Karhutla Sumatra Mulai Terkendali, Penanganan Kini Diperkuat di Kalimantan
- Mayawana Persada.
Ketapang, tvOnenews.com-Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat di sejumlah wilayah Indonesia. Setelah kondisi di Sumatra relatif lebih terkendali, penguatan personel, peralatan, dan armada udara kini terutama diarahkan ke wilayah Kalimantan yang masih menghadapi titik api dan dampak asap.
Berdasarkan kondisi per 1 September 2026, tercatat 157 titik api di enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 50 titik api, disusul Kalimantan Barat 31 titik dan Kalimantan Selatan 29 titik.
Sementara di Sumatra, tercatat 21 titik api di Sumatera Selatan, 19 titik di Riau, dan tujuh titik di Jambi.
Penanganan di sejumlah wilayah Sumatra menunjukkan perkembangan setelah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan turunnya hujan di beberapa daerah. Di Riau, OMC dilakukan menggunakan 3.000 kilogram bahan semai dan menghasilkan hujan ringan hingga sedang di Bengkalis, Siak, dan Pekanbaru.
Sementara di Jambi, sebanyak 2.000 kilogram bahan semai digunakan dalam OMC dan menghasilkan hujan ringan di sejumlah wilayah. Tiga helikopter juga dikerahkan untuk melakukan pengeboman air dengan total 240.000 liter air.
Di Sumatera Selatan, penanganan masih diprioritaskan di Ogan Komering Ilir (OKI), karena masih terdapat area yang belum sepenuhnya padam dan sejumlah titik asap. Personel terus melakukan pemadaman, pendinginan, pengecekan, serta penjagaan untuk mencegah api kembali menyala.
Penanganan Diperkuat di Kalimantan
Di tengah kondisi Sumatra yang relatif lebih terkendali, penanganan kini diperkuat di Kalimantan, terutama Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Di Kalimantan Barat, lebih dari 511 hektare lahan tercatat terbakar dan lebih dari 135 hektare telah dipadamkan. Penanganan melibatkan 14.563 personel yang tersebar di 25 lokasi pada delapan kabupaten/kota.
Empat helikopter telah menjatuhkan sekitar 408.000 liter air, dengan operasi udara dipusatkan di Mempawah, Ketapang, dan Kubu Raya.
Dampak asap juga masih menjadi perhatian. Kualitas udara di Kalimantan Barat berada dalam kategori berbahaya dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, lebih dari 77 hektare lahan terbakar dan lebih dari 48 hektare telah dipadamkan. Kualitas udara tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat dengan jarak pandang sekitar tiga kilometer.
Kalimantan Selatan juga masih menghadapi karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 348 hektare. Lebih dari 80 hektare di antaranya telah dipadamkan.
Lima helikopter telah dikerahkan di Kalimantan Selatan dengan menjatuhkan sekitar 1,21 juta liter air untuk menangani area seluas 58 hektare. Tim darat turut menangani sekitar 22 hektare serta membangun kanal dan sumur baru untuk mendukung proses pemadaman.
Upaya pemadaman di wilayah tersebut menghadapi sejumlah kendala, mulai dari akses menuju lokasi kebakaran, jauhnya sumber air, luasnya area terbakar, hingga kondisi angin dan asap.
53 Armada Udara Dikerahkan
Secara keseluruhan, pemerintah mengoperasikan 53 armada udara untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 19 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca, sedangkan 34 helikopter dikerahkan untuk pengeboman air.
Penggunaan armada disesuaikan dengan lokasi titik api, kondisi cuaca, serta kebutuhan penanganan di masing-masing wilayah.
OMC masih dilakukan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Namun, terbatasnya pertumbuhan awan membuat operasi tersebut belum menghasilkan hujan.
Kondisi itu membuat strategi penanganan diperkuat melalui patroli, pemadaman darat, pengeboman air, penyekatan area terbakar, pembasahan lahan gambut, serta pendinginan berulang untuk mencegah api kembali menyala.
Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan BNPB, sebaran polutan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan pada 3 September 2026 diperkirakan lebih luas dibandingkan hari sebelumnya.
Pemantauan kualitas udara dan perlindungan terhadap masyarakat pun terus dilakukan. Di Kalimantan Barat, kegiatan belajar sementara dilakukan dari rumah dengan mempertimbangkan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara.
Penanganan karhutla juga dibarengi upaya pencegahan dan penegakan hukum. Pengawasan dilakukan terhadap 21 badan usaha di tujuh provinsi yang saat ini masih menjalani proses verifikasi lapangan oleh penyidik lingkungan hidup.(Ist)
Load more