5 Menit Usai Lepas Landas, Helikopter Airbus H130 PK-CFX Hilang Kontak: Sinyal Darurat Terdeteksi, Serpihan Ditemukan di Hutan Sekadau
- Istimewa
Kalimantan Barat, tvOnenews.com - Insiden hilangnya helikopter jenis Airbus H130 dengan registrasi PK-CFX di Kalimantan Barat mengungkap kronologi dramatis dalam hitungan menit. Pesawat milik PT Matthew Air Nusantara itu dilaporkan hilang kontak hanya lima menit setelah lepas landas, sebelum akhirnya sinyal darurat terdeteksi dan serpihan ditemukan di kawasan hutan perbukitan Kabupaten Sekadau.
Peristiwa ini memicu operasi pencarian dan pertolongan (SAR) besar-besaran yang melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, hingga masyarakat setempat.
Lepas Landas Pagi Hari, Hilang Kontak dalam 5 Menit
Helikopter Airbus H130 PK-CFX diketahui lepas landas pada pukul 08.34 WIB dari area perkebunan PT Citra Mahkota di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Penerbangan tersebut dijadwalkan menuju Kabupaten Kubu Raya.
Namun, hanya berselang lima menit setelah mengudara, pesawat dilaporkan hilang kontak.
Berdasarkan data dari AirNav, komunikasi terakhir dengan helikopter terjadi pada pukul 08.39 WIB. Setelah itu, pesawat tidak lagi merespons komunikasi radio dan menghilang dari pantauan radar.
Kondisi ini langsung memicu kewaspadaan karena hilangnya kontak terjadi dalam waktu yang sangat singkat sejak lepas landas.
Sinyal Darurat Terdeteksi dari Satelit
Sekitar 36 menit setelah hilang kontak, titik terang mulai muncul. Pada pukul 09.15 WIB, Basarnas Command Center menerima sinyal darurat yang terdeteksi melalui sistem satelit internasional COSPAS-SARSAT.
Sinyal tersebut berasal dari Emergency Locator Transmitter (ELT), perangkat yang secara otomatis memancarkan sinyal saat terjadi kondisi darurat pada pesawat.
Deteksi sinyal ini menjadi petunjuk awal yang sangat krusial dalam menentukan lokasi pencarian.
Titik Lokasi Mengarah ke Hutan Perbukitan Sekadau
Dari data yang dihimpun, terdapat dua titik penting yang menjadi acuan pencarian:
-
Titik hilang kontak berada di koordinat sekitar 0°10'51.91" LS dan 110°47'25.49" BT
-
Sinyal darurat ELT terdeteksi di koordinat sekitar 0°12'0.00" LS dan 110°44'0.00" BT
Kedua titik tersebut mengarah pada wilayah Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau.
Lokasi ini dikenal memiliki medan berat berupa hutan lebat dan perbukitan terjal, yang menjadi tantangan besar bagi tim pencarian.
Delapan Orang dalam Helikopter
Dalam penerbangan tersebut, helikopter membawa total delapan orang yang terdiri dari dua kru dan enam penumpang.
Hingga proses pencarian berlangsung, seluruh korban masih dalam status pencarian oleh tim SAR gabungan.
Pencarian Dimulai, Tim SAR Dikerahkan
Merespons sinyal darurat yang diterima, Basarnas langsung mengerahkan tim rescue dari Pos SAR Sintang pada pukul 11.00 WIB.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta unsur masyarakat bergerak menuju lokasi melalui jalur darat. Namun, akses yang sulit membuat perjalanan menuju titik koordinat menjadi tidak mudah.
Selain jalur darat, pencarian juga dilakukan melalui udara.
Helikopter TNI AU Temukan Serpihan
Upaya pencarian dari udara dilakukan menggunakan helikopter Super Puma milik TNI Angkatan Udara yang lepas landas dari Lanud Supadio pada pukul 13.10 WIB.
Helikopter tersebut membawa 10 personel, termasuk kru, pasukan Kopasgat, dan tim Basarnas untuk melakukan pemantauan dari udara.
Hasilnya, pada pukul 15.25 WIB, tim udara menemukan serpihan yang diduga bagian ekor helikopter Airbus H130 PK-CFX.
Lokasi temuan tersebut berada sekitar 3 kilometer ke arah barat dari titik awal hilang kontak.
Temuan ini kemudian segera diteruskan kepada tim darat untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi.
Medan Sulit Jadi Tantangan Utama
Proses pencarian tidak berjalan mudah. Lokasi kejadian berada di kawasan hutan lebat dengan kontur perbukitan yang terjal, sehingga menyulitkan mobilisasi tim SAR.
Selain itu, akses menuju titik lokasi yang terbatas membuat proses evakuasi membutuhkan waktu dan koordinasi yang matang.
Meski demikian, Basarnas menegaskan komitmennya untuk melanjutkan operasi SAR secara maksimal dengan dukungan seluruh potensi yang ada.
Informasi Awal Jadi Kunci Pencarian
Rangkaian informasi awal mulai dari hilang kontak, deteksi sinyal ELT, hingga penemuan serpihan menjadi elemen penting dalam operasi pencarian.
Kecepatan dalam mendeteksi sinyal darurat dan koordinasi antarinstansi menjadi faktor krusial dalam mempersempit area pencarian di tengah kondisi medan yang ekstrem.
Hingga saat ini, proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan. (nsp)
Load more