Penyiksaan Brutal Israel Selama 4 Hari Penahanan, Dipaksa Merangkak dan Tidur di Lantai Basah!
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Relawan Indonesia dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 Herman Budianto membongkar, penyiksaan brutal yang dilakukan tentara Israel terhadap para aktivis internasional yang ditahan usai armada bantuan menuju Gaza dicegat di Laut Mediterania.
Herman mengatakan kekerasan sudah terjadi sejak proses intersepsi hingga masa penahanan yang berlangsung selama empat hari. Ia menyebut perlakuan aparat Israel terhadap para relawan jauh dari nilai kemanusiaan.
“Kami menyampaikan bahwa memang penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IDF itu nyata, sangat keji sangat brutal,” ujar Herman di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026).
Menurut Herman, para relawan mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik selama ditahan. Bahkan, sejumlah peserta misi kemanusiaan disebut mengalami luka berat akibat dugaan penganiayaan tersebut.
“Dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang sekitar empat hari melakukan penyiksaan-penyiksaan tadi,” katanya.
“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah ada sekitar 40 orang patah tangan patah kaki ya patah hidung ada yang ditembak dan seterusnya,” sambung Herman.
Tak hanya kekerasan fisik, Herman juga mengungkap adanya dugaan pelecehan seksual terhadap relawan laki-laki maupun perempuan selama proses penahanan berlangsung.
“Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima oleh baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut,” ungkapnya.
Herman menggambarkan kondisi di dalam penjara yang menurutnya sangat tidak manusiawi. Para tahanan disebut dipaksa berjalan merangkak menggunakan lutut, terus menundukkan kepala, dan dilarang menatap aparat Israel.
“Belum lagi hal-hal yang lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya diperlakukan seperti hewan ya yang kami harus berjalan dengan merangkak dengan lutut kami, kami harus berjalan dengan selalu menunduk tidak boleh menatap mereka,” tutur Herman.
Para relawan juga disebut tidur di lantai dalam kondisi basah tanpa selimut maupun bantal, sementara pakaian yang mereka kenakan tetap basah selama masa penahanan.
“Kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut tidak ada bantal dalam kondisi basah dan baju basah,” katanya.
Load more