Belum Terlambat untuk Tinggi dan Bergizi: Kisah Akhtar Melawan Stunting di Lereng Puncak Bogor
- Ammar Ramzi
Seusai bilasan air mengalir bersih dari jemari mereka, rangkaian acara pagi itu ditutup dengan sesi makan bersama Makanan Bergizi Gratis (MBG). Anak-anak tampak tak sabar menyantap menu hari itu; ayam kecap, tempe, capcai, serta jeruk sebagai pencuci mulut.
Stunting 'Tak Kasat Mata' di Daerah Penyangga Ibu Kota
Namun, di balik keceriaan yang merekah di lapangan sekolah tersebut, tersimpan realita kesehatan anak yang perlu diresahkan bersama.
Berdasarkan rilis Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) awal tahun 2025, angka stunting di Kabupaten Bogor masih berada di angka 7,59 persen.
Di SDN Sukamanah 01 sendiri, berdasarkan proses skrining awal tahun ajaran 2026 terjaring 29 siswa dari sekitar 600 anak yang masuk dalam kategori gizi kurang atau stunting. Mereka membutuhkan intervensi nutrisi khusus.
Maka dari itu JAPFA for Kids hadir mengintervensi persoalan ini lewat formula yang terukur yakni pemberian satu butir telur omega per hari, serta pemeriksaan perkembangan gizi setiap bulan selama satu semester.
- Ammar Ramzi
Salah satu penerima manfaat tersebut adalah Akhtar, siswa kelas 3. Sekilas, tidak ada yang aneh dengan perawakan Akhtar. Ibunda Akhtar, Leni, mengaku terkejut saat pertama kali diberitahu kondisi fisik putranya.
"Jujur saya tidak tahu kalau Akhtar masuk kategori gizi kurang, karena saya jarang bawa dia ke Puskesmas dan kelihatannya sehat-sehat saja," cerita Leni, Jumat (21/8/2026).
"Tapi memang di rumah anak saya agak pilih-pilih makanan, lebih senang jajan," imbuhnya.
Kondisi yang dialami Akhtar menggambarkan fenomena stunting atau masalah perawakan pendek yang tidak selalu kasat mata.
Pakar Gizi Ibu dan Anak dari Universitas Airlangga Prof. Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si., menjelaskan bahwa anak yang mengalami kondisi ini memang bisa tampak normal dari luar jika hanya mengamati berat badannya.
"Stunting ditentukan dari tinggi badan berdasarkan usia. Anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan harus memiliki pertambahan tinggi yang sejalur dengan kurva normal," terang Prof. Sri Sumarmi kepada tvOnenews.com, Jumat (28/8/2026).
Ia menambahkan, bagi anak usia sekolah, kondisi tinggi badan yang tidak sesuai usia, lebih tepat disebut perawakan pendek (stunted).
Load more