di dalam BoP tidak akan jauh dari sekedar alat legitimasi politik Trump termasuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Sehingga, ia menyarankan agar Indonesia tidak perlu ikutan-ikutan di dalam BoP yang dibuat oleh Trump tersebut.
"Posisi indonesia juga tidak akan jauh dari sekedar alat legitimasi politik Trump, alat stempel bahwa didukung negara muslim terbesar. Ini akan sangat-sangat menyedihkan," katanya kepada tvOnenews, Senin (2/3/2026).

- ANTARA/Hafidz Mubarak A
Di sisi lain, ia juga menilai bahwa Board of Piece hanya slogan semata, namun pada kenyataannya, mereka lah yang mengibarkan bendera perang untuk negara-negara lain.
"Menurut saya BoP itu Bored of Peace ya, lembaga yang hanya akan mengibarkan perang di banyak wilayah ketimbang buat damai," ucapnya.
Oleh karena itu, Syaifuddin menegaskan, tidak seharusnya Indonesia berada didalam BoP yang justru akan menimbulkan stempel politik genosida.
"Indonesia tidak perlu ikut-ikutan bergabung ke BoP yang nantinya hanya akan jadi stempel politik genosida," tandasnya.
Seperti diketahui, Presiden RI, Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Board of Peace (BOP) di Washington DC, Amerika Serikat, pada 19 Februari 2026.
Kunjungan ini menjadi bagian penting dari agenda diplomasi Indonesia untuk mendorong perdamaian global, khususnya pemulihan Gaza dan upaya mengakhiri konflik berkepanjangan di Palestina.
Selain menghadiri KTT BoP, Presiden juga menjalani pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta menandatangani agreement on reciprocal trade yang telah dinegosiasikan sejak 2025. (aha/muu)
Load more