Belum Terlambat untuk Tinggi dan Bergizi: Kisah Akhtar Melawan Stunting di Lereng Puncak Bogor
- Ammar Ramzi
"Jika terlihat sehat dan tidak kurus, berarti status gizi berdasarkan berat badan menurut tinggi badannya tergolong normal. Namun, perawakan pendek pada usia sekolah umumnya mengindikasikan adanya riwayat stunting saat masa balita atau baduta (bawah dua tahun),” jelas Prof. Sri Sumarmi.
“Kondisi ini menyimpan potensi risiko penurunan kemampuan kognisi karena perkembangan jaringan otak terjadi paling pesat pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan," lanjutnya.
Di usia SD ini, intervensi untuk mengejar tinggi badan belum terlambat.
Berdasarkan publikasi ilmiah di Jurnal Gizi Indonesia milik PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia), pertumbuhan tinggi badan linear anak Indonesia umumnya baru akan melambat secara signifikan dan berhenti tumbuh sepenuhnya di akhir masa pubertas, yaitu sekitar usia 18 hingga 20 tahun.
Kehadiran intervensi gizi ini disyukuri Leni sebagai bentuk kewaspadaan dini demi cita-cita besar sang buah hati.
"Alhamdulillah setelah rutin ikut program, baru sebulan berat badannya sekarang bertambah. Ini sangat membantu. Apalagi anak saya punya cita-cita ingin jadi polisi, semoga bisa tercapai," ujar Leni memupuk harapan.
Secercah Harapan di Bulan Pertama
Fasilitator JAPFA for Kids wilayah Megamendung Muhammad Trisna memaparkan bahwa terdapat total 127 siswa teridentifikasi mengalami gizi kurang yang tersebar di tujuh sekolah pendampingan di kawasan Megamendung.
"Setelah satu bulan intervensi, evaluasi pengukuran menunjukkan grafik yang positif. Rata-rata anak mengalami kenaikan berat badan antara 0,7 kg hingga 2 kg. Untuk pertambahan tinggi badan biasanya evaluasinya butuh waktu lebih lama," papar Trisna.
- Ammar Ramzi
Metode intervensi dilakukan secara ketat. Masing-masing anak mendapat jatah 7 butir telur omega per minggu.
Pada hari sekolah (Senin–Jumat), telur diolah oleh orang tua dan wajib dikonsumsi anak di sekolah sebagai protein hewani tambahan penyempurna menu MBG.
Sementara pada akhir pekan atau hari libur nasional, pemenuhan konsumsi telur dilanjutkan di rumah, di mana orang tua wajib mengirimkan foto bukti konsumsi ke wali kelas sebagai bentuk pemantauan berkala.
"Selain monitoring nutrisi, kami juga menggelar Hari Sehat JAPFA tiap pekan untuk mengedukasi siswa soal gizi seimbang, perilaku hidup bersih, pemeriksaan kuku, hingga evaluasi berkala dan MCU (Medical Check Up) guna mendeteksi ada atau tidaknya riwayat penyakit penyerta pada anak," tambah Trisna.
Load more