Songket Asli Banyuasin Tergerus Zaman, Pengrajin Desa Merah Mato Kesulitan Pemasaran
- tim tvOne/Andi Salani
Banyuasin, tvOnenews.com - Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Merah Mato, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, masih bertahan menjaga warisan budaya lokal berupa songket asli Banyuasin. Kain tradisional sarat makna ini telah diwariskan secara turun-temurun, namun kini keberadaannya kian terpinggirkan oleh perkembangan zaman.
Desa Merah Mato dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan songket asli Banyuasin. Kerajinan tenun tradisional ini bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga menjadi identitas budaya masyarakat setempat yang telah hidup selama puluhan tahun.
Hampir setengah dari jumlah warga desa menekuni usaha pembuatan songket. Dengan menggunakan alat tenun tradisional, para pengrajin merangkai benang demi benang menjadi kain songket bermotif khas Banyuasin, yang selama ini digunakan dalam berbagai upacara adat dan kegiatan budaya.
Namun seiring perkembangan zaman, para pengrajin dihadapkan pada tantangan berat. Minimnya minat pasar, mahalnya bahan baku berkualitas, serta sulitnya akses pemasaran membuat songket asli Banyuasin semakin terdesak.
“Kami kesulitan memasarkan songket. Selama ini hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke desa atau pesanan tertentu saja. Untuk masuk ke pasar yang lebih luas, kami belum punya akses dan sarana,” ujar Kartika, pengrajin songket Desa Merah Mato, Senin (2/2/2026).
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan pengrajin sekaligus mengancam keberlanjutan warisan budaya daerah. Banyak pengrajin yang terpaksa mengurangi produksi karena hasil tenun sulit terjual.
Hal senada disampaikan Wahid, Ketua RT 07 Desa Merah Mato. Ia menilai pemasaran menjadi persoalan utama yang harus segera dicarikan solusi.
“Kalau soal keterampilan, warga di sini sudah ahli. Yang jadi masalah justru pemasaran. Tanpa bantuan promosi dan tempat penjualan yang layak, songket ini sulit bersaing,” kata Wahid.
Para pengrajin berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah dan pihak terkait, tidak hanya dalam bentuk pembinaan, tetapi juga fasilitasi pemasaran, penyediaan galeri kerajinan, hingga promosi digital agar songket asli Banyuasin bisa dikenal lebih luas.
Tanpa upaya nyata dan berkelanjutan, songket asli Banyuasin yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat dikhawatirkan akan perlahan menghilang, tergerus oleh zaman. (Asi/wna)
Load more