Kapten Kapal Asal Gowa yang Disandera Perompak Somalia Ungkap Kronologi Mencekam ke Keluarga Saat Video Call
- Idris Tajannang/tvOne
Gowa, tvOnenews.com - Pengakuan mengejutkan disampaikan Kapten kapal tanker Honour 25, Ashari Samadikun (33), saat mendapat kesempatan melakukan video call dengan keluarga dan rekan seangkatannya di sekolah pelayaran PIP Makassar.
Dalam komunikasi singkat itu, Ashari membeberkan detik-detik dramatis saat kapal yang dipimpinnya diserang perompak Somalia.
Sebelumnya diberitakan, Ashari—warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan—disandera bersama 16 kru lainnya sejak 21 April 2026 saat berlayar dari Oman menuju Somalia. Dari total kru, empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia.
Dalam video call tersebut, Ashari menjelaskan kondisi terkini mereka masih dalam pengawasan ketat perompak bersenjata.
- idris tajannang
“Aman, masih dikasih makan dan salat. Semua kru tidur di atas, tapi kalau malam dijaga ketat. Ada yang berjaga di kanan, kiri, dan belakang,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa para perompak memiliki persenjataan lengkap, bahkan disebut membawa amunisi dalam jumlah besar.
“Senjatanya lengkap, pelurunya banyak sekali,” katanya.
Ashari kemudian menceritakan awal mula serangan yang terjadi dini hari. Saat itu, sebuah kapal kecil sempat terlihat mendekat, namun tidak diantisipasi secara maksimal oleh kru yang berjaga.
“Sekitar jam 10 malam ada satu boat memantau dari belakang. Tapi kru tidak melapor. Jam 2 dini hari, datang tiga boat, dua di kanan, satu di kiri,” jelasnya.
Situasi berubah mencekam ketika ia melihat langsung para perompak membawa senjata.
“Saya lihat pakai teropong, ada senjata. Saya bilang dalam hati, ini bahaya,” ujarnya.
Ashari sempat kembali ke kamar untuk mengamankan diri, namun tak lama kemudian rentetan tembakan menghujani kapal.
“Saya masuk kamar, kunci pintu. Tidak lama mereka menembak, kamar saya diberondong,” katanya.
Dalam kondisi genting, ia sempat mengirim pesan suara ke pihak kantor dan keluarga, sebelum akhirnya para perompak berhasil naik ke kapal dan memaksa seluruh kru keluar.
“Mereka dobrak pintu, semua kru saya suruh keluar, angkat tangan,” tuturnya.
Momen paling menegangkan terjadi saat Ashari berhadapan langsung dengan pimpinan perompak yang menodongkan senjata ke kepalanya.
“Saya langsung bilang ‘I am Muslim, don’t shoot’. Dia jawab ‘you Muslim?’ Saya bilang saya Muslim Indonesia, saya kapten,” ungkapnya.
Setelah itu, situasi sedikit mereda. Para perompak kemudian memerintahkan kapal untuk berhenti dan mulai menguasai seluruh isi kapal, termasuk mengambil barang-barang pribadi milik kru.
“Mereka ambil semua uang dan barang kami,” katanya.
Hingga kini, belum ada angka pasti terkait tuntutan tebusan. Ashari bahkan sempat berdialog langsung dengan perompak terkait hal tersebut.
“Saya bilang kapal ini kecil, tua, muatannya juga sedikit, jangan harap terlalu banyak,” ujarnya.
Dalam kondisi tertekan, Ashari juga mengaku beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan.
“Sudah beberapa kali saya ditodong, diancam ditembak. Empat kali mereka ancam kepala saya,” tuturnya.
Ia juga menyebut sempat diminta mendekat ke daratan, namun berusaha menjaga jarak untuk menghindari bertambahnya jumlah perompak.
“Saya tahan kapal sekitar lima mil dari darat, supaya tidak mudah naik tambahan orang,” katanya.
Sementara itu, keluarga di Gowa terus diliputi kecemasan. Istri Ashari, Santi Sanaya (26), sebelumnya mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir menunjukkan kondisi yang tidak menentu dan penuh ancaman.
Keluarga besar korban pun berharap pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto, dapat segera mengambil langkah untuk membebaskan para sandera.
Hingga kini, proses negosiasi disebut masih berlangsung, sementara keselamatan para kru sepenuhnya berada dalam ancaman para perompak. (itg/muu)
Load more