Kemenko Infra: Indonesia Siap Perkuat Ekosistem Baterai dan Transisi Energi
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com — Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra), Ridha Yasser menilai prospek hilirisasi nikel Indonesia tetap cerah seiring pertumbuhan pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system/BESS).
“Perkembangan tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok baterai global,” ujar dia dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Shanghai Metal Market memproyeksikan Indonesia pada 2030 berpeluang menguasai 20 persen pasar precursor cathode active material (pCAM) dunia, 15 persen pasar cathode active material (CAM), dan 10 persen pasar baterai litium-ion.
Proyeksi tersebut menunjukkan peluang Indonesia untuk bergerak dari pemasok bahan baku menuju produsen material dan produk bernilai tambah.
Dia mengatakan besarnya cadangan nikel menjadi modal penting untuk masuk ke industri baterai. Namun, kekayaan sumber daya alam perlu diikuti kemampuan membangun rantai industri di dalam negeri.
“Memiliki sumber daya alam yang melimpah memang memberikan Indonesia tiket masuk ke industri baterai global, tetapi tiket masuk tidak selalu berarti kita mendapatkan kursi di barisan depan,” kata Ridha.
Menurut dia, posisi Indonesia dalam rantai pasok global akan ditentukan oleh kemampuan menciptakan nilai tambah, mulai dari pengolahan mineral hingga manufaktur baterai dan daur ulang.
Peluang hilirisasi nikel juga didorong oleh semakin beragamnya kebutuhan baterai. Selain EV, permintaan datang dari BESS yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Sementara, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengembangan PLTS dalam skala besar membutuhkan dukungan baterai dalam jumlah signifikan.
“Tadi 5,3 GW yang sudah diluncurkan Menteri ESDM itu dan dengan Presiden, itu perlu baterai. Sangat perlu baterai,” ujar Eniya.
Pemerintah sendiri tengah memulai tahap awal pengembangan PLTS berkapasitas 5,3 gigawatt peak (GWp) sebagai bagian dari target PLTS 100 GWp.
Kondisi tersebut membuka potensi permintaan baru bagi industri baterai dan material pendukungnya di dalam negeri.
Di sisi lain, Bernardus Irmanto menilai prospek permintaan nikel dalam jangka menengah dan panjang masih positif meski industri menghadapi tekanan pasokan dan volatilitas harga dalam jangka pendek.
“Kalau kita melihat prospek jangka menengah kemudian jangka panjangnya, nikel itu tetap positif. Meskipun kalau kita lihat jangka pendeknya, industri nikel masih akan menghadapi tekanan dari pertumbuhan supply yang sangat besar, terutama dari Indonesia, dan juga volatilitas harga,” kata Bernardus.
Pertumbuhan EV dan BESS membuat hilirisasi nikel tidak lagi semata-mata berbicara mengenai peningkatan produksi tambang. Tantangannya adalah memastikan peningkatan permintaan tersebut dapat ditangkap melalui industri pengolahan dan manufaktur di dalam negeri.
Ekosistem tersebut menghubungkan pengolahan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara, dengan manufaktur baterai di Karawang, Jawa Barat, dengan nilai investasi sekitar US$5,9 miliar.
Pada sisi manufaktur, fasilitas CATIB di Karawang memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun dan ditargetkan meningkat menjadi total 15 GWh pada 2028. Fasilitas tersebut memproduksi sel baterai dan battery pack untuk kendaraan listrik maupun BESS.
Selain nikel, MIND ID juga memiliki portofolio tembaga, aluminium, dan timah yang dapat mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Dengan demikian, pertumbuhan EV dan BESS memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperluas pasar hilirisasi sekaligus membangun rantai pasok teknologi energi yang lebih terintegrasi di dalam negeri.
Load more