Terkuak Penyebab Garuda Indonesia Rugi Rp5,42 Triliun di 2025, Armada Rusak hingga Biaya Membengkak Jadi Biang Kerok
- ANTARA
Tekanan Rupiah dan Biaya Tetap
Selain masalah armada, faktor eksternal juga ikut memperburuk kondisi keuangan Garuda Indonesia. Salah satunya adalah fluktuasi nilai tukar rupiah.
Sebagai perusahaan yang banyak bertransaksi dalam dolar AS, pelemahan rupiah otomatis meningkatkan beban biaya, terutama untuk sewa pesawat, perawatan, dan bahan bakar.
Di sisi lain, biaya tetap (fixed cost) tetap harus dibayar meski jumlah penerbangan menurun. Kondisi ini membuat struktur biaya menjadi tidak seimbang dengan pendapatan yang dihasilkan.
Efek Rantai Pasok Industri Aviasi
Tantangan lain datang dari gangguan rantai pasok global di industri penerbangan. Proses perawatan pesawat menjadi lebih lama dan mahal akibat keterbatasan suku cadang serta tingginya permintaan global.
Hal ini semakin memperlambat pemulihan armada Garuda Indonesia, sehingga berdampak langsung pada operasional.
Kerugian Membengkak Tajam
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kerugian Garuda Indonesia mengalami lonjakan signifikan. Pada 2024, rugi bersih tercatat sekitar US$ 69,77 juta (Rp1,18 triliun).
Artinya, dalam satu tahun, kerugian meningkat hampir lima kali lipat. Lonjakan ini menunjukkan tekanan berat yang dihadapi perusahaan sepanjang 2025.
Upaya Pemulihan Mulai Terlihat
Meski menghadapi tekanan besar, Garuda Indonesia mulai menunjukkan upaya pemulihan, terutama pada semester II-2025. Salah satu faktor pendorongnya adalah dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Melalui suntikan modal tersebut, Garuda mulai mempercepat perbaikan armada dan meningkatkan kesiapan operasional.
Ke depan, perusahaan menargetkan dapat mengoperasikan:
-
68 pesawat Garuda Indonesia pada akhir 2026
-
50 pesawat Citilink pada periode yang sama
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki kinerja keuangan secara bertahap.
Tantangan Masih Besar
Meski ada optimisme pemulihan, tantangan yang dihadapi Garuda Indonesia masih cukup berat. Perusahaan harus mampu menyeimbangkan antara peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya.
Pemulihan armada menjadi kunci utama. Tanpa jumlah pesawat yang memadai, sulit bagi Garuda untuk bersaing dan kembali mencatatkan keuntungan.
Kerugian Rp5,42 triliun pada 2025 menjadi cerminan bahwa proses transformasi belum sepenuhnya selesai. Namun dengan strategi yang tepat dan dukungan pendanaan, peluang untuk bangkit tetap terbuka. (nsp)
Load more