News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Misteri Syam Kamaruzzaman, Tokoh Kunci G30S PKI yang Diduga Agen CIA

Banyak orang menyebut G30S PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung. Tapi sebagian orangnya menyebut, justru pemimpin sesungguhnya adalah Syam Kamaruzzaman.
Selasa, 14 Juni 2022 - 06:32 WIB
Syam Kamaruzzaman
Sumber :
  • Dok.Salim Said - Dari Gestapu ke Reformasi

Banyak orang menyebut Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI) atau G30S PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, Komandan Pasukan Cakrabirawa, pasukan pengawal Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Tapi sebagian orang menyebut, justru pemimpin operasi sesungguhnya adalam Syam Kamaruzzaman.

Siapa sebetulnya Syam Kamaruzzaman?, ketika berada dalam tahanan militer, kawan-kawannya sesama tahanan politik menjauhinya, orang kepercayaan Aidit yang menjabat sebagai Kepala Biro Khusus PKI tersebut kerap diteriaki sebagai "Agen CIA!".

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Syam Kamaruzzaman bin Ahmad Mubaidah, adalah tokoh kunci dalam peristiwa G30S PKI pada tahun 1965. Peristiwa berdarah tersebut menjadi tonggak sejarah runtuhnya kekuasaan Orde Lama dibawah Pimpinan Presiden Soekarno, berganti dengan Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

"Selain peran-peran agen asing, yang juga amat penting, bahkan mutlak diteliti, adalah peran Syam Kamaruzzaman bin Ahmad Mubaidah. Sebagai intel dan Kepala Biro Khusus PKI, Syam dicurigai beberapa kalangan bekerja untuk beberapa pihak sekaligus." tulis Salim Said, dalam bukunya Dari Gestapu ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian, terbitan Mizan 2013.

Menurut penuturan Anak Marhaen (A.M.) Hanai, salah seorang tokoh Angkatan 45 dan anak angkat Presiden Sukarno,dalam bukunya yang ber judul Menggugat Kudeta Soeharto Dari Gestapu ke Supersemar, pada zaman Revolusi Syam Kamaruzzaman, yang lahir pada 30 April 1924 di Tuban, Jawa Timur, bekerja sebagai intel polisi di Pati, Jawa Tengah. 

Di kemudian hari berseliweran informasi mengenai berbagai kegiatan intel yang pernah dikerjakan Syam. Yang paling banyak mendapat perhatian adalah kegiatannya sebagai intel tentara.

"Disebutkan bahwa di Jakarta, Syam pernah menjadi intel Kodam Jaya, di Jawa Barat pernah menjadi intel untuk Kolonel Suwarto, Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Yang tetap menjadi pertanyaan, apakah Syam bekerja di kalangan militer sebagai orang PKI atau dia adalah agen tentara yang disusupkan ke dalam PKI." tulis Salim. 

G30S PKI, Operasi Militer yang Dirancang Gagal

Menurut Salim Said, untuk mengerti G30S PKI, Peran Syam amat penting diungkapkan. Sebagaimana penuturan Letnan Kolonel Penerbang Heru Atmodjo dalam bukunya, Gerakan 30 September: Kesaksian Letkol (Pnb.) Heru Atmodjo, adalah Syam yang sebenarnya langsung memimpin operasi militer Gestapu pada satu Oktober pagi itu.

Dalam penuturannya mengenai Gestapu, Heru Atmodjo berada di Senko, pusat kegiatan Gestapu pada pagi hari itu merasa heran melihat bagaimana Syam, seorang sipil, memimpin langsung operasi militer, sementara di sekitarnya ada Brigadir
Jenderal TNI Supardjo, Letnan Kolonel Untung, serta Kolonel Latif.

Dok.Film Pengkhiatan G30S PKI, Rapat tokoh PKI di Lubang Buaya

Menurut penuturan Supardjo, ketika berjumpa Heru Atmodjo di rumah tahanan militer, Syam waktu itu mengaku pernah mendapat latihan militer di Tiongkok.

