34 Tahun Perjuangan Ponpes Assalam, Cetak Santri Berprestasi Dunia dari Pedalaman Kutai Barat
- Istimewa
Kutai Barat, tvOnenews.com – Selama 34 tahun, Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, terus mengembangkan dakwah Islam dan pendidikan bagi masyarakat pedalaman. Berawal dari bangunan kayu sederhana, pesantren yang dipimpin KH Arief Heri Setiawan ini kini menaungi lebih dari 1.200 santri dan melahirkan generasi berprestasi, termasuk yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Perjalanan panjang tersebut tidak hanya berfokus pada pendidikan di lingkungan pesantren. KH Arief juga konsisten menjangkau masyarakat terpencil, termasuk warga mualaf yang membutuhkan pendampingan agama. Untuk melaksanakan dakwah, ia bahkan harus menempuh perjalanan darat dan menyusuri Sungai Mahakam menggunakan perahu ces.
Salah satu wilayah yang menjadi tujuan dakwahnya adalah Kampung Gabung Baru, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat. Di kampung tersebut, sekitar 30 warga mualaf menantikan kehadiran KH Arief untuk mendapatkan bimbingan keagamaan dan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari.
Berawal dari Bangunan Kayu, Kini Membina 1.200 Santri
Perjalanan Ponpes Assalam Arya Kemuning selama lebih dari tiga dekade tidak selalu berjalan mulus. Ketika pertama kali berdiri, pesantren ini hanya menempati bangunan sederhana berbahan kayu dan menampung puluhan santri.
Selain menghadapi keterbatasan fasilitas, KH Arief juga harus berhadapan dengan penolakan terhadap kegiatan dakwah. Bahkan, ia mengaku pernah mengalami intimidasi dari sejumlah pihak yang tidak menyetujui penyebaran syiar Islam.
"Dalam dakwah, semuanya sangat berkesan karena merupakan tantangan dan sebuah kenikmatan rasa syukur. Tantangan menghadapi santri mualaf, keturunan mualaf, hingga binaan warga sekitar kita hadapi dengan kesabaran. Bahkan ada tantangan yang bersifat frontal, di mana kita menghadapi pihak yang tidak sepakat hingga mengintimidasi, pernah mau membunuh, dan diusir oleh oknum. Namun kami yakin pada Allah Ta'ala. Sabar itu artinya maju terus pantang mundur," kata KH Arief, Rabu (14/10/2026).
Berkat perjuangan dan keteguhan tersebut, Ponpes Assalam kini berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam dengan fasilitas yang lebih modern dan sistem pembelajaran berbasis digital. Pesantren ini menggabungkan kurikulum Salafiyah melalui kajian kitab kuning, metode Modern Gontor untuk penguasaan bahasa Arab dan Inggris, serta kurikulum nasional.
Perkembangan pendidikan tersebut turut membuka kesempatan bagi para alumni untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Sejumlah lulusan Ponpes Assalam diketahui melanjutkan pendidikan ke Mesir, Pakistan, Libya, hingga Turki.
Tetap Berdakwah hingga Pelosok Sungai Mahakam
Di tengah perkembangan pesantren, KH Arief tetap memberikan perhatian kepada masyarakat di wilayah terpencil. Untuk mencapai Kampung Gabung Baru, rombongan harus melewati jalur darat yang berdebu sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan perahu ces menyusuri Sungai Mahakam selama hampir dua jam.
Kegiatan dakwah di wilayah tersebut tidak hanya dilakukan melalui ceramah. KH Arief juga mengunjungi rumah-rumah warga untuk memberikan pendampingan secara langsung, termasuk menjenguk dan mendoakan seorang mualaf berusia 65 tahun yang sedang terbaring sakit akibat stroke.
Kehadiran pesantren pun dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. Rendi, salah seorang warga Kampung Gabung Baru, mengatakan KH Arief dan para santri secara rutin membantu warga mempelajari ajaran Islam, mulai dari tata cara salat hingga persoalan keagamaan lainnya.
"Sangat membantu sekali seluruh masyarakat di Kampung Gabung Baru ini. Beliau selalu tidak hentinya membantu kami dari yang awalnya tidak tahu cara shalat sampai masalah keagamaan lainnya. Kalau beliau berhalangan hadir, para santrinya yang datang berdakwah setiap bulan," tutur Rendi.
