Gus Salam: Muktamar NU Harus Jadi Ruang Rekonsiliasi, Bukan Menajamkan Konflik
- tvOne - Rohmadi
Jombang, tvOnenews.com — Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, menyerukan agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum rekonsiliasi dan pemulihan marwah organisasi.
Menurut Gus Salam dinamika yang terjadi selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU telah memasuki titik yang mengkhawatirkan bagi keberlangsungan jam’iyyah. Ia menilai ketegangan yang muncul justru membuat sebagian peserta mengalami kelelahan secara fisik maupun mental.
“Muktamar media rekonsiliasi bukan menajamkan konflik ber-jam’iyyah,” ujar Gus Salam saat ditemui dikendiamannya, Sabtu (29/8).
Gus Salam mengatakan para muktamirin yang datang dari PWNU dan PCNU se-Indonesia hingga PCINU luar negeri semestinya dapat mengikuti proses musyawarah dalam suasana aman, nyaman, dan penuh semangat. Namun, menurut dia, dinamika konflik yang terjadi di arena Muktamar justru membuat peserta merasa lelah dan kehabisan energi.
Ia juga menyoroti dugaan adanya intimidasi struktural yang dilakukan dengan mengatasnamakan kekuasaan PBNU, kepanitiaan maupun pejabat negara. Menurutnya, persoalan tersebut berpotensi mengganggu hak, kedaulatan, serta kemandirian PWNU, PCNU, dan PCINU.
Gus Salam juga mengkritik praktik karantina peserta yang disertai dugaan politik uang. Menurut dia kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan luka dalam proses bermuktamar tetapi juga dapat meninggalkan beban psikologis bagi warga NU.
“Tekanan prosedur kepesertaan, persidangan hingga protokol keputusan menguras emosi dan energi kesatuan serta persaudaraan dalam jam’iyyah,” katanya.
Gus Salam menyebut keprihatinan terhadap dinamika Muktamar tidak hanya dirasakan oleh para masyayikh sepuh NU dan kalangan pesantren. Namun, sejumlah kader, simpatisan, warga NU, hingga orang-orang yang berada di lingkungan PBNU dan kepanitiaan juga turut merasakan persoalan tersebut.
Ia berharap sejarah praktik bermuktamar yang dinilai penuh konflik dapat diakhiri. Para peserta Muktamar diminta diberikan ruang yang luas untuk menjalankan proses musyawarah secara bebas, aman, nyaman, dan bermartabat.
Gus Salam juga mengajak seluruh peserta menggunakan hati nurani dan nalar kritis dalam menentukan pilihan serta merumuskan arah perjalanan NU ke depan.
“Biarkan peserta muktamar bertindak dengan nuraninya. Bersikap dengan nalar kritisnya; mengeksplorasi cara berpikir berbasis paham Aswaja yang membangkitkan jiwa khidmah berjam’iyyah dan bernegara,” tuturnya. (roi/ias)
Load more