Dalam kesaksiannya pada pengadilan tokoh PKI, Nyoto, Maret 1966, Untung menyebut Syam dan Pono, keduanya anggota Biro Khusus PKI, sebagai bagian inti Gestapu yang mewakili Aidit. 

"Pada pengadilan yang sama, saksi Mayor Udara Suyono menyebutkan
bahwa Syam adalah orang yang menentukan dalam rapat-rapat perencanaan operasi militer Gestapu." ungkap Salim Said.

Lebih lanjut menurut Salim, kekacauan dan akhirnya kegagalan operasi Gestapu pimpinan Syam itulah yang mendorong Heru Atmodjo mencurigai operasi Gestapu itu sebagai gerakan militer yang memang dirancang untuk gagal.

"Tidak terlalu sulit sebenarnya untuk mengerti dasar kecurigaan Heru Atmodjo tentang sosok Syam. Lihat saja bagaimana pasukan yang ditugaskan di Monas tidak disiap kan logistiknya. Akibatnya, mereka kelaparan. Sebagian dari mereka (Batalion 530 dari Brawijaya) dengan mudah siang itu ditarik masuk ke Kostrad untuk disuguhi makan siang." ungkap Salim Said.

"Batalion 454 dari Diponegoro yang dalam keadaan kelaparan mundur ke wilayah Pangkalan Udara Halim, mendapatkan makan yang secara tergesa-gesa disiapkan oleh
Komandan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Kolonel Udara Wisnu Djajengminardo" lanjutnya.

Lalu, bagaimana harus menjelaskan bahwa seorang jenderal, seorang kolonel, seorang letnan kolonel, dan sejumlah mayor, kapten, dan letnan, secara berjamaah menjadikan diri mereka anak buah seorang sipil dalam sebuah operasi militer yang begitu penting dan rumit?

Baca Juga: Syam Kamaruzzaman Disebut Pemimpin Sesungguhnya Operasi Militer G30S PKI

Apakah keputusan PKI mendukung gerakan para “perwira maju” dibawah pimpinan Letnan Kolonel Untung diubah oleh Syam di lapangan, dari posisi hanya sebagai “pendukung” berubah menjadikan dirinya pemimpin operasi?.

Dalam catatan Salim Said, pada sidang Mahmillub, Sudisman tidak membicarakan penyim pangan yang dilakukan Syam tersebut. Sudisman hanya menegaskan bahwa Syam berhubungan langsung de ngan D.N. Aidit. Artinya, Sudisman tidak tahu apa persisnya perintah Aidit kepada Syam.

Sebagaimana yang disaksikan beberapa tokoh Gestapu yang berada di sekitar Syam pada pagi hari pertama bulan Oktober di Senko, adalah Syam yang memerintahkan pembunuhan dua jenderal yang tiba dengan selamat di Lubang Buaya, ketika yang lainnya sudah terlebih dahulu terbunuh di rumah masing-masing.

"Juga perlu dicatat bahwa Brigjen Supardjo, Kolonel Latif, maupun Letnan Kolonel Untung, semua mengaku terkejut ketika tahu terjadinya pembantaian tersebut. Supardjo, Latif, dan Untung memang tidak punya akses langsung kepada pasukan yang bertugas di lapangan pada pagi itu. Ini juga fenomena yang aneh." jelas Salim dalam bukunya.

Dok.Film Pengkhiatan G30S PKI, Penculikan Para Jenderal

Faktor Kegagalan Operasi G30S PKI 

Dalam analisanya, Salim memperkirakan beberapa memungkinan. Pertama, kenyataan tersebut bisa diterangkan sebagai berikut: terbunuhnya lima jenderal sebelum tiba di Lubang Buaya bukan atas perintah Syam yang memimpin operasi.

Tapi, terbantainya ke lima pimpinan Angkatan Darat tersebut kemudian disadari oleh Syam sebagai tanda Gestapu sudah gagal. Karena itu, sisa dua jenderal yang selamat tiba di Lubang Buaya diperintahkan oleh Syam untuk sekalian saja dihabisi. Mereka berdua toh sudah tidak berguna lagi. Keduanya tidak mungkin lagi dihadapkan kepada Presiden Sukarno.

