Pengasuh Daycare Little Aresha dalam Tekanan, Kekerasan Anak Perintah Ketua Yayasan, Polisi: Ada Komplain Potong Gaji
- Tim TvOne - Sri Cahyani Putri
tvOnenews.com - Kasus dugaan kekerasan anak yang dilakukan Daycare Little Aresha di Yogyakarta masih membuat publik geram.
Tak sedikit orang tua yang mempercayakan anaknya untuk dititipkan di Daycare tersebut, namun malah mendapatkan kekerasan.
Setelah dilakukan pemeriksaan, polisi menetapkan status tersangka kepada 13 orang, termasuk Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah.
Pasalnya, Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah bukan hanya mengetahui, melainkan mereka yang memberikan instruksi kepada para pengasuh.
“Selain Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah mengetahui, itu (kekerasan) juga merupakan instruksi dari Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian dalam program acara Apa Kabar Indonesia Pagi, tvOne, Kamis (30/4/2026).
Pengasuh Merasa Tertekan
Kemudian, para pengasuh terpaksa harus melakukan kekerasan tersebut lantaran sudah menjadi sebuah perintah atasan.
Dalam pekerjaannya, pengasuh juga merasa tertekan lantaran pihak yayasan akan memotong gaji setiap mereka mendapat keluhan dari orang tua.
“Para pengasuh bekerja dalam tekanan, setiap ada kejadian, ada luka, ada komplain dari orang tua yayasan secara sepihak memotong gaji dari para pengasuh,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan dari pengasuh terlama, kekerasan ini sudah terjadi sejak pertama kali ia bekerja.
Pada akhirnya, banyak orang tua yang mengeluh sebab apa yang telah Daycare tersebut janjikan berbeda dengan kenyataannya.
Berdasarkan keterangan dari orang tua bayi, mereka diberikan penjelasan bahwa setiap pengasuh akan menjaga 3 bayi.
Namun, pada kenyataannya setiap pengasuh menjaga sekitar 8 hingga 10 bayi dalam sehari.
“Menurut keterangan dari Orang Tua bayi, sebelum melakukan pendaftaran mereka dijanjikan bahwa satu pengasuh maksimal menjaga 3 orang,” jelas Kompol Rizki.
“Setelah dilakukan penggerebekan, kenyataannya para orang tua mengetahui satu pengasuh itu mengasuh 8-10 bayi per harinya,” sambungnya.
Sementara ini, polisi mengungkapkan hingga kini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap para pengurus Daycare.
Akan tetapi, motif pasti di balik kekerasan tersebut yaitu ekonomi. Disaat Daycare sudah terlalu penuh, namun mereka masih menerima bayi-bayi baru.
Sri Sultan Hamengkubuwono X Heran
- Dok. Pemda DIY
Peristiwa ini tak hanya memicu kemarahan publik, tetapi juga menjadi perhatian dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Dirinya mengaku prihatin dan heran atas peristiwa tersebut. Ditambah peristiwa ini sangat disayangkan ketika aksi keji tersebut dilakukan oleh sesama perempuan, yang seharusnya memiliki naluri pengasuhan alami seorang ibu.
“Saya heran itu justru dilakukan oleh ibu-ibu. Memangnya dia nggak punya anak? Memperlakukan anak-anak di bawah umur seperti itu. Saya nggak ngerti mereka itu siapa. Ya kalau laki-laki mungkin, ya, tapi yang melakukan ibu-ibu sendiri kekerasan-kekerasan seperti itu,” ujar Sri Sultan Hamengkubuwono X saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Rabu (29/4/2026).
Baginya, lembaga yang beroperasi sembunyi-sembunyi tanpa izin resmi akan membawa masalah di kemudian hari.
(kmr)
Load more