News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Soal Isu Pembatasan Media Sosial, Dr. Stepi Anriani: Pentingnya Melawan Disinformasi

Wacana pembatasan media sosial kembali mengemuka di tengah meningkatnya ancaman disinformasi digital yang kian sistemik.
Rabu, 29 April 2026 - 11:15 WIB
Soal Isu Pembatasan Media Sosial, Dr. Stepi Anriani: Pentingnya Melawan Disinformasi
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, tvOnenews.com - Wacana pembatasan media sosial kembali mengemuka di tengah meningkatnya ancaman disinformasi digital yang kian sistemik. Namun, pendekatan ini dinilai tidak bisa disederhanakan sebagai solusi tunggal, melainkan harus ditimbang secara kritis agar tidak berujung pada pembatasan kebebasan sipil di ruang digital.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Bincang Cendekia Vol. 05 yang diselenggarakan oleh Jaringan Cendekiawan Muda pada Senin (27/04) bertempat di Sadjoe Cafe and Resto, Tebet, Jakarta Selatan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengusung tema “Pembatasan Media Sosial: Solusi Atas Disinformasi atau Ancaman Bagi Ruang Digital?”, Jaringan Cendekiawan Muda menghadirkan Dr. Stepi Anriani selaku Direktur Eksekutif Intelligence and National Security Studies (INSS) sebagai pembicara kunci.

Dalam forum tersebut, Stepi Anriani menegaskan bahwa disinformasi hari ini telah berevolusi sangat jauh menjadi sebuah instrumen strategis dalam lanskap geopolitik kontemporer. 

“Disinformasi hari ini bukan sekadar hoax biasa, tetapi bagian dari operasi yang terstruktur bahkan dapat dikategorikan sebagai cognitive warfare yang menargetkan cara berpikir masyarakat,” ujar Stepi.

Dalam paparannya, ia juga menjelaskan bahwa gangguan informasi terbagi menjadi tiga spektrum utama: misinformasi (kesalahan tanpa niat jahat), disinformasi (informasi palsu yang disengaja), dan malinformasi (informasi benar yang dimanipulasi untuk merugikan). 

Distingsi ini penting, karena tidak semua konten bermasalah dapat diselesaikan dengan pendekatan represif.

Ia juga menggarisbawahi bahwa dalam konteks non-traditional warfare, disinformasi bekerja melalui manipulasi emosi, bias kognitif, dan persepsi publik. Tujuannya bukan sekadar mengubah opini, tetapi menciptakan disorientasi kolektif, di mana kebenaran menjadi kabur dan kepercayaan publik melemah.

Dalam penjelasannya, Stepi menunjukkan bahwa disinformasi kini masuk ke dalam kategori utama dunia. Negara-negara dengan agenda politik besar, seperti pemilu, menjadi target empuk manipulasi informasi digital. 

Indonesia dalam konteks ini, termasuk negara yang cukup rentan, terutama dengan tingginya penggunaan platform seperti TikTok, X, Facebook, dan WhatsApp yang memiliki tantangan besar dalam verifikasi informasi.

Meski demikian, Stepi menolak pendekatan simplistik berupa pembatasan media sosial secara luas. Ia menilai bahwa kebijakan semacam itu berpotensi menimbulkan efek samping yang serius, termasuk pembatasan akses informasi dan kebebasan berekspresi.

“Pembatasan tanpa kerangka yang jelas justru bisa menjadi preseden berbahaya bagi demokrasi digital. Yang kita butuhkan adalah smart regulation, bukan sekadar restriksi,” tegas Stepi.

Sebagai alternatif, Stepi menawarkan pendekatan kolaboratif berbasis ketahanan informasi. Ia menekankan empat pilar utama: penguatan literasi digital masyarakat, akuntabilitas platform melalui transparansi algoritma, regulasi negara yang proporsional, serta peran aktif media dalam menjaga standar jurnalisme dan edukasi publik.

“Pertarungan melawan disinformasi tidak bisa dimenangkan oleh negara saja. Ini adalah kerja kolektif, masyarakat harus menjadi aktor yang kritis, bukan sekadar konsumen informasi,” tutupnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diskusi ini menegaskan bahwa pembatasan media sosial bukanlah isu hitam dan putih. Di satu sisi, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengendallikan disinformasi yang merusak. Namun di sisi lain, terdapat, terdapa risiko nyata terhadap kebebasan digital jika kebijakan dilakukan secara berlebihan.

Dengan demikian, tantangan ke depan bukan sekadar memilih antara pembatasan atau kebebasan, melainkan merumuskan keseimbangan antara keamanan informasi dan prinsip demokrasi di ruang digital.

