Bicara Arah Kebijakan Ekonomi RI, Presiden Prabowo Ingin Kesejahteraan Rakyat Meningkat
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden prabowo Subianto menyampaikan arah kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah untuk penyusunan RAPBN 2027 dalam rapat paripurna bersama DPR RI dan DPD RI yang bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.
Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti kondisi geopolitik dan geoekonomi global yang dipenuhi konflik, termasuk perang di Eropa dan Timur Tengah yang dinilai berdampak terhadap perekonomian Indonesia.Â
Menurutnya, APBN bukan sekadar dokumen keuangan negara, melainkan alat perjuangan untuk melindungi rakyat dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Pemerintah menargetkan pendapatan negara pada APBN 2027 berada di kisaran 11,82 hingga 12,40 persen dari produk domestik bruto (PDB).Â
Sementara belanja negara direncanakan mencapai 13,62 hingga 14,80 persen dari PDB untuk mendukung program prioritas nasional.
Defisit APBN 2027 ditargetkan tetap terjaga pada kisaran 1,80 hingga maksimal 2,40 persen PDB. Pemerintah juga menargetkan suku bunga Surat Berharga Negara tenor 10 tahun berada di kisaran 6,5 hingga 7,3 persen.
Untuk nilai tukar rupiah, pemerintah memperkirakan kurs berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Inflasi ditargetkan terkendali pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Di sektor energi, asumsi harga minyak mentah Indonesia diperkirakan berada pada level 70 hingga 95 dolar AS per barel. Target lifting minyak bumi dipatok 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari, sementara lifting gas ditargetkan 934 ribu hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.
Prabowo menyatakan pemerintah optimistis ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027 sebagai bagian dari upaya menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.Â
Pemerintah juga menargetkan angka kemiskinan turun ke rentang 6,0 hingga 6,5 persen serta tingkat pengangguran terbuka menurun menjadi 4,30 hingga 4,87 persen.
Selain itu, pemerintah menargetkan perbaikan rasio gini menjadi 0,362 hingga 0,367 untuk mempersempit kesenjangan ekonomi. Proporsi lapangan kerja formal juga ditargetkan meningkat menjadi 40,81 persen pada 2027 dari sebelumnya 35 persen pada 2026.