Rupiah Ditutup Rp18.049, Pengamat Sebut Bayang-Bayang Defisit Fiskal Tekan Pasar
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Jakarta, tvOnenews.com - Tekanan terhadap Rupiah pada perdagangan Kamis (4/6/2026) ditutup melemah 82 poin ke level Rp18.049 per Dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.966.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal, lonjakan harga minyak dunia, hingga munculnya outlook negatif dari Moody’s terhadap Danantara Investment Management.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen domestik dan global masih membayangi pergerakan rupiah sehingga tekanan diperkirakan berlanjut pada perdagangan berikutnya.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 82 point sebelumnya sempat melemah 90 point dilevel Rp18.049 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.966,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Untuk perdagangan Jumat (5/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.050-Rp18.120,” ujarnya.
Tekanan terhadap rupiah muncul seiring meningkatnya kecemasan pasar terhadap dampak harga minyak mentah yang masih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar beban fiskal pemerintah sekaligus mengganggu keseimbangan eksternal Indonesia.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar mulai mengkhawatirkan risiko defisit fiskal yang mendekati batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Selain itu, muncul pula kekhawatiran terhadap kemungkinan intervensi pemerintah yang lebih besar di sektor komoditas.
“Kekhawatiran yang meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3 persen dan keseimbangan eksternal, membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, dan kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadap pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti,” jelasnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh melemahnya kinerja perdagangan Indonesia. Surplus neraca perdagangan yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas rupiah mulai tergerus akibat lonjakan impor minyak.
“Sementara itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, tekanan inflasi juga mulai meningkat. Inflasi Mei tercatat mencapai 3,08 persen atau berada di atas titik tengah target Bank Indonesia. Kenaikan harga barang impor disebut menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi.
Load more