Dinamika Keluarga Saat Mudik Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Kemenkes Tekankan Pentingnya Empati Ketika Berkumpul dengan Sanak Saudara
- freepik
Jakarta, tvOnenews.com - Umat Islam akhirnya kembali bertemu dengan momen Hari Raya Idulfitri atau Lebaran setelah satu bulan beribadah saat Ramadan. Budaya mudik setelah momen itu menjadi hal tak terpisahkan.
Kembali ke kampung halaman bagi para perantau bisa menjadi momen yang sangat dirindukan. Namun, di satu sisi dinamika di dalamnya berpotensi mengganggu ketenangan dan kesehatan mental.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi mengatakan, mudik bukan sekadar perpindahan fisik. Di dalamnya juga terjadi perubahan yang berdampak pada individu.
"Ini adalah transisi sosial dan emosional yang intensif dan pengalaman yang kaya secara emosional dan budaya yang memiliki dampak besar pada kesehatan jiwa individu. Mudik idealnya memperkaya, bukan menguras," kata Imran.
Ia mengatakan, sebelum berangkat kembali ke keluarga besar, perlu menetapkan batasan seperti durasi kunjungan yang realistis serta komunikasi bahwa kita membutuhkan waktu istirahat.
Aktivitas bersama juga harus dipikirkan supaya reuni keluarga terasa lebih bermakna dan membuat bahagia.
Dirinya kemudian menjelaskan, perlu ada rencana fleksibel selama perjalanan, karena akan muncul banyak dinamika seperti kemacetan.
Ia menyarankan supaya para pemudik melakukan teknik pernapasan singkat atu latihan grounding. Hal ini penting untuk menenangkan diri ketika merasa cemas.
"Perhatian khusus pada anak juga penting. Menetapkan aturan layar sebelum berangkat, menyiapkan aktivitas offline, dan mengunduh konten edukatif untuk perjalanan membuat suasana lebih tenang dan interaksi keluarga lebih berkualitas," katanya menjelaskan.
Sesampainya di rumah, mudik selalu menimbulkan rasa rindu, hangat, dan kebersamaan. Namun, di saat yang sama momen ini juga mungkin saja menimbulkan tekanan.
Ekspektasi keluarga membuat banyak obrolan-obrolan menjadi terasa menekan. Akhirnya, fisik dan emosi pun terkuras. Apalagi sebelumnya harus melalui perjalanan panjang dari kota seberang.
"Begitu tiba di kampung halaman, reuni yang seharusnya menyenangkan kadang membuka kembali luka lama atau menimbulkan tekanan karena ekspektasi keluarga," tuturnya.
Harapan yang terlalu tinggi itu justru membuat seseorang semakin tertekan. Oleh karenanya, penting untuk melakukan komunikasi yang jujur dan hangat.
Load more