Tanpa Ditutup-tutupi, Indra Sjafri Ceritakan Awal Mula Program Naturalisasi Pemain Keturunan: Itu Sebenarnya…
- Tangkapan layar Youtube - PSSI
tvOnenews.com - Program naturalisasi pemain keturunan terus digencarkan oleh PSSI. Tidak sedikit pecinta sepak bola yang mengkritik kebijakan instan itu. Menjawab keresahan tersebut Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri memberikan penjelasannya.
Indra Sjafri yang juga pernah ditunjuk sebagai pelatih tim nasional Indonesia kelompok umur menceritakan bagaimana awal mula program naturalisasi itu dicanangkan.
Mantan pemain PSP Padang tahun 80-an itu menerangkan kenyataan kualitas pemain lokal yang timpang jika dibandingkan dari negara lain, soal fisik salah satunya.

Saat ditanya apakah kemudian naturalisasi adalah solusi dari permasalahan tersebut, Indra Sjafri menjawabnya dengan lugas.
"Beda. Jadi naturalisasi itu program jangka pendek. Dan itu dilakukan atas permintaan pelatih tim nasional Shin Tae-yong,” kata Indra Sjafri di tayangan Youtube Helmy Yahya Bicara, dikutip pada Kamis (7/12/2023).
“Dia bersurat ke departemen teknik waktu itu, bahwasannya dia butuh karena ada tuntutan prestasi dan dengan materi yang ada merasa tidak mampu untuk mewujudkan itu,” imbuhnya.
Maka dari itu dianggap perlu melakukan naturalisasi pemain-pemain keturunan sebagai solusi jangka pendek. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua pemain keturunan melewati proses naturalisasi.
“Ada pemain keturunan yang tidak dinaturalisasi. Elkan Baggott contohnya, dia dari kecil sudah punya paspor Indonesia. Welber juga nggak ada naturalisasi,” jelas Indra Sjafri.
Selain itu, kendati pemain berlabel keturunan tidak menjamin langsung dinaturalisasi. Sebab PSSI menginginkan pemain dengan ‘Grade A’ alias kualitas terbaik melebihi pesepakbola lokal.
“Kalau dia nggak kualitas, dia tetap nggak diambil oleh pelatih tim nasional,” tegasnya.

(Foto: PSSI)
Solusi jangka panjangnya menurut Indra Sjafri
Adapun solusi jangka panjang yang dicanangkan oleh PSSI menurut Indra Sjafri setidaknya ada lima poin. Pertama memperbaiki infrastruktur olahraga sampai ke desa-desa.
Kedua membuat kurikulum atau pedoman cara bermain yang pas untuk anak-anak Indonesia. Sejauh ini sudah ada filanesia.
“Tetapi yang namanya kurikulum juga harus dinamis. Harus bisa mengadaptasi kemajuan-kemajuan sepak bola,” ujar Indra Sjafri.
Load more