Dedi Mulyadi Wanti-Wanti, Penggunaan HP Tidak Terkontrol Bisa Merusak Mentalitas Generasi Muda Jawa Barat
- Tangkapan layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperingatkan bahwa penetrasi gawai atau HP dan sepeda motor yang tidak terkontrol dapat merusak mentalitas generasi muda Jawa Barat secara sistematis.
Hal ini dikatakannya saat memberikan sambutannya usai salat id di Kota Banjar pada Rabu (27/5/2026) lalu.
Dalam sambutannya, Kang Dedi Mulyadi atau KDM bicara soal banyak hal. Salah satu yang menjadi sorotannya, yakni perilaku masyarakat modern dalam hal prioritas ekonomi dan pendidikan anak.
KDM menegaskan negara memang menjamin sekolah gratis hingga tingkat SMA bagi warga tidak mampu termasuk memberikan subsidi penuh bagi anak miskin yang bersekolah di institusi swasta melalui kerja sama pemerintah.
Akan tetapi, dia menyayangkan mentalitas sebagian orang tua yang sering mengaku-ngaku tidak punya uang untuk keperluan pendidikan, tapi sangat konsumtif untuk gaya hidupnya.
“Kalau untuk bayaran atau sumbangan sekolah Rp100.000 ributnya bisa sealam dunia. Tapi untuk beli HP baru, beli motor atau uang jajan anak Rp30.000 setiap hari, mereka diam saja, tidak pernah mengeluh,” katanya.
KDM lantas membandingkan etos kerja generasi tahun 1980-an dan 1990-an dengan generasi masa kini.
Menurut dia, anak-anak desa zaman dulu sudah terbiasa membantu orang tuanya secara fisik mulai dari menumbuk padi hingga berkebun.
Akan tetapi, saat ini, banyak orang tua yang bekerja keras sementara anak-anaknya hidup bermewah-mewahan mengandalkan gawai atau HP dan sepeda motor.
“Dulu anak-anak menunduk melihat cangkul (bekerja), mendongak melihat masa depan. Sekarang menunduk melihat HP, mendongak melihat motor. HP butuh kuota, motor butuh BBM, padahal penghasilan orang tua makin turun,” terangnya.
KDM menilai gaya hidup seperti itu berpotensi merusak tatanan keluarga.
Pasalnya, saat anak menuntut fasilitas di luar kemampuan ekonomi, maka orang tua yang terjebak gengsi akhirnya menempuh jalan pintas dengan meminjam uang ke bank emok atau pinjaman online (pinjol) ilegal.
Bahkan, sambung KDM, sebagian dari mereka mencoba melunasi utang tersebut melalui aktivitas judi online (judol).
“Akhirnya yang terjadi adalah orang gila bertemu dengan orang tidak waras,” pungkasnya. (nsi)
Load more