Imbas Dugaan Diintimidasi Oknum DPRD, Apa Saja Percakapan Terakhir Dokter Icha yang Buat sang Ibu Berlinang Air Mata?
- tvOneNews
Kupang, tvOnenews.com - Nur Azizah, ibu dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha menggetarkan ribuan pelayat. Ia membagikan kisah mendiang anaknya sebelum tewas bunuh diri.
Para pelayat mendadak hening saat upacara menjelang pemakaman Dokter Icha di rumah duka di Perumahan RSS Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (29/6/2026) siang.
Nur menceritakan dampak dugaan intimidasi dialami Dokter Icha. Perlakuan sejumlah oknum anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) membuat dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu ditemukan meninggal dunia gantung diri, Jumat (26/6/2026).
Di hadapan para keluarga, sahabat, rekan sejawat, tokoh publik hingga masyarakat, Ia mengenang kisah saat putri tercintanya terakhir kali bercerita kepada dirinya. Hal itu terjadi setelah diduga mendapat intimidasi dari oknum anggota DPRD TTU.
Percakapan Terakhir Dokter Icha dengan sang Ibu
- Instagram @kemenkes_ri
1. dr Icha Menangis Akibat Dugaan Diintimidasi
Nur menyampaikan bahwa, Dokter Icha merasa sangat terbebani. Penyebabnya tak lepas akibat mendapat perlakuan intimidasi saat menangani pasien anak yang terkena bisa ular.
"Anak saya menelepon sambil menangis dan menjerit. Dia berkata, 'Mama, saya sedang diintimidassi anggota dewan'," ujar Nur sambil berlinang air mata.
Ia mengatakan, putrinya telah bekerja sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Namun kinerjanya merasa tidak dihargai oleh beberapa anggota DPRD Kabupaten TTU.
"Dia berkata lagi, 'Saya sudah berkonsultasi dengan dokter ahli bisa ular satu-satunya di Indonesia, dr Tri Maharani'," tuturnya.
Cerita tersebut tampak sangat membekas dalam benak ingatannya. Ia tidak bisa melupakan suara hati yang dialami oleh mendiang dr Icha.
Kenangan ini membuat suaranya selalu terbata-bata namun berhasil membuat para pelayat yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir berusaha menahan air matanya.
Ia tidak menyangka penjelasan putrinya tidak meredakan ketegangan. Bahkan, Dokter Icha semakin mendapat perlakuan yang membuatnya depresi.
2. dr Icha Depresi usai Diancam
Nur masih mengingat betul saat terjadinya momen tersebut. Putri tercintanya mengaku sangat takut lantaran dua anggota DPRD TTU, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani memberikan ancaman.
Dugaan ancaman itu memicu depresi bagi dr Icha. Pasalnya, hal ini sangat berkaitan dengan praktiknya sebagai dokter yang bertugas di IGD RS Leona.
Ancaman bernada tinggi tersebut membuat dr Icha takut saat kembali melihat mereka mendatangi IGD. Keberadaan dua oknum itu mendorong sang dokter tidak menjalani tugas dan memutuskan pulang ke rumah.
"Dia bilang lagi, 'Mama, saya sudah tidak kuat'. Dia ketakutan karena di depan banyak orang, ada (oknum anggota DPRD) yang mengatakan praktiknya bisa dihentikan saat itu juga," terangnya.
Kasus ini semakini terungkap setelah rekan kerjanya tidak dapat berkomunikasi dengan dr Icha. Hal itu terjadi pada Minggu, 14 Juni 2026, sekitar pukul 19.00 WITA.
Situasi tersebut membuat rekan kerjanya menyambangi tempat tinggal dr Icha. Di momen inilah, korban telah dalam keadaan lemah dan dibawa untuk menjalani perawatan di RS Leona.
3. Sang Ibu Kuatkan Mental Putrinya
Kepala Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT itu sangat meyakini izin praktik anaknya sebagai tenaga kesehatan hingga operasional rumah sakit tidak mungkin dicabut secara mendadak.
Ia sebagai seorang birokrat tentu mengetahui betul mekanisme administrasi pemerintahan terhadap kedua aspek ini. Ia berusaha menenangkan dan menghilangkan ketakutan putrinya.
"Saya mengingat betul saya bilang 'jangan takut. Tidak semudah itu membekukan izin praktik maupun operasional rumah sakit. Semua ada mekanismenya'," ucap Nur.
Alih-alih berhasil, sejumlah upaya yang bertujuan meredakan ketakutan berujung sia-sia. Menurut Nur, trauma akibat dugaan ancaman tersebut sudah sangat membekas dalam pikiran dr Icha.
Ia berpendapat nada hingga penyebutan penghentian operasional rumah sakit menyebabkan dr Icha mengalami tekanan psikologis tingkat tinggi.
"Dia berpikir dan itu menjadi beban sangat berat bagi dia," imbuhnya.
4. Tidak Menyangka sang Anak Berakhir Tragis
Ia yang semakin tak kuasa menahan air matanya mengungkapkan kesedihan mendalamnya. Ia sebagai seorang ibu sangat mencintai sang putri.
Ia masih bertanya-tanya kenapa fenomena seperti ini harus dialami anaknya. Ia mengaku selalu merasa bangga dan terlebih lagi putri tercintanya telah mewujudkan mimpinya.
"Saya tidak pernah membayangkan dan bermimpi, hal seperti ini bisa terjadi kepada anak saya," ucapnya.
Kehilangan dr Icha melukai hatinya. Kondisi ini sangat sulit diterima lantaran dirinya telah melahirkan hingga membesarkan anaknya dibalut dengan penuh kasih sayang.
"Anak saya harus meregang nyawa akibat tekanan psikologis begitu luar biasa dari sejumlah pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab," kesalnya.
Diketahui, kasus kematian dr Icha menggegerkan publik terutama di lingkungan tenaga medis dan kesehatan. Dampak viralnya peristiwa ini membuat dua anggota DPRD TTU buka suara.
Dua anggota DPRD TTU diduga mengintimidasi dr Icha, Therensius Lazakar dan Norbertur Tubani membantah tuduhan tersebut. Mereka membenarkan peristiwa ini terjadi saat korban menangani pasien anak terkena gigitan ular pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Therensius tak membantah nada bicaranya sempat meninggi di tengah situasi tersebut. Namun hal tersebut lantaran pihak keluarga pasien panik melihat kondisi anaknya.
Kasus ini juga membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta sejumlah pihak lainnya turun gunung. Pada Senin, 29 Juni 2026, Kemenkes mulai investigasi mengungkap penyebab dr Icha tewas bunuh diri diduga akibat intimidasi dari anggota dewan.
(hap)
Load more