Tak Terima Dikalahkan Timnas Indonesia, Pengamat China Salahkan Pelatih Jepang: Percuma Digaji Mahal
- AFC
tvOnenews.com - Kekalahan Timnas China dari Timnas Indonesia U-17 di ajang Piala Asia U-17 2026 memicu reaksi keras dari publik sepak bola Negeri Tirai Bambu.
Bukan hanya kecewa karena gagal meraih poin, sejumlah pengamat China juga mulai mempertanyakan kualitas pelatih asal Jepang, Bin Ukishima, yang dinilai gagal memaksimalkan potensi timnya.
China sebelumnya datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah dua kali mengalahkan Indonesia dalam laga uji coba, bahkan sempat menang telak 7-0.
Namun situasi berbalik drastis saat pertandingan resmi berlangsung.
Skuad Garuda Muda justru mampu mencuri kemenangan tipis 1-0 lewat permainan disiplin dan pertahanan solid.
Hasil tersebut langsung memantik kritik tajam dari pengamat sepak bola senior China, Ma Dexing.
"Ma Dexing dengan tegas menyatakan bahwa tanggung jawab utama atas kekalahan ini harus dipikul oleh pelatih kepala Bin Ukishima," tulis media China 163.com.
- AFC
Menurut Ma Dexing, kekalahan itu bukan disebabkan kualitas pemain China yang kalah dari Indonesia.
Ia justru menilai masalah terbesar ada pada keputusan taktik dan strategi sang pelatih.
"Meskipun secara teori memiliki kekuatan yang lebih unggul, kekalahan dalam pertandingan tersebut sama sekali bukan masalah sikap atau kemampuan para pemain," kata Ma Dexing.
Sejak awal pertandingan, susunan pemain yang dipilih Ukishima disebut terlalu hati-hati dan minim kreativitas.
"Pengerahan pasukan dan manajemen di lapangan yang dilakukan Ukishima memiliki kekurangan yang jelas dari awal hingga akhir."
"Susunan pemain inti saja sudah cukup menunjukkan bahwa pemilihan pemain ini terlalu konservatif," lanjutnya.
Di sisi lain, Indonesia tampil sangat disiplin dalam bertahan.
China kesulitan membongkar lini belakang Garuda Muda yang bermain rapat dan terorganisir.
Ma Dexing juga menyoroti kegagalan China memanfaatkan duel udara dan variasi serangan.
"Menghadapi pertahanan Indonesia yang rapat, tim tersebut benar-benar kekurangan pemain andalan di udara dan opsi serangan."
"Mereka berulang kali mengirimkan umpan silang dari sisi sayap, tetapi tidak dapat menemukan titik penerimaan yang di dalam kotak penalti."
Ia bahkan menyebut pola permainan China terlalu monoton karena hanya mengandalkan crossing tanpa kreativitas dari lini tengah.
"Taktik menyerang mereka monoton dan kaku, hanya mengandalkan umpan silang mekanis sepanjang pertandingan, tanpa penetrasi dan koordinasi di lini tengah," ucap Ma Dexing.
Tak hanya itu, kecepatan pengambilan keputusan Bin Ukishima juga menjadi sorotan.
Pergantian pemain dinilai terlambat sehingga momentum pertandingan sulit dibalikkan.
"Dalam hal komando di lokasi, penyesuaian yang dilakukan Bin Ukishima sangat lambat."
"Ketika tim kesulitan menembus pertahanan lawan dan serangan mereka macet, pelatih ragu-ragu untuk melakukan pergantian pemain."
Indonesia kemudian berhasil memanfaatkan celah tersebut lewat serangan balik cepat yang beberapa kali merepotkan lini belakang China.Â
Bahkan Garuda Muda sempat mencetak gol tambahan sebelum dianulir karena handball.
Kritik Ma Dexing semakin tajam karena federasi sepak bola China diketahui mengeluarkan biaya besar untuk mendatangkan pelatih asing demi meningkatkan kualitas sepak bola usia muda mereka.
"Indonesia memanfaatkan kelemahan dalam pertahanan tim nasional China, seringkali menciptakan ancaman melalui serangan balik," ujar Ma Dexing.
"Yang lebih menyedihkan lagi adalah kontras yang mencolok antara pertandingan pemanasan tim nasional junior dan pertandingan resmi mereka."
"Mereka menghabiskan banyak uang untuk mempekerjakan pelatih asing, tetapi gagal mengembangkan gaya bermain yang sesuai dengan kondisi lokal," pungkasnya.
Kemenangan atas China menjadi modal penting bagi Indonesia dalam persaingan Grup B Piala Asia U-17 2026.
Selain menjaga peluang lolos ke babak gugur, hasil tersebut juga memperlihatkan perkembangan signifikan sepak bola usia muda Indonesia di level Asia.
(tsy)
Load more