Sebelum Tewas di Tengah Kericuhan Pejompongan, Bambang Sempat Berjualan Bersama Istri
- Adinda Ratna Safira-tvOne
Rekaman yang diperiksa berasal dari beberapa titik kamera CCTV. Polisi juga menganalisis video maupun konten yang beredar di media sosial dan memiliki keterkaitan dengan peristiwa hukum tersebut.
Analisis terhadap berbagai rekaman itu dilakukan untuk mencocokkannya dengan keterangan saksi terkait dugaan tindak pidana yang terjadi.
Pedagang Cermin Meninggal Saat Kericuhan
Perkara dugaan penganiayaan tersebut berkaitan dengan meninggalnya pedagang cermin bernama Bambang Setiyawan (59).
Bambang diketahui meninggal dunia setelah keluar dari rumahnya di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, ketika kericuhan terjadi pada Kamis (27/8) malam.
Bambang kemudian diketahui berada di Rumah Sakit (RS) Polri. Hal tersebut diceritakan oleh istrinya, Sudarsi (56).
Sudarsi mengatakan dirinya masih menemani Bambang berjualan cermin di Pejompongan pada Kamis (27/8) sore. Keduanya berjualan hingga sekitar pukul 16.30 WIB.
Padahal, biasanya pasangan tersebut baru menutup tempat usaha mereka sekitar pukul 18.00 WIB. Namun, kondisi berubah ketika Sudarsi melihat massa mulai berdatangan di sekitar lokasi.
Melihat situasi tersebut, Sudarsi kemudian meminta Bambang menutup tempat usaha mereka lebih awal.
“Sebenarnya kita belum tutup. Tutupnya itu jam 18.00. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak, akhirnya saya bilang sama Bapaknya, 'Itu massa sudah banyak, tutup',” kata Sudarsi saat ditemui wartawan, Jumat.
Keterangan Sudarsi menjadi bagian dari informasi mengenai kondisi sebelum Bambang akhirnya meninggal dunia setelah keluar dari rumahnya di tengah kericuhan kawasan Pejompongan.
Sementara itu, penyidik Polda Metro Jaya masih menggunakan keterangan saksi serta hasil pemeriksaan rekaman CCTV dan konten media sosial untuk mengungkap rangkaian peristiwa serta mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat dalam penganiayaan tersebut.
Load more