News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

PDHI: Pengendalian Rabies Tidak Boleh Terjebak Sekat Sektoral

Menurut Mirjawal, rabies menjadi salah satu contoh paling nyata bahwa persoalan kesehatan hewan tidak dapat ditangani oleh satu sektor saja.
Selasa, 22 September 2026 - 14:54 WIB
PDHI: Pengendalian Rabies Tidak Boleh Terjebak Sekat Sektoral
Sumber :
  • ist

Jakarta, tvOnenews.com - Menjelang peringatan World Rabies Day pada 28 September, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, drh. Mirjawal, M.M., mendorong penguatan Sistem Veteriner Nasional yang mampu menghubungkan sektor kesehatan hewan, kesehatan manusia, lingkungan, dan pemerintah daerah.

Menurut Mirjawal, rabies menjadi salah satu contoh paling nyata bahwa persoalan kesehatan hewan tidak dapat ditangani oleh satu sektor saja. Penanganannya membutuhkan keterhubungan antara tenaga kesehatan, dokter hewan, laboratorium, pemerintah, organisasi profesi, serta masyarakat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Rabies bukan hanya persoalan kesehatan hewan dan bukan pula semata-mata persoalan kesehatan manusia. Rabies merupakan persoalan bersama yang hanya dapat dikendalikan apabila seluruh unsur bekerja dalam satu sistem,” ujar Mirjawal, Selasa (22/9/2026).

World Rabies Day diperingati setiap 28 September untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan rabies dan memperkuat upaya eliminasi penyakit tersebut. Rabies merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan kepada manusia, terutama melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi.

Sekitar 99 persen kasus rabies pada manusia berkaitan dengan penularan melalui anjing yang terinfeksi. Meski berakibat fatal setelah gejala klinis muncul, rabies dapat dicegah melalui vaksinasi hewan, penanganan luka secara cepat, pemberian vaksin antirabies kepada korban, serta pengendalian sumber penularan.

Mirjawal menjelaskan, ketika kasus gigitan terjadi, penanganannya tidak cukup hanya dengan membawa korban ke fasilitas kesehatan. Petugas juga perlu menelusuri hewan yang menggigit, melakukan observasi atau pemeriksaan, memastikan ketersediaan vaksin, serta menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Proses tersebut melibatkan puskesmas atau rumah sakit, dinas kesehatan, dinas yang membidangi kesehatan hewan, dokter hewan, laboratorium, pemerintah daerah, dan masyarakat di lokasi kejadian.

“Kegagalan pada satu mata rantai dapat mengurangi efektivitas seluruh penanganan. Korban mungkin sudah ditangani, tetapi risiko penularan tetap ada apabila sumber penyakit pada hewan tidak dikendalikan. Sebaliknya, vaksinasi hewan saja tidak cukup jika masyarakat tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan setelah terkena gigitan,” katanya.

Menurut Mirjawal, penanganan rabies merupakan bentuk konkret penerapan pendekatan One Health, yang menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan.

Namun, pendekatan tersebut tidak cukup hanya menjadi slogan mengenai pentingnya kolaborasi. Penerapannya harus didukung pembagian kewenangan, sistem informasi, standar penanganan, mekanisme koordinasi, dan jalur pengambilan keputusan yang jelas.

“One Health menjelaskan mengapa kita harus bekerja bersama. Sistem veteriner menentukan bagaimana kebersamaan itu dapat dijalankan secara efektif,” ujarnya.

Sebagai contoh, ketika laporan gigitan pertama kali diterima puskesmas atau rumah sakit, informasi mengenai hewan penular juga harus segera diteruskan kepada otoritas yang membidangi kesehatan hewan. Sebaliknya, hasil observasi atau pemeriksaan hewan harus dapat menjadi bagian dari informasi yang digunakan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah penanganan.

Mekanisme tersebut membutuhkan aliran data yang cepat, komunikasi antarlembaga, serta kejelasan mengenai siapa melakukan apa. Tanpa sistem yang terhubung, penanganan berisiko berjalan sendiri-sendiri.

Mirjawal menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai fondasi penting, mulai dari Otoritas Veteriner, Sistem Kesehatan Hewan Nasional, lembaga karantina, kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, perguruan tinggi, laboratorium, dunia usaha, hingga organisasi profesi dan keilmuan.

Karena itu, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata kekurangan institusi, melainkan belum optimalnya keterhubungan antarinstitusi tersebut.

“Yang dibutuhkan bukan satu lembaga untuk menguasai semuanya, melainkan satu sistem yang mampu menghubungkan semuanya,” tegasnya.

Mirjawal menawarkan prinsip satu sistem, banyak aktor, mandat yang jelas sebagai dasar penataan Sistem Veteriner Nasional.

Dalam arsitektur tersebut, pemerintah menetapkan arah strategis nasional. Otoritas Veteriner menjalankan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan hewan. Pemerintah daerah memastikan pelayanan dan respons menjangkau masyarakat. Perguruan tinggi serta laboratorium memperkuat penelitian, diagnostik, dan surveilans.

