Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Badan Geologi Ungkap Jarak dan Bahayanya
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan kemunculan dua pulau baru di sekitar Gunung Anak Krakatau. Dua daratan baru tersebut berada di sektor barat laut dan tenggara gunung api yang berada di kawasan Selat Sunda.
Temuan tersebut diketahui berdasarkan informasi dari para pelaut dan relawan yang melakukan pemotretan kawasan Gunung Anak Krakatau pada 22 September 2026.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan, kedua pulau baru tersebut berada pada jarak yang berbeda dari pesisir tubuh Anak Krakatau.
Pulau yang berada di sektor barat laut berjarak sekitar 760 meter dari pesisir tubuh Anak Krakatau. Sementara itu, pulau yang berada di sektor tenggara berjarak sekitar 495 meter.
Jika ditarik dalam garis lurus, kedua pulau tersebut membentuk kelurusan dengan arah barat laut-tenggara. Posisi kawah Anak Krakatau berada tepat di antara kedua daratan baru tersebut.
"Kemunculan dua pulau ini juga terlihat pada citra satelit Sentinel dan kami interpretasikan berkaitan dengan erupsi menerus Anak Krakatau. Tapi soal apakah keduanya jadi pusat erupsi baru atau bukan, itu masih perlu data, analisis, dan kajian lebih lanjut," kata Lana dalam siaran pers yang dikutip pada hari Kamis (24/9/2026).
Muncul Setelah Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Meningkat
Kemunculan dua pulau baru tersebut terjadi setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat sejak 2 Juli 2026.
Sebelumnya, aktivitas erupsi berskala rendah di Anak Krakatau berlangsung hingga Desember 2023. Setelah aktivitas kembali meningkat pada awal Juli 2026, status gunung tersebut berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas vulkanik kemudian terus berlangsung. Erupsi tipe Strombolian yang melontarkan batu pijar dan abu vulkanik terjadi hingga 3 September 2026.
Aktivitas tersebut kemudian berlanjut dengan erupsi menerus pada awal September. Pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang berlangsung selama sekitar 25 jam.
Erupsi tersebut berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Dalam periode erupsi menerus itu, lava mengalir menuju sektor barat laut, barat, dan barat daya Anak Krakatau.
Tubuh Gunung Meluas 32,8 Hektare
Badan Geologi mencatat adanya perubahan pada tubuh Gunung Anak Krakatau setelah erupsi menerus tersebut.
Lana mengatakan, aktivitas erupsi menerus membuat tubuh gunung mengalami perluasan. Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel pada 15 September 2026, perluasan tubuh Anak Krakatau tercatat mencapai 32,8 hektare.
"Erupsi menerus itu yang membuat tubuh gunung meluas. Dari analisis citra Satelit Sentinel tanggal 15 September, kami mencatat perluasan sebesar 32,8 hektare," ujarnya.
Setelah aktivitas vulkanik menunjukkan gejala mereda pasca-erupsi menerus, Badan Geologi kemudian menurunkan status Gunung Anak Krakatau.
Status gunung diturunkan dari Level III atau Siaga menjadi Level II atau Waspada pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Namun, sehari setelah penurunan status tersebut, laporan mengenai kemunculan dua pulau baru di sekitar Anak Krakatau diterima Badan Geologi.
Dua Pulau Baru Belum Dipastikan sebagai Pusat Erupsi
Meski kedua pulau baru tersebut telah terlihat melalui pemotretan lapangan maupun citra satelit Sentinel, Badan Geologi belum memastikan apakah keduanya merupakan pusat erupsi baru.
Lana mengatakan diperlukan data, analisis, dan kajian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan kedua pulau dengan pusat aktivitas erupsi.
Dengan demikian, kemunculan dua daratan baru tersebut untuk sementara diinterpretasikan berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus Anak Krakatau. Kajian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui karakteristik serta proses pembentukan keduanya.
Radius Larangan Diperketat
Badan Geologi mengingatkan masyarakat dan wisatawan untuk tidak memasuki kawasan berbahaya di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Meskipun status gunung telah turun menjadi Level II atau Waspada, terdapat sejumlah batas jarak yang tetap harus dipatuhi.
-
Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 2 kilometer dari pusat erupsi Anak Krakatau.
-
Masyarakat dan wisatawan juga dilarang memasuki radius 1 kilometer dari dua pulau baru yang muncul di sektor barat laut dan tenggara.
Pembatasan tersebut diberlakukan seiring masih adanya potensi bahaya dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Lana juga mengingatkan masyarakat mengenai kemungkinan lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Selain itu, terdapat potensi erupsi sekunder yang dapat terjadi akibat kontak antara lava panas dan air laut.
"Kami juga minta masyarakat waspada terhadap ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, termasuk potensi erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut," kata Lana.
Warga Banten dan Lampung Diminta Tetap Tenang
Badan Geologi turut meminta masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang dalam menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Lana mengingatkan warga agar tidak mudah mempercayai isu yang menyebut erupsi Anak Krakatau akan memicu tsunami.
Menurut dia, masyarakat masih dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi gunung serta mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
"Masyarakat bisa tetap beraktivitas seperti biasa, tapi terus ikuti arahan BPBD setempat," ujar Lana.
Load more