Viral Atlet Silat Kejang Usai Dibanting di Porprov Jateng, Mengapa Penanganan Medis Jadi Sorotan?
- Tangkapan layar instagram beritasemaranghariini
"Dalam pertandingan tersebut juga ada dokter pertandingan. Jadi pada setiap pertandingan yang mempunyai risiko body contact memang di situ nanti yang memutuskan adalah dokter pertandingan. Kami tim medis hanya melaksanakan tugas setelah diberikan sinyal oleh teman-teman dokter pertandingan," jelasnya.
Mengapa Kejang Setelah Benturan Kepala Tidak Boleh Diabaikan?
Dalam olahraga dengan kontak fisik, benturan kepala dapat menimbulkan cedera yang tingkat keparahannya tidak selalu terlihat dari luar. Kejang setelah benturan merupakan gejala yang memerlukan evaluasi medis segera.
Kondisi seseorang tidak cukup dinilai hanya dari kesadaran sesaat atau penampilan fisiknya setelah kejadian.
Pertolongan awal perlu mengutamakan keselamatan atlet, termasuk memastikan lingkungan sekitar aman, tidak menahan gerakan kejang secara paksa, dan tidak memasukkan benda ke mulut.
Atlet juga tidak seharusnya langsung dibangunkan untuk melanjutkan pertandingan. Penilaian tenaga medis diperlukan untuk menentukan pemeriksaan dan pemantauan berikutnya.
- Tangkapan layar instagram beritasemaranghariini
Dalam kasus Kukuh, Sujarwanto mengatakan atlet tersebut dibawa ke Rumah Sakit Primaya untuk mendapatkan perawatan. Ia juga menjenguk Kukuh pada Rabu (28/10/2026).
"Atlet tersebut dalam perawatan di Rumah Sakit Primaya. Saat kemarin saya besuk, kondisi sudah sehat dan kami meminta tetap diobservasi," ucapnya.
Sujarwanto kemudian menyampaikan bahwa Kukuh telah diizinkan pulang pada Kamis siang (29/10/2026).
"Siang ini sudah diizinkan pulang dari RS," pungkasnya.
Perkembangan kondisi Kukuh menjadi kabar penting setelah video insiden tersebut menyebar luas. Namun, kepulangannya dari rumah sakit tidak menghapus pentingnya evaluasi terhadap prosedur keselamatan dalam pertandingan.
Insiden ini memperlihatkan bahwa keselamatan atlet bukan hanya bergantung pada aturan teknis pertandingan, tetapi juga pada koordinasi antara wasit, dokter pertandingan, dan tim medis. Ketika muncul tanda yang berpotensi mengancam keselamatan, penilaian medis harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah selanjutnya.
Penjelasan KONI dan tim kesehatan memberikan gambaran mengenai prosedur yang diterapkan serta kondisi Kukuh setelah kejadian.
Sementara itu, pertanyaan publik tentang respons di arena menegaskan pentingnya memastikan setiap pihak memahami kewenangan dan protokol darurat. Dalam olahraga kontak fisik, kemenangan dan kelancaran kompetisi tetap harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan atlet. (udn)
Load more