Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Murka di Sidang Dewan Keamanan PBB: 285 Juta Rakyat RI Berduka
- Dokumentasi Kementerian Luar Negeri
Jakarta, tvOnenews.com - Indonesia meluapkan duka sekaligus kemarahan di forum tertinggi dunia setelah tiga prajurit penjaga perdamaian gugur dalam misi di Lebanon.
Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, sikap tegas Indonesia menggema, membawa suara 285 juta rakyat yang merasa kehilangan.
Pernyataan keras itu disampaikan Wakil Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Umar Hadi, saat membuka pidatonya di New York, Selasa (31/3) waktu setempat.
Ia menegaskan bahwa tragedi ini bukan sekadar insiden militer, tetapi luka mendalam bagi bangsa.
“Terima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyampaikan rasa duka, amarah, dan frustrasi 285 juta penduduk Indonesia. Kami yakin, perasaan ini juga dirasakan oleh seluruh warga dunia yang memandang pasukan perdamaian sebagai simbol harapan dan perdamaian,” ujar Umar.
Dalam forum tersebut, Umar menyebut satu per satu nama prajurit yang gugur sebagai penghormatan tertinggi; Kapten Infanteri Zulfi Aditya Iskandar (33), Sertu Muhammad Nur Ichwan (25), dan Praka Farizal Rhomadon (27). Ketiganya gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Ia menjelaskan, Zulfi dan Ichwan gugur saat mengantar logistik di Bani Hayyan, sementara Farizal tewas saat menjalankan tugas di dekat Adchit Al Qusayr.
Selain korban jiwa, lima prajurit lainnya mengalami luka dalam insiden tersebut.
“Kami tidak dapat menerima terbunuhnya penjaga perdamaian tersebut. Ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia dan juga kehilangan besar bagi kita semua,” lanjutnya.
Indonesia menilai serangan tersebut terjadi saat para prajurit menjalankan mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB, sehingga tidak dapat ditoleransi.
Pemerintah pun menuntut pemulangan jenazah secara cepat dan bermartabat, serta perawatan maksimal bagi prajurit yang terluka.
“Serta meminta perawatan medis terbaik dan komprehensif terhadap lima penjaga perdamaian yang terluka untuk menjamin pemulihan cepat dan penanganan menyeluruh,” imbuh Umar.
Lebih jauh, Indonesia menyoroti pola serangan berulang terhadap pasukan UNIFIL yang dinilai bukan kebetulan, melainkan upaya sistematis untuk melemahkan mandat misi perdamaian sebagaimana diatur dalam Resolusi DK PBB 1701.
Dalam pernyataannya, Indonesia juga menilai eskalasi konflik berakar dari serangan militer Israel yang berulang kali melanggar kedaulatan Lebanon.
Load more