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Jelang Hadapi PSIM, Shin Tae-yong Ungkap Dampak Pemanggilan 5 Pemain Persija ke Timnas Indonesia

Jelang Hadapi PSIM, Shin Tae-yong Ungkap Dampak Pemanggilan 5 Pemain Persija ke Timnas Indonesia

‎Persija dijadwalkan menghadapi PSIM Yogyakarta pada pekan keempat Super League 2026/2027. Pertandingan tersebut akan berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (10/10/2026).
Program CPCL Jadi Fokus Kemitraan PT SGN dengan Petani Tebu

Program CPCL Jadi Fokus Kemitraan PT SGN dengan Petani Tebu

PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) memperkuat kemitraan dengan petani tebu melalui program Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL).
Mario Aji Evaluasi Hasil Sesi Free Practice, Bognkar Masalah Jelang Moto2 Mandalika

Mario Aji Evaluasi Hasil Sesi Free Practice, Bognkar Masalah Jelang Moto2 Mandalika

Mario Aji menilai gaya membalap menjadi bagian yang perlu diperbaiki sebelum menghadapi kualifikasi dan balapan Moto2 Mandalika.
Namanya Terseret dalam Kasus Dugaan Penipuan Emas, Kirana Larasati: Saya Hanya Brand Ambassador

Namanya Terseret dalam Kasus Dugaan Penipuan Emas, Kirana Larasati: Saya Hanya Brand Ambassador

Artis indonesia, Kirana Larasati menjadi sorotan di tengah kasus dugaan penipuan emas. Hal tersebut menuai perhatian publik, berikut klarifikasinya.
Menengok Hunian Baru Warga Terdampak Rempang Eco-City di Tanjung Banon

Menengok Hunian Baru Warga Terdampak Rempang Eco-City di Tanjung Banon

Kementerian Transmigrasi bersama BP Batam dan instansi terkait mempercepat penataan permukiman di Tanjung Banon, Pulau Rempang. Pada tahap ini, pemerintah fokus membangun 350 unit rumah permanen bagi warga terdampak.
Legenda Manchester United Ryan Giggs Kritik Kebiasaan Pesepak Bola Modern: Bagi Saya Itu Aneh

Legenda Manchester United Ryan Giggs Kritik Kebiasaan Pesepak Bola Modern: Bagi Saya Itu Aneh

Ryan Giigs menilai gestur berpelukan tersebut sangat berbeda dengan budaya persaingan yang dirasakannya ketika masih aktif bermain.

Trending

Guru Pesantren di Bekasi Jadi Tersangka Kekerasan Seksual Puluhan Santri, Petugas Keamanan Diduga Ikut Terlibat

Guru Pesantren di Bekasi Jadi Tersangka Kekerasan Seksual Puluhan Santri, Petugas Keamanan Diduga Ikut Terlibat

Seorang guru di salah satu pondok pesantren di Bekasi ditetapkan sebagai tersangka kekerasan seksual terhadap santriwati. Tiga orang lainnya diduga terlibat dalam kasus ini. Salah satunya merupakan petugas keamanan pesantren.
Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung Viral, Pihak Kampus Ungkap Fakta Ini

Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung Viral, Pihak Kampus Ungkap Fakta Ini

Viral video asusila berdurasi 13 menit diduga memakai atribut Poltekkes Bandung. Pihak kampus membantah pemeran dalam rekaman merupakan mahasiswinya.
Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau objek belas kasihan
3 Fakta soal Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung

3 Fakta soal Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung

Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya rekaman video asusila berdurasi 13 menit yang menyeret nama salah satu institusi pendidikan kesehatan terkemuka
Poin Penting Pernyataan Resmi Jennifer Coppen setelah Terseret Dugaan Penipuan Emas Rp25 Miliar

Poin Penting Pernyataan Resmi Jennifer Coppen setelah Terseret Dugaan Penipuan Emas Rp25 Miliar

Jennifer Coppen menampilkan lima poin dalam pernyataan resmi klarifikasinya setelah diseret dalam kasus dugaan penipuan investasi emas mencapai Rp25 miliar.
Imbas Kekalahan Aneh 6-0 dari Malaysia Masih Terasa, PSSI-nya Singapura Banjir Kritik Usai Umumkan FIFA Matchday Lawan Brasil

Imbas Kekalahan Aneh 6-0 dari Malaysia Masih Terasa, PSSI-nya Singapura Banjir Kritik Usai Umumkan FIFA Matchday Lawan Brasil

Federasi Sepak Bola Singapura (FAS) menuai kritik setelah mengumumkan laga persahabatan melawan Brasil dan Paraguay pada November 2026.
Viral Video Asusila 13 Menit, Siapa Pemerannya? Waspada Link Palsu Berujung Phishing

Viral Video Asusila 13 Menit, Siapa Pemerannya? Waspada Link Palsu Berujung Phishing

Video asusila berdurasi 13 menit yang dikaitkan dengan seragam Poltekkes Bandung viral di media sosial. Siapa pemerannya? Simak klarifikasi kampus dan cara
Selengkapnya

Viral