Arsenal Selangkah Lagi Juara, Mantan Wasit Liga Inggris Buka Suara soal Kontroversi Kai Havertz Terhindar dari Kartu Merah
- REUTERS/Hannah Mckay
Jakarta, tvOnenews.com - Mantan wasit Liga Inggris buka suara soal kontroversi kartu merah Kai Havertz di laga Arsenal melawan Burnley. The Gunners kini berada dalam posisi di atas angin untuk menjadi juara Liga Inggris 2025-2026.
Arsenal menjamu Burnley di Emirates Stadium pada Selasa (19/5/2026) dini hari tadi WIB untuk lanjutan Liga Inggris. Mereka berupaya menjaga keunggulan dua poin dari Manchester City, yang baru akan bermain menghadapi Bournemouth nanti malam.
Tim asuhan Mikel Arteta bermain dominan sejak awal menghadapi Burnley yang sudah terdegradasi. Mereka sukses membuka skor melalui Kai Havertz pada menit ke–37.
Sang penyerang asal Jerman menyambut umpan sepak pojok dari Bukayo Saka dalam situasi sepak pojok. Itu nyatanya menjadi satu-satunya gol yang tercipta dalam pertandingan ini.
Namun, situasi bisa saja berubah jika wasit Paul Tierney mengambil keputusan berbeda pada menit ke-67. Kai Havertz melakukan pelanggaran terhadap Lesley Ugochukwu yang berisiko kartu merah di sini.
Gelandang Burnley itu ditekel oleh Havertz yang mengenai bagian betis Ugochukwu dengan telapak kakinya. Havertz tidak mendapatkan bola namun Tierney hanya memberikan kartu kuning kepadanya.
Kemudian, James Bell yang bertugas di ruangan VAR memanggil Tierney untuk meninjau ulang keputusannya. Itu dianggap berpotensi kartu merah terhadap Havertz.
Namun begitu, Tierney tetap pada keputusannya untuk tidak memberikan kartu merah kepada Havertz. Hal ini menuai pro dan kontra di kalangan netizen.
Mantan wasit Liga Inggris, Andy Davies, turut buka suara melalui ESPN. Menurutnya, Havertz harusnya mendapatkan kartu merah karena permainannya dianggap serius dan agresif.
“Arsenal dan Havertz sangat beruntung bahwa tekel ini tidak direkomendasikan oleh VAR untuk ditingkatkan dari kartu kuning menjadi kartu merah. Dengan menerjang bagian belakang betis Ugochukwu dengan kekuatan sedemikian rupa, tindakan Havertz memenuhi ambang batas membahayakan keselamatan lawan, pelanggaran serius,” kata Davies.
Untuk menyimpulkan, Davies mengatakan bahwa Havertz layak dikartu merah. “Dengan kata lain: Havertz seharusnya mendapat kartu merah,” tambahnya.
Davies memberi kritik terhadap performa wasit Tierney dan juga Bell yang bertugas di ruangan VAR. Keduanya dinilai mengambil keputusan yang salah.
“VAR selalu dipandu oleh keputusan wasit secara langsung dalam situasi seperti ini, dan begitu wasit hanya memberikan kartu kuning dengan alasan bahwa kontak tersebut tidak berlebihan, VAR kesulitan untuk tidak setuju mengingat tayangan ulang yang dilihatnya. Namun, ini adalah penilaian yang buruk dari kedua pihak,” tambahnya.
“Wasit di lapangan, Tierney, seharusnya menyadari bahwa ini adalah pelanggaran yang layak mendapatkan kartu merah secara langsung mengingat dinamika dan sifat pelanggaran tersebut, dan VAR, yang melihat beberapa tayangan ulang sebelum mengkonfirmasi keputusan, seharusnya menghasilkan hasil yang berbeda,” lanjutnya.
Arsenal seharusnya melalui 20 menit terakhir dengan 10 orang, yang mana bisa berimplikasi kepada perebutan gelar juara Liga Inggris. Dalam hal ini, Manchester City dinilai dirugikan.
“Pada gilirannya, jika Arsenal harus menyelesaikan 20 menit terakhir dengan kekurangan satu pemain, hasil akhir bisa berbeda, dan persaingan perebutan gelar Liga Inggris pun bisa bergeser. Sebaliknya, Arsenal meraih kemenangan tipis 1-0, membuat Burnley -- dan mungkin Manchester City -- merasa dirugikan,” pungkasnya. (rda)
Load more