Defisit APBN Menyusut, Purbaya: Ini Kabar Gembira, Defisit Tinggal 0,64 Persen dari PDB
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai menunjukkan perbaikan signifikan di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan.
Setelah sempat melebar pada Maret 2026, defisit anggaran pemerintah kini mulai menyusut tajam pada April 2026.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan defisit APBN hingga 31 April 2026 turun menjadi 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibanding posisi bulan sebelumnya yang mencapai 0,93 persen terhadap PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, hingga akhir April 2026 APBN tercatat mengalami defisit Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB. Meski masih lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang sempat mencatat surplus Rp4,3 triliun, pemerintah menilai arah fiskal mulai bergerak lebih sehat.
“Ini ada kabar gembira, realisasi sampai April tahun 2026. Defisitnya tinggal Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB,” jelas Purbaya saat konferensi pers APBN KITA, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
Perbaikan paling mencolok terlihat dari posisi keseimbangan primer yang kini kembali mencatat surplus Rp28 triliun. Kondisi ini berbalik drastis dibanding Maret 2026 ketika keseimbangan primer masih mengalami defisit Rp95,8 triliun.
“Tapi keadaan membaik, Anda lihat di situ keseimbangan primer sudah surplus lagi Rp28 triliun dan ke depan mungkin akan terus membaik,” tuturny.
Surplus keseimbangan primer menjadi sinyal penting bagi kesehatan fiskal negara karena menunjukkan pemerintah sudah mampu membiayai kebutuhan belanja di luar pembayaran bunga utang tanpa harus menarik utang baru.
Meski demikian, capaian tersebut masih lebih rendah dibanding posisi April tahun lalu ketika keseimbangan primer sempat mencatat surplus besar mencapai Rp173,9 triliun.
Defisit APBN sendiri terjadi karena realisasi penerimaan negara masih belum mampu mengejar laju belanja pemerintah yang melonjak cukup agresif sejak awal tahun.
Hingga akhir April 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp918 triliun atau 29,1 persen dari target APBN tahun ini sebesar Rp3.153 triliun. Angka itu tumbuh 13,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di pendapatan negara itu tumbuhnya 13 persen di mana pajak tumbuhnya 16 persen dan mungkin akan tumbuh lagi mendekati 20 persen.
“Artinya kita akan usahakan ke sana. Ini jelas lebih bagus prospeknya dibanding tahun lalu ketika kita babak belur. Tahun lalu kan negatif ya pertumbuhannya pajak -10,8 (persen),” ungkap Purbaya.
“Di sisi lain, belanja negara melonjak jauh lebih tinggi. Pemerintah telah membelanjakan Rp1.082,8 triliun atau 28,2 persen dari total target belanja Rp3.842 triliun sepanjang 2026. Nilainya melesat 34,3 persen dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu,” lanjutnya.
Lonjakan belanja tersebut membuat pemerintah harus menjalankan pembiayaan anggaran sebesar Rp298,5 triliun atau setara 43,3 persen dari target pembiayaan APBN tahun ini sebesar Rp689,1 triliun.
Meski angka pembiayaan masih besar, pemerintah menilai posisi fiskal tetap terkendali karena defisit masih berada jauh di bawah target tahunan sebesar 2,68 persen terhadap PDB.
Perbaikan keseimbangan primer juga dinilai menjadi indikator penting bahwa tekanan fiskal mulai mereda di tengah derasnya kebutuhan belanja negara dan tingginya ketidakpastian ekonomi global.(agr/raa)
Load more