Sementara itu, dunia usaha mendukung ketersediaan produk dan teknologi kesehatan hewan. Organisasi profesi berperan mengembangkan kapasitas, menggerakkan profesi, serta menyampaikan rekomendasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

Menurut Mirjawal, sekat kelembagaan tidak harus dihapus karena setiap institusi memiliki tugas dan kewenangan masing-masing. Namun, sekat tersebut harus dapat ditembus ketika negara menghadapi persoalan yang bersifat lintas sektor.

“Data, keahlian, keputusan, dan sumber daya harus dapat bergerak melintasi batas kelembagaan ketika kepentingan masyarakat menuntutnya,” kata Mirjawal.

Ia menambahkan, penguatan Sistem Veteriner Nasional juga perlu dikaitkan dengan pembangunan Veterinary Statutory Body atau VSB, penguatan Otoritas Veteriner, serta proses legislasi Rancangan Undang-Undang tentang Kedokteran Hewan.

Kehadiran Konsil Veteriner Indonesia dinilai dapat menjadi bagian dari proses menuju regulator profesi veteriner yang memiliki mandat hukum, kewenangan yang jelas, independensi, dan akuntabilitas kepada publik.

Fungsi regulator profesi, lanjutnya, harus dibedakan dari organisasi profesi. Regulator bertugas mengatur registrasi, kompetensi, etika, disiplin, dan standar profesi untuk melindungi masyarakat. Adapun organisasi profesi menjalankan fungsi pengembangan, perlindungan, advokasi, dan representasi profesi.

RUU Kedokteran Hewan juga diharapkan tidak hanya mengatur administrasi profesi dokter hewan, tetapi menjadi bagian dari pembangunan ekosistem veteriner yang lebih luas.

“Regulasi tersebut tidak perlu mengambil alih kewenangan kementerian dan lembaga yang telah ada atau menciptakan superlembaga. Hal yang lebih penting adalah membangun hubungan yang jelas antara regulator profesi, Otoritas Veteriner, organisasi profesi, pemerintah, perguruan tinggi, dan institusi terkait lainnya,” jelasnya.

Mirjawal mengatakan, pelajaran penting dari rabies adalah perlunya mengubah pola kerja dari respons reaktif menjadi pencegahan berbasis risiko.

Sistem veteriner tidak seharusnya baru bergerak setelah korban jatuh atau penyakit menyebar. Pencegahan perlu dilakukan melalui pemetaan wilayah berisiko, vaksinasi hewan, edukasi masyarakat, pengawasan lalu lintas hewan, pengelolaan populasi, peningkatan kapasitas laboratorium, serta penguatan deteksi dini.

Keberhasilan sistem juga tidak cukup diukur dari banyaknya lembaga yang dibentuk atau regulasi yang diterbitkan. Ukuran yang lebih nyata adalah kecepatan informasi bergerak dari lapangan, ketepatan penanganan korban, kemampuan menelusuri sumber penularan, serta keselarasan respons antarlembaga.

Pelajaran dari rabies juga berlaku dalam menghadapi zoonosis lainnya, resistensi antimikroba, keamanan pangan, perubahan iklim, penyakit satwa liar, dan berbagai ancaman biologis yang berpotensi memengaruhi kesehatan serta ketahanan nasional.

Dalam konteks tersebut, Mirjawal mendorong PDHI untuk memperkuat perannya sebagai suara strategis profesi veteriner. PDHI tidak perlu mengambil alih kewenangan pemerintah atau bersaing dengan regulator profesi, tetapi memastikan perspektif veteriner hadir dalam setiap pembahasan kebijakan publik yang berkaitan dengan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

“Profesi veteriner harus hadir sejak masalah didefinisikan, risiko dianalisis, pilihan kebijakan dibahas, hingga regulasi ditetapkan. Jangan sampai dokter hewan baru dilibatkan ketika kebijakan hampir selesai disusun,” ujarnya.

Momentum World Rabies Day, menurut Mirjawal, perlu menjadi pengingat bahwa dokter hewan merupakan bagian dari infrastruktur kesehatan dan ketahanan nasional.

“Masa depan veteriner Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki kewenangan paling besar, tetapi oleh kemampuan seluruh unsur bekerja sebagai satu sistem. Rabies tidak mengenal batas kewenangan. Sistem kita juga harus mampu bekerja tanpa terhalang sekat sektoral,” tutupnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

 

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Kisah Yusuf untuk Nikel Indonesia

Kisah Yusuf untuk Nikel Indonesia

Dalam Al Quran dan Kitab Kejadian, dikisahkan nasihat Nabi Yusuf kepada penguasa Mesir ketika menafsirkan mimpinya tentang tujuh bulir gandum kering yang memakan tujuh bulir gandum hijau.
Jelang Bertarung Kontra Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Bek Malaysia Ini Malah Sindir Negaranya Sendiri

Jelang Bertarung Kontra Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Bek Malaysia Ini Malah Sindir Negaranya Sendiri

Bek Malaysia Ubaidullah kembali ke GBK dan mengenang atmosfer suporter Indonesia. Menurutnya, suasana seperti ini tidak ia dapatkan saat bermain di Malaysia.
Buntut Tolak Pungli, Pedagang Matcha di Alkid Yogyakarta Ngaku Didesak Hapus Video Curhatannya

