Komentar Menohok Politisi PDIP Terkait Jusuf Kalla Klaim Berjasa untuk Jokowi: Sudah Tutup Buku
- tvOnenews
Jakarta, tvOnenews.com - Dua politisi PDIP lontarkan komentar menohok terkait mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) klaim berjasa di karier politik Jokowi. Satu di antaranya Guntur Romli dan Andreas Hugo Pareira.
Seperti diketahui, pernyataan itu sempat disampaikan JK dalam konferensi pers terkait klarifikasi potongan video ceramahnya saat menjadi pembicara di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
JK mengeklaim tanpa jasa darinya, Jokowi tidak mungkin diusung oleh PDIP ketika mencalonkan diri sebagai calon gubernur (cagub) dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 serta calon presiden (capres) saat Pilpres 2014.
Ketika ditanya terkait pernyataan JK itu, Guntur pun menegaskan PDIP sudah enggan untuk dikaitkan dengan Jokowi setelah yang bersangkutan dipecat sebagai kader.
Diketahui, Jokowi dipecat sebagai kader pada 16 Desember 2024 lalu.
Pemecatan juga dilakukan terhadap putra sulungnya sekaligus Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, serta menantunya yang juga Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Bobby Nasution.
Kala itu, salah satu alasan dipecatnya keluarga Jokowi karena mendukung Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024.
"PDI Perjuangan sudah tutup buku dengan Pak Jokowi, sudah dipecat. Tidak mau lagi membahas dan dikaitkan dengan Jokowi," beber Guntur, seperti dikutip pada Senin (20/4/2026).
Namun, Guntur mengakui bahwa pernyataan JK bisa diartikan sebagai wujud kekecewaa mantan Ketua Umum Golkar yang memang merasa dikhianati oleh Jokowi.
JK merupakan wapres yang mendampingi Jokowi dalam periode pertama kepemimpinannya pada 2014-2019.
"Tapi kesan dari pernyataan Pak JK, Jokowi itu memang berkhianat dan melukai pada orang-orang yang berjasa besar padanya," bebernya.
Tak cuma JK, Guntur juga menganggap ada beberapa orang yang juga berjasa untuk karier politik Jokowi.
Dia menyebut ada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri; Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto; Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung; mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Andhika Perkasa; hingga mantan Ketua DPC PDIP Solo sekaligus eks Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo atau FX Rudy.
Bahkan, Guntur juga menyebut orang-orang di luar lingkaran PDIP yang berjasa dan telah membantu Jokowi dalam pemerintahannya.
Dia mencontohkan Anies Baswedan dan Tom Lembong.
Seperti diketahui, Anies sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era kepemimpinan Jokowi periode pertama.
Bahkan, dirinya juga menjadi juru bicara tim pemenangan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014 lalu.
Sementara, Tom Lembong menjabat menjadi Menteri Perdagangan (Mendag) di era Jokowi periode pertama.
"Dan tidak hanya ke orang-orang PDI Perjuangan (Jokowi dianggap berkhianat), juga pada Pak Anies Baswedan, dan Pak Tom Lembong, yang semuanya pernah membantu Jokowi," jelas Guntur.
Guntur kembali menegaskan bahwa nama-nama yang disebutnya itu kini dikhianati oleh Jokowi.
"Nama-nama yang saya sebut itu semua berkontribusi besar terhadap karier Jokowi. Tapi apa balasannya? Pengkhianatan dan menyakitkan," ucapnya.
Sementara, politikus PDIP lainnya, Andreas Hugo Pareira memastikan partainya tidak terusik dengan pernyaatan JK.
Bahkan kata dia, PDIP tidak ada urusan dengan pernyataan JK yang mengeklaim telah berjasa terhadap Jokowi dalam karier politiknya.
"Lebih baik tanya langsung Jokowi saja. Karena pernyataan JK ini dugaan saya maksudnya ke Jokowi," jelas Andreas saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Andreas berharap agar pernyataan JK itu ditanggapi oleh 'bos termul'.
Untuk diketahui, termul merupakan singkatan dari 'Ternak Mulyono'. Istilah ini kerap ditujukan kepada relawan Jokowi. Adapun Mulyono merupakan nama kecil dari Jokowi.
"Gak terusik, dan gak ada urusan dengan bos nya para Termul. Tanya bos Termul. Dia perlu bertanggung jawab terhadap ternak-ternaknya," jelas Andreas.
Andreas meyakini JK memang memiliki kekesalan tersendiri dengan para 'termul' sehingga meminta bosnya untuk bertanggung jawab.
"Kekesalan pak JK karena ternak dan didikan pemilik ternak. Makanya Pak JK kesal. Gak ada urusan dengan PDI Perjuangan. Pemilik ternak yang harus tanggung jawab," bebernya.
Sebelumnya diberitakan, JK menegaskan perannya dalam karier politik Jokowi hingga bisa menjadi Presiden RI.
Dia mengungkapkan perannya yang besar terhadap Jokowi. JK turut menyinggung 'termul-termul' untuk membandingkan dengan perannya tersebut.
JK mengatakan dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2012Megawati menolak untuk mengusung Jokowi sebagai cagub.
Lalu, JK mengeklaim bahwa dirinya membawa Jokowi ke Megawati dan mempromosikannya dengan representasi sebaagi sosok 'orang baik'.
"Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi Gubernur. Saya bawa. Saya ke Ibu Mega, 'Ibu ini ada calon baik orang PDIP'. (Megawati menjawab) 'Ah jangan'. Saya datang lagi, akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur," ucap JK dalam konferensi pers di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
JK lantas menyebut Jokowi berterimakasih kepadanya karena telah membuat dia menang Pilgub DKI Jakarta 2012.
Lewat pernyataannya itu, dirinya lantas mengeklaim bahwa tanpa jasanya, Jokowi tidak mungkin bisa maju menjadi capres pada Pilpres 2014 dan berujung menang.
"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?" tegas JK dengan suara lantang.
Pada momen tersebut, JK menyebut Megawati juga sempat enggan untuk mengusung Jokowi menjadi capres dalam Pilpres 2014 jika bukan dirinya yang menjadi cawapres.
"2 tahun dia gubernur (DKI Jakarta), oke silakan, saya tidak campur, saya tidak pernah datang waktu Gubernur. Tiba-tiba jadi Presiden, saya bilanglah, eh belum cukup pengalaman jangan, nanti rusak negeri ini. Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya (cawapres pada Pilpres 2014)," ucap JK.
Dia menjelaskan Megawati mau untuk memasangkan Jokowi dengannya karena berpengalaman. Megawati ingin agar JK membimbing Jokowi.
Kala itu, JK mengaku sempat bimbang karena berencana untuk pulang ke kampung halamannya di Makassar. Namun, akhirnya mau untuk menuruti permintaan Megawati.
"Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang jangan, 'Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf' Ya bukan saya minta, bukan," kata JK.
"Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzzer-buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya," pungkasnya. (aag)
Load more