Bukan Cuma Jualan Online, Simak Strategi dan Cara Cerdas Maksimalkan Bisnis UMKM dengan AI
- Antara/Istimewa
tvOnenews.com - Transformasi digital UMKM tak lagi berhenti di sekadar membuka toko di marketplace. Kini, pelaku usaha mikro mulai dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana memaksimalkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional harian.
Di era persaingan yang semakin ketat, kecepatan dan akurasi dalam mengambil keputusan bisnis menjadi kunci bertahan.
Di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan, UMKM telah lebih dulu mengadopsi AI untuk mengelola inventaris, memprediksi tren pasar, hingga mengotomatisasi layanan pelanggan.
Data dari McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa adopsi AI dapat meningkatkan produktivitas bisnis kecil hingga 20–30 persen. Ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi menuju AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Di Indonesia, langkah menuju pemanfaatan AI mulai terlihat. Setelah bertahun-tahun fokus pada digitalisasi melalui marketplace, kini pelaku UMKM mulai beralih ke tahap berikutnya: integrasi AI untuk mendukung pengambilan keputusan, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.
Perubahan ini menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing usaha mikro di tengah ekonomi digital.
Dari Marketplace ke AI: Evolusi Digital UMKM
Banyak UMKM di Indonesia sudah masuk ke ekosistem marketplace, namun belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi untuk efisiensi operasional.
Tantangan utama bukan lagi soal akses pasar, melainkan bagaimana mengelola bisnis secara cerdas dan berbasis data.
Melansir dari Antara, program kolaboratif yang digagas Kementerian UMKM, Pemerintah Kota Surakarta, dan BENAR Foundation menjadi salah satu contoh nyata upaya menjembatani kesenjangan ini.
Melalui workshop di PLUT Surakarta, sebanyak 100 UMKM mendapatkan akses gratis ke teknologi AI untuk membantu berbagai aspek bisnis.
“Banyak UMKM sebenarnya tidak kekurangan semangat, tetapi kekurangan akses terhadap alat yang bisa membuat mereka bekerja lebih cepat dan mengambil keputusan lebih baik,” ujar Ari Anindya Hartika, Asisten Deputi Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM.
Pendekatan ini menekankan bahwa AI bukan hanya milik perusahaan besar, tetapi juga dapat diakses oleh pelaku usaha mikro dengan pendekatan yang lebih sederhana dan praktis.
Tiga Fungsi AI yang Mengubah Cara UMKM Berbisnis
Dalam implementasinya, AI dapat membantu UMKM dalam tiga aspek utama yang sangat krusial untuk operasional harian.
Pertama, pengelolaan keuangan dan pembukuan. Dengan bantuan AI, proses pencatatan transaksi dapat dilakukan secara otomatis dan real-time.
Ini memungkinkan pelaku usaha memahami arus kas tanpa harus memiliki latar belakang akuntansi.
Kedua, analisis pasar dan strategi bisnis. AI mampu membaca tren konsumen dan memberikan rekomendasi berbasis data.
Di negara seperti Jepang, UMKM ritel menggunakan AI untuk memprediksi produk yang akan laris berdasarkan musim dan perilaku pelanggan.
Ketiga, branding dan pemasaran. AI dapat membantu membuat konten promosi secara cepat dan efisien, mulai dari desain visual hingga copywriting. Ini menjadi solusi bagi UMKM yang tidak memiliki sumber daya untuk menyewa agensi kreatif.
Melalui pendekatan ini, UMKM tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu bersaing dengan bisnis skala lebih besar.
Program di Surakarta menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong adopsi AI. Kementerian UMKM menyediakan kerangka kebijakan, pemerintah daerah membuka akses komunitas, sementara organisasi seperti BENAR Foundation memastikan pendampingan berjalan efektif.
“Kami tidak hanya ingin memberi bantuan, tetapi juga memastikan bahwa setiap peserta bisa mengimplementasikan apa yang mereka pelajari,” ujar Arif Wicaksono dari BENAR Foundation.
Namun, tantangan tetap ada. Tingkat literasi digital yang beragam, keterbatasan infrastruktur, serta resistensi terhadap teknologi menjadi hambatan yang harus diatasi.
Dibutuhkan pendekatan berkelanjutan agar adopsi AI tidak hanya berhenti di pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam operasional sehari-hari.
Jika dibandingkan dengan negara maju, Indonesia masih berada di tahap awal. Namun, dengan jumlah UMKM yang mencapai lebih dari 60 juta unit, potensi dampak dari adopsi AI sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Transformasi dari marketplace ke AI adalah lompatan besar bagi UMKM. Bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir dalam menjalankan bisnis.
Dengan memanfaatkan AI, pelaku usaha dapat menghemat waktu, meningkatkan efisiensi, dan membuat keputusan yang lebih tepat. Ini menjadi kunci untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin kompleks.
Ke depan, UMKM yang mampu beradaptasi dengan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Sementara itu, mereka yang tertinggal berisiko kehilangan daya saing di pasar digital.
Langkah yang dimulai dari program seperti di Surakarta menjadi sinyal positif bahwa transformasi ini sedang berlangsung. Kini, tantangannya adalah memastikan bahwa semakin banyak UMKM yang tidak hanya masuk ke dunia digital, tetapi juga mampu memaksimalkannya dengan kecerdasan buatan. (udn)
Load more