Anindya Ungkap Hasil Kunjungan Prabowo ke Prancis: Kesepakatan Baru Tembus US$3,5 Miliar
- tvOnenews/ Abdul Gani Siregar
Meski menjadi sorotan, Kadin tetap mendukung langkah pemerintah karena kunjungan tersebut tidak hanya berisi agenda government to government (G-to-G), tetapi juga membuka ruang kerja sama business to business (B-to-B) yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi.
“Namun kami tetap teguh di bawah kepemimpinan Pak Menlu dan timnya untuk mendukung Presiden kita guna memastikan bahwa kita tidak hanya pergi ke sana untuk kegiatan G-to-G tetapi juga kegiatan B-to-B, yang disebut sebagai diplomasi ekonomi,” lanjut Anindya.
Anindya menegaskan bahwa hasil kunjungan tersebut dapat diukur secara konkret dari nilai kerja sama yang berhasil dihimpun.
“Selama kunjungan tersebut saja, kita mengumpulkan di dalam satu ruangan dengan kehadiran dua presiden sekaligus, perusahaan-perusahaan senilai US$300 miliar dari Prancis dan Indonesia, dan kita menandatangani kesepakatan baru senilai US$3,5 miliar di atas US$11 miliar pada tahun 2025 saat kunjungan Presiden Macron. Itu baru satu contoh,” ujarnya.
Salah satu hasil konkret dari kunjungan tersebut adalah pembentukan Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Prancis-Indonesia yang dirancang sebagai wadah permanen untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
“Dalam kunjungan itu saja, kita mendirikan Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Prancis-Indonesia. Mengapa kita melakukan ini? Karena kita ingin lembaga ini bertahan melampaui individu-individu yang ada sekarang,” katanya.
Menurut Anindya, keberadaan lembaga tersebut penting untuk memastikan kerja sama ekonomi tidak berhenti pada satu kunjungan atau pergantian pemerintahan, melainkan terus menghasilkan tindak lanjut yang nyata.
Pada akhirnya, kata Anindya, tujuan utama diplomasi ekonomi sangat jelas: memperbesar perdagangan dan investasi yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita ingin memastikan ada tindak lanjut, karena pada akhirnya, seperti yang kami laporkan kepada Bapak Menteri Luar Negeri, kami di Kadin peduli pada dua hal yakni lebih banyak perdagangan dan lebih banyak investasi. Dan sisanya adalah turunan yang sangat penting, yaitu lapangan kerja, sebagai contoh,” pungkasnya. (agr/ree)
Load more