Kemungkinan kedua, bertolak belakang dari kemungkinan pertama, tetap terbuka kemungkinan meski amat kecil pembunuhan ke enam jenderal adalah justru atas perintah Syam yang bertindak sesuai dengan arahan agen asing. 

"Lewat pembantaian tersebut, agen asing, seperti telah saya uraikan bermaksud melakukan provokasi kepada Angkatan Darat agar secepatnya bertindak melikuidasi Sukarno dan PKI. Kemung kinan yang amat kecil ini hingga sekarang belum menemukan dukung an data dan fakta pembenarannya." ungkap Salim.

Namun menurut Salim, kemungkinan ketiga, yang jauh lebih masuk akal, pembantaian atas lima jenderal di rumah masing-masing terjadi karena kepanikan prajurit di lapangan. Perintah yang harus mereka laksanakan adalah “para jenderal itu diambil hidup atau mati”. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam keadaan terjadi perlawanan seperti yang dilakukan Jenderal Yani, misalnya, maka kekerasan sulit mereka hindarkan. Dan Jenderal Yani serta beberapa jenderal yang melawan, akhirnya semua memang terbantai. 

Pembunuhan memang tak terhindarkan karena persiapan penculikan tidak dilakukan dengan perencanaan yang teliti dan saksama. Keadaan yang demikian ini hampir
bisa dipastikan disebabkan oleh kepemimpinan Syam yang tidak ditopang oleh pengalaman militer dalam memimpin sebuah operasi yang rumit dan sensitif. (Buz) 
 

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Raih Kemenangan Dua Set Langsung atas Wakil Iran, Novela/Beatrice Kunci Satu Tempat di Perempat Final Asian Games 2026

Raih Kemenangan Dua Set Langsung atas Wakil Iran, Novela/Beatrice Kunci Satu Tempat di Perempat Final Asian Games 2026

Wakil Indonesia di cabang olahraga Padel, Novela Putria/Beatrice Gumulya, berhasil mengamankan tiket ke perempat final Asian Games 2026.
Bursa Transfer AC Milan: Ruben Amorim Ngotot Datangkan Pierre-Emile Hojbjerg, Siap Tebus 15 Juta Euro Musim Dingin Nanti

Bursa Transfer AC Milan: Ruben Amorim Ngotot Datangkan Pierre-Emile Hojbjerg, Siap Tebus 15 Juta Euro Musim Dingin Nanti

AC Milan mulai menyiapkan rencana untuk memperkuat lini tengah pada bursa transfer Januari. Pierre-Emile Hojbjerg menjadi pemain yang masuk dalam daftar Amorim.
Hasil Ekshumasi Jenazah Sutrimo: Dokter Tidak Ditemukan Kandungan Racun Hingga Luka Akibat Kekerasan

Hasil Ekshumasi Jenazah Sutrimo: Dokter Tidak Ditemukan Kandungan Racun Hingga Luka Akibat Kekerasan

Ketua Tim Ekshumasi, Ahmad Yudianto mengungkap hasil ekshumasi Karumga Eks Jampidsus, Febrie Adriansyah yakni Sutrimo, yang ditemukan tewas di depan Mordent Aesthetic Clinic, Jalan Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Desak Tangkap Dua WNA Rusia, Ini Bantahan Kubu Budiman Tiang

Desak Tangkap Dua WNA Rusia, Ini Bantahan Kubu Budiman Tiang

Kubu Budiman Tiang menyebut adanya dugaan kriminalisasi terkait perkara hukum yang tengah dihadapi.
Sambut Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Beri Pembebasan dan Keringanan Pajak Kendaraan Bermotor selama Dua Bulan

Sambut Hari Jadi ke-81 Jatim, Gubernur Khofifah Beri Pembebasan dan Keringanan Pajak Kendaraan Bermotor selama Dua Bulan

Gubernur Khofifah beri kebijakan pembebasan dan keringanan pajak daerah bagi masyarakat dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.
Tak Terganggu Hasil Malaysia, Rizky Ridho Pastikan Timnas Indonesia Siap Tempur Lawan Bangladesh

Tak Terganggu Hasil Malaysia, Rizky Ridho Pastikan Timnas Indonesia Siap Tempur Lawan Bangladesh

Rizky Ridho memastikan Timnas Indonesia siap menghadapi Bangladesh. Skuad Garuda tetap fokus tampil maksimal demi menjaga peluang lolos ke final.

