Anak Patrick Kluivert Jadi Korban Pelecehan Rasial Usai Gagal Bawa Belanda Tembus Babak 16 Besar Piala Dunia
- Reuters - Pro Shots/Sipa USA
Jakarta, tvOnenews.com- Anak mantan pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert, Justin Kluivert menjadi satu dari pemain Belanda yang menjadi korban pelecehan rasial usai gagal membawa lolos tim ke babak 16 besar Piala Dunia.
Belanda secara mengejutkan kalah dari Maroko setelah kalah adu penalti pada Selasa (30/6/2026). Dalam laga tersebut, Justin Kluivert, Quinten Timber dan Crysencio Summerville menjadi korban pelecehan rasial karena gagal mencetak gol dalam babak adu penalti.
Skor 1(2)-(3)1 pun memastikan Belanda finis di babak 32 besar. Ketiga pemain ini pun menjadi bulan-bulanan di media sosial dengan suporter yang melontarkan komentar kebencian, rasial dan diskriminatif.
Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) pun mengeluarkan pernyataan dengan mengambil langkah dalam melindungi skuad asuhan Ronald Koeman ini.
"Kami menganggap ini mengerikan. KNVB akan tetap mengajukan laporan ke Meld Online Discrimination. Setelah laporan diterima, staf hukum akan menilai apakah laporan tersebut dapat dikenai sanksi," tulis pernyataan KNVB dikutip dari laman De Telegraaf, Rabu (1/7/2026).
KNVB menyebut langkah ini menjadi awal pengaduan resmi pada kejaksaan dan peluang untuk melaporkan atas penyelidikan kriminal.
Sementara itu, KNVB tetap memberikan apresiasi atas usaha Tijjani Reijnders cs dalam perjuangannya di Piala Dunia 2026.
KNVB pun tetap mengapresiasi suporter walau tindakan pelaporan hukum akan tetap berjalan bagi oknum yang menyerang para pemain di media sosial.
"Kami melihat reaksi daring di mana para pemain diperlakukan secara rasis dan diskriminatif setelah tersingkir. Kami menarik garis tegas di sana. Rasisme dan diskriminasi tidak memiliki tempat di mana pun: tidak dalam sepak bola, tidak daring, dan tidak dalam masyarakat kita," bunyi pernyataan tersebut.
"Sepak bola menyatukan jutaan orang dari berbagai latar belakang, dan diskriminasi justru sebaliknya. Oleh karena itu, hal tersebut bertentangan secara diametral dengan semua nilai yang dianut sepak bola," tutup pernyataan tersebut.
Ini bukan kali pertama federasi sepak bola suatu negara resmi mengajukan pelaporan hukum pada suporter mereka sendiri.
Sebelumnya, FA Inggris turun tangan setelah tiga pemainnya, Bukayo Saka, Jadon Sancho dan Marcus Rashford menjadi korban pelecehan rasial setelah kegagalan Inggris di Euro 2020 atas Italia.
Load more