Bonus Demografi Tanpa Jaminan Sosial Adalah Bom Waktu
- Istimewa
Lebih dari itu, dunia kerja sendiri sedang berubah. Pekerjaan yang dahulu dianggap aman tidak selalu menawarkan kepastian yang sama.Â
Kontrak semakin fleksibel, pola kerja berubah, dan semakin banyak orang memperoleh penghasilan di luar hubungan kerja formal.
Kajian IMF menunjukkan pergeseran pekerjaan kelas menengah dari sektor formal menuju pekerjaan yang lebih informal.Â
Pada 2024, hanya sekitar 59 persen pekerja kelas menengah berada dalam pekerjaan formal.
Ini penting karena perlindungan sosial selama ini banyak bertumpu pada hubungan kerja formal.
Ketika bentuk pekerjaan berubah, cara kita memberikan perlindungan juga harus berubah.
Jangan sampai seseorang baru dianggap membutuhkan perlindungan setelah ia jatuh miskin. Justru perlindungan dibutuhkan agar ketika menghadapi guncangan, ia tidak perlu jatuh terlalu jauh.
Di sinilah jaminan sosial menjadi penting.
Bukan semata-mata untuk membantu mereka yang sudah berada di bawah, tetapi juga untuk memastikan mereka yang sedang berada di tengah tidak mudah terdorong ke bawah.
Sebab, jika kelas menengah kehilangan pekerjaan berkualitas sementara perlindungan sosialnya lemah, bonus demografi bisa menghasilkan paradoks: jumlah orang yang bekerja besar, tetapi rasa aman ekonominya kecil.
Pada akhirnya, bonus demografi bukan hanya tentang berapa banyak tangan yang bekerja. Ia juga tentang seberapa kuat tangan-tangan itu menghadapi masa depan.
Indonesia mungkin hanya memiliki satu kesempatan untuk mengubah bonus demografi menjadi dividen demografi.
Jangan sampai kita baru sibuk membangun perlindungan ketika jutaan pekerja produktif sudah memasuki usia tua.
Bonus demografi tanpa jaminan sosial adalah bom waktu. Dan bom itu tidak hanya mengancam mereka yang miskin.
Ia juga bisa meledak di ruang keluarga kelas menengah—di rumah yang tampak baik-baik saja, tetapi ternyata hanya berjarak satu kehilangan pekerjaan dari sebuah krisis.
Penulis: Praktisi Jaminan Sosial Mohamad Rhesa Adisty
Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Load more