Trending

Bukan Lagi Megawati Hangestri, Giovanna Milana Kini Bertandem dengan Pemain Kelas Dunia

Bukan Lagi Megawati Hangestri, Giovanna Milana Kini Bertandem dengan Pemain Kelas Dunia

Giovanna Milana akan memulai perjalanan baru dalam kariernya setelah resmi bergabung dengan Kurobe Aqua Fairies Toyama di Liga Voli Jepang 2026-2027. Tidak lagi bermain bersama Megawati Hangestri, ia kini akan bertandem dengan pemain elit kelas dunia.
Gagal Tembus Final FIFA ASEAN Cup 2026 Karena Thailand, Pelatih Timnas Vietnam Kangen Striker Naturalisasi

Gagal Tembus Final FIFA ASEAN Cup 2026 Karena Thailand, Pelatih Timnas Vietnam Kangen Striker Naturalisasi

Kekalahan 2-0 Vietnam atas Thailand di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Selasa (29/9/2026) membuat Vietnam kehilangan kendali dalam persaingan menuju puncak klasemen grup.
FIFA ASEAN Cup 2026: Pengamat Sepak Bola Sebut Kritikus Timnas Indonesia Lupa Siapa Malaysia

FIFA ASEAN Cup 2026: Pengamat Sepak Bola Sebut Kritikus Timnas Indonesia Lupa Siapa Malaysia

Hasil imbang di laga pekan kedua FIFA ASEAN Cup 2026 antara Timnas Indonesia melawan Malaysia berimbas pada kritik tajam bagi pelatih Garuda, John Herdman. 
Lima Bulan Kasus Penganiayaan Murid SD, Polisi Sebut Perkara Sudah Naik Penyidikan

Lima Bulan Kasus Penganiayaan Murid SD, Polisi Sebut Perkara Sudah Naik Penyidikan

Miarni Oktari Yanti(27), ibu dari M. Khalifah Siddiq(9), mengajukan Surat Pengaduan Masyarakat (DUMAS) karena mempertanyakan perkembangan perkara yang dilaporkannya sejak April 2026. Kasus tersebut bermula dari dugaan penganiayaan terhadap korban pada 19 April 2026 di SD Swasta IT Tahfiidzul Qur’an Al Umm Smart Centre.
Klasemen Medali Asian Games 2026, Rabu 30 September Pagi: Tim Indonesia Tertahan Meski Leo/Daniel Sumbang Emas

Klasemen Medali Asian Games 2026, Rabu 30 September Pagi: Tim Indonesia Tertahan Meski Leo/Daniel Sumbang Emas

Update klasemen medali Asian Games 2026 per Rabu (30/9/2026) pukul 04.00 WIB. Tim Indonesia masih tertahan meski berhasil meraih satu medali emas dari cabor bulu tangkis.
Bung Towel Tak Ragu Kritik Thom Haye, Pengambilan Keputusan, Emosional Hingga Posisi yang Salah Sejak Piala AFF

Bung Towel Tak Ragu Kritik Thom Haye, Pengambilan Keputusan, Emosional Hingga Posisi yang Salah Sejak Piala AFF

Thom Haye mendapatkan kartu merah langsung di menit 37 yang membuat Timnas Indonesia hanya mencatat hasil imbang di laga Vs Malaysia. 
Reaksi Erick Thohir soal Potensi Malaysia Main Mata dengan Singapura dan Rugikan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Reaksi Erick Thohir soal Potensi Malaysia Main Mata dengan Singapura dan Rugikan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, berharap Malaysia dan Singapura menunjukkan kemampuan terbaiknya saat berhadapan pada laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026.
Selengkapnya

Viral