Menurut Rendi, masyarakat yang sebelumnya kurang memahami agama kini semakin terbuka dan mendukung kegiatan dakwah. Bahkan, warga turut mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada Ponpes Assalam.
Dua anak Rendi sendiri telah menyelesaikan pendidikan di pesantren tersebut dan menjadi alumni. Pengalaman itu menjadi salah satu gambaran kontribusi Ponpes Assalam dalam mendampingi masyarakat melalui pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Santri Berprestasi hingga Kejuaraan Internasional
Selain mengembangkan pendidikan agama, Ponpes Assalam Arya Kemuning juga mendorong prestasi santri di bidang akademik dan olahraga. Para santri berhasil meraih Juara 1 Bidang Studi Geografi Terintegrasi tingkat kabupaten serta Juara 2 Matematika Terintegrasi tingkat provinsi.
Pesantren ini juga aktif mendorong perkembangan olahraga panahan dan kepramukaan di Kutai Barat. Salah satu santriwati yang menorehkan prestasi di tingkat internasional adalah Dyvana Aprielian Putri.
Dyvana tampil dalam ajang ASCI Open 3 International Archery Championship 2026. Dalam kompetisi tersebut, ia berhadapan dengan atlet dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, dan Singapura.
Dyvana mengungkapkan bahwa kerja keras, latihan rutin, serta dukungan dari orang tua dan pihak pesantren menjadi bagian penting dalam persiapannya menghadapi kejuaraan tersebut.
"Prinsip saya, kalau mau jadi juara harus berlatih sekeras mungkin. Waktu ikut kejuaraan internasional, saya masih atlet baru, namun langsung didukung oleh pesantren dan orang tua. Fasilitas ekstrakurikuler panahan di Ponpes sangat memadai dan dilatih oleh pelatih berprestasi. Untuk persiapannya, kami menjalani pemusatan latihan (TC) selama 2 hingga 3 bulan dengan latihan fisik rutin serta menembak," ujar Dyvana penuh semangat.
Pencapaian Dyvana memperlihatkan bahwa santri dari daerah pedalaman juga memiliki kesempatan untuk bersaing dalam kompetisi internasional. Dukungan fasilitas, pembinaan, dan latihan yang terarah menjadi faktor penting dalam mengembangkan kemampuan santri di luar kegiatan akademik.
Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan di pesantren dapat berjalan beriringan dengan pengembangan bakat dan minat. Santri tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengasah kemampuan di berbagai bidang.
Menyiapkan Kemandirian dan Perguruan Tinggi Islam
Memasuki usia ke-34 tahun, Ponpes Assalam Arya Kemuning mulai mempersiapkan berbagai langkah pengembangan untuk masa depan. KH Arief menekankan pentingnya membangun kemandirian agar keberlangsungan pendidikan dan dakwah tetap terjaga meskipun generasi perintis tidak lagi memimpin pesantren.
Saat ini, sejumlah pengajar dan alumni Assalam telah menempuh pendidikan hingga jenjang magister atau S2 dan bersiap melanjutkan studi doktoral atau S3. Pesantren juga tengah mematangkan rencana pendirian perguruan tinggi Islam di wilayah tersebut.
Rencana itu diharapkan dapat memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat setempat sekaligus memperkuat peran pesantren dalam mencetak sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak.
"Harapan besar kami adalah menanamkan ruh, kail, dan biji dakwah pada para santri. Kami siap mendirikan perguruan tinggi ke depan. Harapannya, ketika para perintis dan pendiri sudah tiada, pesantren ini tetap mandiri, jauh lebih maju di segala bidang, dan tetap solid untuk generasi penerus," tutup KH Arief.
Selama 34 tahun perjalanan, Ponpes Assalam Arya Kemuning telah berkembang dari bangunan kayu sederhana menjadi lembaga pendidikan Islam yang menaungi lebih dari 1.200 santri. Kiprahnya dalam membina mualaf, mendidik generasi muda, dan mendukung prestasi santri di tingkat internasional menjadi bagian dari perjalanan dakwah di pedalaman Kutai Barat.
Dari pelosok Sungai Mahakam hingga arena kejuaraan internasional, Ponpes Assalam terus berupaya membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang bagi santri untuk meraih prestasi dan berkontribusi bagi masyarakat.
(anf)
Load more