7 Pemuda Ditangkap Buntut Tawuran Geng di Magelang Cuma Gara-gara Tantangan dari Instagram?
- Gambar ilustrasi AI
Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam berbagai laporannya mengenai anak yang berhadapan dengan hukum juga mencatat bahwa tawuran masih menjadi salah satu bentuk kenakalan remaja yang berulang.
Faktor pemicunya meliputi solidaritas kelompok, balas dendam, saling ejek di media sosial, hingga keinginan memperoleh pengakuan dari teman sebaya.
Dari sisi psikologi perkembangan, para ahli menjelaskan bahwa remaja berada pada fase pencarian identitas sehingga lebih mudah terpengaruh tekanan kelompok (peer pressure).
Ketika budaya geng, ego kelompok, dan tantangan di media sosial bertemu, risiko terjadinya tawuran meningkat, terlebih jika akses terhadap senjata tajam relatif mudah.
Karena itu, upaya pencegahan tidak cukup mengandalkan penegakan hukum setelah tawuran terjadi. Pengawasan keluarga, pendidikan karakter di sekolah, literasi digital, serta ruang kegiatan positif bagi remaja menjadi faktor penting untuk menekan angka kekerasan antarkelompok.
Kasus tawuran di Magelang menjadi pengingat bahwa satu pesan di media sosial bisa berujung pada proses pidana yang panjang. Di balik aksi yang dianggap sebagai adu gengsi, ada korban yang terluka, masa depan para pelaku yang terancam, dan keresahan masyarakat yang harus ditanggung bersama. (udn)
Load more