Kemenko Infra: Indonesia Siap Perkuat Ekosistem Baterai dan Transisi Energi
- Istimewa
“Kalau kita melihat prospek jangka menengah kemudian jangka panjangnya, nikel itu tetap positif. Meskipun kalau kita lihat jangka pendeknya, industri nikel masih akan menghadapi tekanan dari pertumbuhan supply yang sangat besar, terutama dari Indonesia, dan juga volatilitas harga,” kata Bernardus.
Pertumbuhan EV dan BESS membuat hilirisasi nikel tidak lagi semata-mata berbicara mengenai peningkatan produksi tambang. Tantangannya adalah memastikan peningkatan permintaan tersebut dapat ditangkap melalui industri pengolahan dan manufaktur di dalam negeri.
Ekosistem tersebut menghubungkan pengolahan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara, dengan manufaktur baterai di Karawang, Jawa Barat, dengan nilai investasi sekitar US$5,9 miliar.
Pada sisi manufaktur, fasilitas CATIB di Karawang memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun dan ditargetkan meningkat menjadi total 15 GWh pada 2028. Fasilitas tersebut memproduksi sel baterai dan battery pack untuk kendaraan listrik maupun BESS.
Selain nikel, MIND ID juga memiliki portofolio tembaga, aluminium, dan timah yang dapat mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Dengan demikian, pertumbuhan EV dan BESS memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperluas pasar hilirisasi sekaligus membangun rantai pasok teknologi energi yang lebih terintegrasi di dalam negeri.
Load more