Jokowi Berkomentar soal Pleidoi Nadiem Makarim: Orang Baik
- Tangkapan layar tvOne
Jakarta, tvOnenews.com - Terkait pleidoi mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim di kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM). Ternyata mendapat perhatian dan komentar dari sejumlah elite politik hingga mantan Presiden ke-7, Jokowi.
Bahkan mantan Walikota Solo itu menanggapi soal namanya yang beberapa kali disebut dalam sidang Nadiem.
"Ya, yang saya tahu, Menteri Nadiem Makarim orang baik," ungkap Jokowi seperti dikutip pada Jumat (5/6/2026).
Bahkan, ayah Wapres Gibran itu menghormati semua proses hukum yang berjalan.
Termasuk Nadiem yang sempat mengucapkan terima kasih kepada para Kepala Negara termasuk ke dirinya dan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Ya, itu proses hukum," ucapnya.
Mengenai namanya yang sering disebut Nadiem di persidangan bahwa pengadaan laptop tersebut sesuai arahan Presiden terkait digitalisasi pendidikan, Jokowi menegaskan bahwa seluruh kebijakan maupun program yang dijalankan oleh menteri memang bersumber dari arahan Presiden.
"Ya, semua kebijakan, semua program, memang semuanya dari Presiden," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, Nadiem Makarim membacakan nota pembelaan atau pledoi kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM). Nadiem merasa tidak bersalah dalam kasus ini.
Pledoi dibacakan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).
Nadiem awalnya menyebut pengadaan Chromebook menghemat pengeluaran negara Rp 3,9 triliun.
Selain itu, ia menceritakan fakta-fakta mencengangkan terkait kondisi dirinya saat di balik jeruji besi saat membacakan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Dalam persidangan, Nadiem ceritakan kondisi psikologisnya saat awal penahanan karena harus ditempatkan di dalam ruang isolasi.
Bahkan Nadiem mengaku seolah dunia terasa seperti berakhir.
"Di awal masa tahanan, dunia terasa seperti berakhir. Saya sendirian dalam kurungan isolasi, seolah dibuang begitu saja," cerita Nadiem saat membacakan pleidoinya.
Selain itu, ia akui, dirinya kerap berhalusinasi dan berharap hal yang menimpanya hanyalah mimpi semata.
"Kadang kala saya terbangun tengah malam di rumah tahanan, dan untuk sekejap, saya mengira bahwa ini hanya mimpi buruk, dan sebentar lagi akan dibangunkan istri saya. Tapi yang saya lihat justru jeruji besi," sambungnya.
Dari kondisi yang menekan itu, Nadiem menuturkan bahwa dirinya mendapat banyak pelajaran, mulai dari melatih kesabaran hingga memasrahkan diri kepada Tuhan.
"Tetapi melalui pengalaman pahit ini saya mendapatkan banyak pembelajaran. Saat kebebasan dirampas, tidak ada tempat lain bertualang kecuali ke dalam diri kita sendiri. Saya belajar untuk bersabar, suatu hal yang sulit untuk saya. Saya belajar untuk memasrahkan diri kepada Allah di saat yang tergelap. Dan dengan jalannya waktu, perlahan-lahan, saya belajar untuk mengheningkan pikiran saya," jelas Nadiem.
Nadiem menyebut bahwa penderitaan terberat di dalam penjara bukanlah hilangnya kebebasan fisik, melainkan ketidakpastian nasib yang terus membebaninya.
"Bagi yang belum mengalami penjara, penyiksaan terbesar bukanlah dirampasnya kebebasan, tetapi ketidakpastian yang menghantui pikiran kita dari pagi sampai malam. Bagaimana keluarga saya? Apakah yang akan terjadi besok? Apakah dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Penjara di dalam kepala kita jauh lebih menyakiti dari jeruji besi yang mengunci kita," jelasnya.
Di akhir, Nadiem mengaku dan meyakini bahwa pengalaman penahanan tersebut adalah kesempatan untuk menemukan harapan baru dalam dirinya.
"Tetapi di dalam kegelapan itulah saya menemukan cahaya baru di dalam diri saya. Penjara melatih saya untuk bisa beriman dalam ketidakpastian. Karena itu, saya dapat berdiri pada hari ini, tanpa rasa takut, siap menghadapi apa pun yang Allah akan berikan kepada saya," pungkas Nadiem. (aag)
Load more