Marak Aksi Begal, Aryanto: Polisi Perlu Alat Pelumpuh agar Minim Risiko Salah Tembak
Jakarta, tvOnenews.com - Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi menilai penggunaan istilah tembak di tempat terhadap pelaku begal kerap disalahpahami sebagai tindakan untuk membunuh pelaku di lokasi kejadian.
Menurutnya, penggunaan senjata api oleh polisi sejatinya bertujuan untuk melumpuhkan, bukan menghilangkan nyawa.
Dalam sebuah diskusi televisi, Aryanto menjelaskan polisi dibekali senjata untuk melindungi nyawa masyarakat maupun dirinya sendiri dalam situasi berbahaya.
Ia menegaskan aturan penggunaan senjata api sudah diatur dengan prinsip legalitas, proporsionalitas, dan perlindungan hak asasi manusia.
Aryanto juga mengusulkan agar kepolisian mulai beralih dari senjata api ke alat pelumpuh non-mematikan seperti peluru karet, alat kejut listrik, bius, hingga perangkat penjerat.
Menurutnya, langkah tersebut dapat mengurangi risiko salah tembak maupun jatuhnya korban sipil saat penindakan berlangsung.
Ia mengaku pernah menerapkan penggunaan peluru karet saat menjabat Kapolres Malang untuk mengantisipasi kerusuhan suporter sepak bola.
Sebagian peluru anggota di lapangan disebut diganti dengan peluru berbahan silikon agar tindakan tegas tetap bisa dilakukan tanpa berujung fatal.
Sementara itu, pengamat kriminal Reza Indragiri menyatakan setuju terhadap tindakan tegas berupa tembak di tempat terhadap pelaku begal. Namun, menurutnya efek jera tidak akan tercipta hanya dengan mengandalkan kerasnya hukuman atau tindakan aparat semata.
Ia menilai ada tiga unsur utama agar penindakan kriminal efektif, yakni hukuman yang berat, respons yang cepat, serta penegakan yang konsisten atau ajek. Reza menyoroti aspek konsistensi penanganan kejahatan jalanan yang dinilai masih lemah di lapangan.
Dalam diskusi tersebut, Reza mempertanyakan keberadaan sejumlah tim khusus kepolisian yang sebelumnya pernah dibentuk untuk menangani kejahatan jalanan, seperti tim patroli presisi, tim pemburu begal, hingga satuan penindak pinjaman online ilegal.
Menurutnya, efektivitas tim-tim tersebut belum terlihat nyata di tengah masyarakat. Ia mengaku sempat bertanya kepada warga dalam perjalanan kereta terkait keberadaan patroli polisi di lapangan, namun banyak yang mengaku jarang melihat aktivitas tim khusus tersebut.
Reza menilai penindakan yang tidak berjalan secara konsisten membuat efek jera terhadap pelaku kejahatan sulit tercapai.