Kisah Petugas Haji Dorong 25 Jemaah Lansia dan Risti Jalani Tawaf Ifadah dan Sa’i
- tvOne - sandi irwanto
Surabaya, tvOnenews.com – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terus memberikan pendampingan kepada para jemaah, terutama kelompok lanjut usia (lansia) dan jemaah risiko tinggi (risti), guna memastikan seluruh rangkaian ibadah dapat terlaksana dengan aman dan lancar. Pengaturan arus jemaah serta layanan kesehatan juga disiagakan untuk mengantisipasi kepadatan di area Masjidil Haram.
Salah seorang jemaah mengungkapkan rasa syukur karena dapat menyelesaikan tawaf ifadah dan sa'i dengan baik. Menurutnya, momen tersebut menjadi pengalaman spiritual yang sangat berkesan setelah melalui perjalanan panjang dan berbagai tahapan ibadah haji.
Rangkaian tawaf ifadah dan sa'i merupakan rukun haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jemaah dan tidak dapat ditinggalkan. Namun, pelaksanaan kedua ibadah ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi jemaah lansia dan risti yang memiliki penyakit kronis, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, maupun gangguan pernapasan.
Tawaf ifadah mengharuskan jemaah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran di tengah padatnya arus manusia, sementara sa'i dilakukan dengan menempuh perjalanan antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, yang membutuhkan stamina dan kondisi fisik yang memadai.
Meskipun menghadapi keterbatasan fisik, para jemaah lansia dan risti tetap berupaya menunaikan rukun haji tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Dukungan petugas haji, tenaga kesehatan, serta pendamping menjadi faktor penting dalam membantu mereka menyelesaikan ibadah dengan aman dan nyaman. Tidak sedikit jemaah yang harus menggunakan kursi roda atau mendapatkan pengawasan kesehatan secara intensif selama pelaksanaan tawaf ifadah dan sa'i.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan rukun haji tidak hanya menjadi ujian spiritual, tetapi juga ujian fisik yang membutuhkan kesiapan, pendampingan, dan pelayanan yang optimal bagi jemaah dengan kondisi khusus.
Kondisi tersebut secara langsung dijelaskan oleh petugas PPIH Pusat, Bobby Rachman Santoso dari UIN SATU Tulungagung, yang dengan ikhlas membantu dan mendorong 25 jemaah haji untuk melaksanakan tawaf ifadah dan sa'i secara sukarela dan gratis.
"Membantu jemaah lansia dan risti dalam melaksanakan ibadah haji adalah tugas kami di Tim Lansia dan Disabilitas. Mulai dari kedatangan, kami sambut dengan antusias, mengawal umrah wajib sampai Terminal Syib Amir, pelaksanaan Armuzna melalui program Safari Wukuf, lempar jumrah, hingga tawaf ifadah dan sa'i," ujar Bobby.
"Bahkan kami selalu berseragam sejak kedatangan hingga Arafah. Ini bukti komitmen kami dalam mengabdi. Kami Tim Landis Sektor 3 berkomitmen memberikan pelayanan prima, totalitas, dan tanggung jawab agar jemaah haji khusyuk dalam beribadah," imbuh Bobby.
Menurut Bobby, tindakan yang dilakukannya secara ikhlas diharapkan dapat menjadi amal jariyah bagi dirinya.
"Untuk tawaf ifadah itu memang jariyah dari saya sendiri. Sebisa mungkin, sebanyak mungkin, semaksimal mungkin kami mendorong sendiri jemaah haji. Saya tidak mau menerima uang dari jemaah, saya hanya menginginkan doa mereka untuk saya dan keluarga. Adapun yang saya bantu yaitu jemaah haji yang lansia dan mengidap penyakit kronis, seperti tumor lambung, gangguan sendi tulang kaki, dan lain-lain. Itu pun harus melalui persetujuan dokter," ujarnya.
Pelayanan prima yang diberikan oleh PPIH Pusat, seperti yang dilakukan Bobby, menuai banyak pujian dari jemaah haji tahun ini. Hal tersebut tidak hanya membangun citra baik secara personal, tetapi juga menunjukkan keberhasilan Kementerian Agama dalam mempersiapkan petugas PPIH untuk memberikan pelayanan kepada jemaah haji tahun 2026.
Kepuasan pelayanan tersebut disampaikan oleh Hj. Salkiah, jemaah haji Kloter 13 asal Lombok.
"Petugas haji tahun ini benar-benar berkhidmat dan memberikan pelayanan total untuk jemaah haji. Saya melihat langsung dari Petugas Bobby yang mendampingi saya dan tidak mau diberi uang saku. Dia hanya meminta doa supaya diampuni dosa-dosanya," ungkap Hj. Salkiah.
Loyalitas petugas PPIH terhadap jemaah haji tahun 2026 tidak hanya dirasakan oleh Hj. Salkiah, tetapi juga oleh Mbah Kanah, jemaah asal Surabaya.
"Saya yang sudah tua ini, alhamdulillah Allah memanggil saya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sebelum berangkat saya ragu, mampukah fisik saya diajak berjuang. Namun akhirnya, berkat Allah dan bantuan Mas Bobby, saya merasa lega karena ada yang mendampingi. Akhirnya terkabul semua angan-angan saya, dapat melaksanakan rukun, wajib, dan sunah haji," papar Mbah Kanah.
"Perjuangan beliau patut diacungi jempol, menolong tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan apa pun," imbuhnya.
Sementara itu, seorang jemaah disabilitas juga mengaku sangat terbantu dengan pendampingan yang diberikan petugas haji.
"Alhamdulillah berkat jasa petugas haji yang membantu, saya dapat melaksanakan rukun, wajib, dan sunah haji. Saya merasa sangat tertolong atas keterbatasan kaki saya karena keduanya mengalami pengapuran. Petugas haji sangat tulus mendorong saya, ibarat anak kepada orang tua. Beliau tidak mengharap dan tidak mau menerima imbalan apa pun," tuturnya.
"Semoga seluruh jerih payah dan keikhlasan hati para petugas PPIH tidak hanya membawa keberkahan di dunia, tetapi juga menjadi amal baik yang akan menolong mereka kelak di hari akhir," pungkasnya. (msi/gol)
Load more