Ermanto Usman, Pejuang Pelabuhan yang Gugur di Subuh Kelam Bekasi
- Instagram @infobekasi
Jakarta, tvOnenews.com - Nama Ermanto Usman mendadak menjadi perhatian publik setelah menjadi korban OTK di Bekasi pada Senin, 2 Maret 2026. Namun di balik peristiwa tragis tersebut, sosok Ermanto Usman bukanlah figur biasa.
Ermanto Usman dikenal luas di dunia pelabuhan sebagai pejuang tata kelola yang transparan dan vokal dalam mengkritisi kebijakan strategis nasional. Ia meninggal dunia pada pukul 06.05 WIB setelah mengalami luka parah akibat serangan di kediamannya.
Lahir di Padang pada 22 Juli 1961, Ermanto mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia kepelabuhanan dan gerakan pekerja. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka keluarga, tetapi juga jejak panjang perjuangan di sektor pelabuhan Indonesia.
Kronologi Tragis di Pagi Buta
Peristiwa yang menimpa Ermanto Usman terjadi sekitar pukul 04.15 WIB. Anak korban merasa ada kejanggalan karena sang ibu tidak membangunkannya untuk sahur seperti biasa.
Ketika turun ke lantai satu, pintu kamar orang tua ditemukan dalam keadaan terkunci. Dari dalam terdengar suara rintihan. Keluarga kemudian memecahkan kaca jendela kamar untuk masuk.
Di dalam kamar, Ermanto ditemukan dalam kondisi luka parah, sementara istrinya tergeletak bersimbah darah. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan.
Kasus korban OTK Bekasi yang menimpa Ermanto Usman kini dalam penanganan aparat kepolisian.
Konsisten Mengawal Tata Kelola Pelabuhan
Di luar kasus yang menimpanya, profil Ermanto Usman identik dengan sikap kritis terhadap pengelolaan pelabuhan strategis nasional. Ia kerap menyoroti persoalan tata kelola, transparansi, serta kepentingan negara dalam pengelolaan aset vital.
Salah satu fokus utamanya adalah pengelolaan Jakarta International Container Terminal (JICT). Dalam berbagai kesempatan, Ermanto menyuarakan kritik terhadap kebijakan yang dinilai berpotensi merugikan negara.
Baginya, pelabuhan bukan sekadar tempat bongkar muat barang, melainkan aset strategis yang menyangkut kedaulatan ekonomi.
“Pelabuhan bukan hanya soal bongkar muat, tetapi juga soal kekuasaan, transparansi, dan keberpihakan negara,” pernah ia ungkapkan dalam sebuah wawancara.
Lawan Privatisasi Sejak Awal 2000-an
Perjuangan Ermanto Usman bermula sejak tahun 2000, ketika isu privatisasi pelabuhan mencuat. Ia bersama rekan-rekannya mendirikan Forum Komunikasi Serikat Pekerja JICT sebagai wadah menyuarakan aspirasi pekerja.
Ermanto menilai privatisasi yang tidak transparan dapat mengancam kesejahteraan pekerja dan mengurangi kontrol negara atas aset strategis.
Namanya kembali menjadi sorotan pada 2014 saat masa kuasa operasi JICT diperpanjang hingga 2039. Menurut Ermanto, persoalan tersebut bukan semata-mata bisnis, tetapi menyangkut aspek hukum dan kedaulatan negara.
Ia bersama para pekerja mengumpulkan data dan dokumen untuk mengkritisi kebijakan tersebut.
Soroti Dugaan Korupsi dan Tata Kelola
Ermanto juga terlibat dalam mengawal isu dugaan korupsi terkait pengadaan Mobile Crane oleh Pelindo II. Saat proses penggeledahan oleh aparat penegak hukum, ia menyatakan perjuangannya bukan tuduhan tanpa dasar.
Ia menegaskan bahwa apa yang diperjuangkan adalah kepentingan negara dan pekerja pelabuhan.
Selain itu, ia turut menyoroti perubahan struktur kepemilikan JICT pada periode 2021–2022. Menurutnya, perubahan tersebut perlu dikaji secara transparan karena berpotensi mengurangi kontrol strategis negara.
Sikap kritisnya membuat ia dikenal sebagai figur yang konsisten dan berani bersuara di tengah dinamika kepentingan besar di sektor pelabuhan.
Warisan Perjuangan yang Ditinggalkan
Sebagai korban OTK Bekasi, nama Ermanto Usman kini lekat dengan peristiwa tragis. Namun warisan yang ditinggalkannya jauh melampaui tragedi tersebut.
Ia dikenang sebagai sosok yang tidak lelah memperjuangkan tata kelola pelabuhan yang bersih, transparan, dan berpihak pada kepentingan nasional.
Dedikasinya terhadap pekerja pelabuhan dan keberaniannya mengkritisi kebijakan strategis menjadikannya figur penting dalam diskursus kepelabuhanan Indonesia.
“Tidak hanya untuk pekerja pelabuhan, tetapi untuk masa depan bangsa,” menjadi prinsip yang kerap ia gaungkan.
Kini, di tengah proses hukum yang masih berjalan terkait kasus OTK Bekasi, publik mengenang Ermanto Usman bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai pejuang yang berdiri teguh menjaga integritas pelabuhan nasional. (nsp)
Load more