Buntut Tolak Pungli, Pedagang Matcha di Alkid Yogyakarta Ngaku Didesak Hapus Video Curhatannya

Polemik mengenai keberadaan pungli di Kota Yogyakarta diungkapkan oleh pengusaha kuliner Food Truck Bolosego, Dyah Laily Fardisa. Pedagang Matcha akui hal sama
Dony Oskaria: Manajer Kopdes Merah Putih Bukan Pegawai BUMN

Dony Oskaria: Manajer Kopdes Merah Putih Bukan Pegawai BUMN

COO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, memastikan manajer Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih tidak
IHSG Ambruk 1,39% ke 6.295,92, Saham Energi hingga Bank Jadi Beban Pasar

IHSG Ambruk 1,39% ke 6.295,92, Saham Energi hingga Bank Jadi Beban Pasar

IHSG ditutup melemah 1,39% ke level 6.295,92 pada Selasa 22 September 2026. Tekanan terjadi di hampir seluruh saham dan sektor.
Mardiono Minta Jajaran PPP Banten Evaluasi Ketimpangan Suara dan Perkuat Basis Akar Rumput

Mardiono Minta Jajaran PPP Banten Evaluasi Ketimpangan Suara dan Perkuat Basis Akar Rumput

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhamad Mardiono menginstruksikan seluruh jajaran pengurus di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Banten agar tidak cepat berpuas diri dengan tuntasnya pembentukan struktur formal kepengurusan semata. 

Trending

Perbandingan Gaji Megawati Hangestri di Red Sparks dan Hyundai Hillstate, Segini Nominalnya

Perbandingan Gaji Megawati Hangestri di Red Sparks dan Hyundai Hillstate, Segini Nominalnya

Menilik perbandingan gaji Megawati Hangestri saat bergabung dengan Red Sparks dan Hyundai Hillstate di Liga Voli Korea. Pevoli berjuluk Megatron itu dikabarkan mengalami kenaikan bayaran jelang tampil di musim ketiganya.
Pilu! Gadis Meninggal Dunia Tak Lama Setelah Calon Suaminya Selingkuh dengan Sang Kakak hingga Hamil

Pilu! Gadis Meninggal Dunia Tak Lama Setelah Calon Suaminya Selingkuh dengan Sang Kakak hingga Hamil

Viral di TikTok kisah memilukan dari gadis bernama Savanna Azzahra yang meninggal dunia setelah calon suaminya selingkuh dengan sang kakak hingga hamil 3 bulan.
Heboh Video 'A Day In My Life' Tanpa Sensor Diburu di X, Polisi Ungkap Keduanya Bukan Pelajar dan Mengidap HIV

Heboh Video 'A Day In My Life' Tanpa Sensor Diburu di X, Polisi Ungkap Keduanya Bukan Pelajar dan Mengidap HIV

Berkaca dari kasus video a day in my life yang viral dikatakan polisi, kedua pemeran mengidap HIV. Penyakit yang perlu diwaspadai dan diketahui pencegahannya.
Paddy Pimblett Sentil Keras Kemenangan Arman Tsarukyan di UFC 331

Paddy Pimblett Sentil Keras Kemenangan Arman Tsarukyan di UFC 331

Paddy Pimblett memberi sorotan tajam terhadap kemenangan Arman Tsarukyan atas Mauricio Ruffy di UFC 331, meski mengakui brutalnya serangan siku yang mengakhiri
6 Zodiak Ini Diprediksi Paling Berlimpah Rezeki pada 23 September 2026: Pisces Siap-siap Banjir Cuan

6 Zodiak Ini Diprediksi Paling Berlimpah Rezeki pada 23 September 2026: Pisces Siap-siap Banjir Cuan

Memasuki Rabu, 23 September 2026, urusan keuangan menjadi salah satu hal yang menarik perhatian dalam ramalan zodiak. Siapa saja yang bakal berlimpah rezeki?
Malaysia Kena Sial Jelang Hadapi Timnas Indonesia, 3 Pemain Bintang Batal Gabung Skuad untuk FIFA ASEAN Cup 2026

Malaysia Kena Sial Jelang Hadapi Timnas Indonesia, 3 Pemain Bintang Batal Gabung Skuad untuk FIFA ASEAN Cup 2026

Timnas Malaysia tampaknya mengalami kesialan jelang menghadapi Timnas Indonesia. Sebab, pelatih Tan Cheng Hoe perlu melakukan perombakan dari 23 pemain yang dipanggilnya.
Siapa Resal Octavian? Ofisial Java United yang Diduga Sebut Shin Tae-yong 'Pendatang'

Siapa Resal Octavian? Ofisial Java United yang Diduga Sebut Shin Tae-yong 'Pendatang'

Resal Octavian menjadi sorotan suporter sepak bola Indonesia lantaran sebut pelatih Shin Tae-yong sebagai 'pendatang' dalam laga Persija Jakarta vs Java United.
Selengkapnya

Viral