Jelang Pesta Olah Raga se-Banten, Tangsel Kebut Tuntaskan Persiapan Porprov VII 2026
- Antara
tvOnenews.com - Selama dua hari pada awal September, sejumlah orang bergerak dari satu arena ke arena lainnya di Tangerang Selatan. Lapangan diperiksa. Ukuran arena dicermati. Pencahayaan, ruang ganti, sirkulasi penonton dan fasilitas pendukung masuk dalam daftar pemeriksaan.
Tim Panitia Pengawas dan Pengarah KONI Banten bersama Panitia Besar Porprov VII tengah melakukan pekerjaan di belakang layer, tidak terlihat oleh sebagian besar penonton ketika pertandingan akhirnya berlangsung nanti: memastikan sebuah tempat benar-benar layak menjadi arena kompetisi. Visitasi tersebut mencakup kebutuhan sekitar 60 cabang olahraga.
Hingga saat ini panitia sedang dan telah turun ke lapangan melakukan pengecekan hingga memastikan arena pertandingan dan Pamulang, Serpong, Setu, Ciputat dan Pondok Aren. Beberapa cabang memerlukan fasilitas yang berada di luar batas administratif Tangerang Selatan karena karakter dan standar arena yang dibutuhkan.
Di sinilah tantangan menjadi tuan rumah mulai terlihat. Satu stadion tidak mungkin menampung seluruh pertandingan.
Ketika Satu Stadion Tak Cukup Tampung Puluhan Cabor
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, yang memimpin Panitia Besar Porprov VII Banten, mengatakan panitia sejak awal membuka kemungkinan menggunakan fasilitas di luar aset pemerintah kota.
“Dalam menentukan venue, PB Porprov bersifat sangat terbuka,” kata Pilar.
Fasilitas pemerintah, kampus, perusahaan, instansi lain hingga arena milik swasta ikut dipetakan sepanjang memenuhi kebutuhan pertandingan. Pilihan tersebut bukan semata strategi menambah jumlah arena. Setiap cabang olahraga mempunyai persyaratan berbeda. Karena itu, menemukan sebuah lapangan belum berarti pekerjaan selesai. Kelayakan, dimensi, fasilitas pendukung hingga aspek keselamatan harus terlebih dahulu diperiksa.
Pilar mengatakan proses visitasi bersama KONI Provinsi Banten digunakan untuk melihat kesesuaian tersebut. Sebagian besar pilihan venue telah semakin mengerucut, meski ketika wawancara dilakukan masih terdapat cabang yang mempunyai beberapa alternatif lokasi sebelum keputusan final ditetapkan. Dengan kata lain, Tangsel sekarang berada pada fase yang paling tidak glamor, tetapi justru menentukan: menyelesaikan rincian.
Dari Hotel Hingga Jalan Raya
Masalah kemudian berpindah dari arena ke tempat para atlet dan ofisial beristirahat. Hotel-hotel di Tangerang Selatan mulai dipetakan. Panitia juga membangun komunikasi dengan pelaku perhotelan untuk memudahkan kebutuhan akomodasi kontingen maupun orang-orang yang datang menyaksikan Porprov.
Bagi Pilar, kebutuhan tersebut tidak berhenti pada atlet. Pendukung dan masyarakat dari luar Tangerang Selatan yang hendak menyaksikan pertandingan juga membutuhkan informasi mengenai pilihan penginapan, lokasi arena dan berbagai fasilitas pendukung. Setelah akomodasi, persoalan berikutnya adalah perjalanan.
Kontingen harus bergerak dari tempat menginap menuju venue. Penonton harus dapat mencapai arena. Pada saat yang sama, kehidupan warga Tangerang Selatan tetap berlangsung seperti biasa. Orang tetap pergi bekerja. Anak-anak tetap menuju sekolah. Aktivitas perdagangan tidak berhenti hanya karena sebuah pertandingan sedang berlangsung. Karena itu, Pilar meminta persoalan lalu lintas ikut dihitung dalam persiapan.
Analisis dampak lalu lintas diperlukan terutama pada pertandingan atau lokasi yang diperkirakan menarik banyak penonton.
“Jangan sampai nanti mengganggu aktivitas orang-orang yang berangkat bekerja atau sekolah,” kata Pilar.
Di kota dengan mobilitas harian yang tinggi seperti Tangerang Selatan, pekerjaan tersebut menjadi salah satu ujian tuan rumah. Pertandingan mungkin hanya berlangsung satu atau dua jam. Arus kendaraan dapat terasa jauh sebelum pertandingan dimulai dan sesudah penonton meninggalkan arena.
Membaca Risiko Sebelum Hari H Pertandingan
Hal serupa terjadi pada keamanan. Pilar meminta panitia tidak memperlakukan seluruh cabang olahraga dengan pola pengamanan yang sama. Setiap pertandingan mempunyai karakter risiko berbeda. Sepak bola, misalnya, dapat menghadirkan penonton dalam jumlah besar dan dinamika pendukung yang berbeda dengan cabang olahraga lain. Namun, menurut Pilar, bukan berarti cabang yang terlihat lebih tenang tidak memerlukan pengamanan.(chm)
“Bukan berarti cabang olahraga yang terlihat sederhana tidak butuh pengamanan,” katanya.
Pendekatannya adalah mitigasi risiko. Panitia menghitung kebutuhan personel keamanan, kemungkinan kerumunan, kebutuhan tim medis dan berbagai situasi yang mungkin muncul di masing-masing arena.
Koordinasi dilakukan dengan TNI dan Polri. Dari sisi kesehatan, fasilitas milik pemerintah maupun swasta ikut masuk dalam perencanaan layanan. Cabang olahraga dengan kontak fisik tinggi, misalnya, dapat membutuhkan kesiapan medis berbeda dibandingkan cabang lainnya.(chm)
Load more