Komisi III DPR Bawa-bawa Nama Novel Baswedan di Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
- Tangkapan Layar Instagram @podcastseninsore
Jakarta, tvOnenew.com - Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus masih menuai komentar dari berbagai elite politik. Bahkan, Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil, menanggapi peristiwa tersebut hingga bawa-bawa nama Novel Baswedan.
Untuk diketahui, insiden Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tak dikenal (OTK) terjadi di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026) malam.
Saat ini, aktivis tersebut masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, akibat luka bakar 24 persen yang dideritanya.
Menurut rekaman CCTV saat kejadian, ada dua terduga pelaku berjenis kelamin pria yang berboncengan dan melemparkan wadah berisi cairan ke arah Andrie.
Dalam hal ini, Nasir akui, dirinya beserta kolega di Komisi III DPR RI tidak menyangka peristiwa penyiraman air keras terulang kembali, setelah sebelumnya menimpa Mantan Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan pada Selasa, 11 April 2017 atau hampir sembilan tahun lalu.
"Komisi III DPR RI mendesak untuk mengusut siapa otak di balik penyerangan siraman air keras terhadap aktivis KontraS tersebut. Karena kami tidak menyangka kejadian seperti ini terulang kembali setelah menimpa Novel Baswedan beberapa waktu lalu," jelas Nasir.
Menurutnya, serangan penyiraman air keras merupakan tindakan kampungan dan mencerminkan premanisme; sebuah tindakan intimidasi, pemerasan, dan kekerasan yang dilakukan individu atau kelompok (seringkali berkedok ormas) untuk keuntungan atau kepentingan tertentu.
Nasir menilai, penyiraman air keras juga merupakan ancaman kebebasan berpendapat.
"Ternyata cara-cara kampungan dan premanisme seperti ini masih saja dilakukan dan tentu saja ini semacam mengancam kebebasan bagi masyarakat sipil ya," jelas Nasir.
"Bagaimana misalnya kita ingin menyampaikan satu sikap, pendapat, lalu dibalas dengan cara-cara seperti ini."
Nasir Djamil juga mendesak agar pihak kepolisian mengusut tuntas dalang di balik serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus.
Ia meyakini, polisi bisa dengan mudah menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Apalagi, kata dia, sudah ada rekaman CCTV di lokasi kejadian.
"Komisi III DPR RI meminta Kapolri, Kapolda Metro Jaya, untuk bisa mengungkap dan menemukan serta menangkap pelakunya, apalagi sudah dibantu dengan CCTV," beber Nasir Minggu (15/3/2026).
"Jadi, mungkin tidak tidak terlalu sulit bagi polisi untuk bisa menemukan dan menangkap pelakunya."
"Tidak ada CCTV saja polisi bisa menemukan dan menangkap pelaku satu peristiwa kejahatan. Apalagi ini sudah sangat terang-benderang direkam di CCTV."
"Nah, oleh karena itu kami sekali lagi sangat-sangat mengharapkan kepada pihak kepolisian untuk bisa mengusut ini secara tuntas, sampai kepada dalang daripada penyiraman air keras tersebut."
Nasir Djamil lantas menerangkan, aksi penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS ini dapat menimbulkan kekhawatiran, bahwa hal serupa dapat dialami oleh siapa saja.
Tak hanya aktivis, tetapi juga bisa menimpa jurnalis, politisi, maupun lapisan masyarakat lainnya yang kritis maupun menyampaikan pendapat yang tidak diterima oleh kalangan tertentu.
"Sebab ini kan menimbulkan ketakutan ya, kekhawatiran. Jangan-jangan itu nanti akan menimpa saya begitu," ucap Nasir.
"Dan bisa jadi ini menimpa aktivis misalnya. Jangan-jangan nanti menimpa jurnalis, menimpa politisi seperti kami seperti ini, kan kan kita enggak tahu di jalan seperti apa."
"Jadi, mungkin kita berlindung dari hal seperti itu, tapi tidak tertutup kemungkinan bahwa peristiwa itu bisa menimpa siapa saja."
"Menimpa masyarakat sipil yang selama ini barangkali menyampaikan sikap pendapatnya yang oleh sebagian orang tidak bisa diterima atau belum bisa menerima kritikan atau sikap dan pendapat tersebut."
"Nah, karena itu sekali lagi ini cara-cara yang sangat kampungan, yang membahayakan nyawa orang dan tentu harus segera didapatkan pelakunya, dan itulah harapan masyarakat Indonesia, karena sekali lagi ini tidak bisa kita benarkan," pungkasnya. (aag)
Load more